Minggu, 14 April 2013

Kompetensi Dasar IPS SMP/MTs 2013



KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR
ILMU PENGETAHUAN SOSIAL (IPS)
SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)/MADRASAH TSANAWIYAH (MTs)
KURIKULUM 2013

KELAS VII
KOMPETENSI INTI
KOMPETENSI DASAR
1.   Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya
1.1.   Menghargai karunia Tuhan YME yang telah menciptakan waktu dengan segala perubahannya.
1.2.   Menghargai ajaran agama dalam berfikir dan berperilaku sebagai penduduk Indonesia dengan mempertimbangkan kelembagaan sosial, budaya, ekonomi dan politik dalam masyarakat
1.3.   Menghargai karunia Tuhan YME yang telah menciptakan manusia dan lingkungannya.
2.   Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya.
2.1.   Meniru perilaku jujur, disiplin bertanggung jawab, peduli, santun dan percaya diri sebagaimana ditunjukkan oleh tokoh-tokoh pada masa Hindu Buddha dan Islam dalam kehidupannya sekarang
2.2.   Menunjukkan perilaku rasa ingin tahu, peduli, menghargai, dan bertanggungjawab terhadap kelembagaan sosial, budaya, ekonomi dan politik.
2.3.   Menunjukkan perilaku santun, toleran dan peduli dalam melakukan interaksi sosial dengan lingkungan dan teman sebaya.
3.   Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata.
3.1.   Memahami aspek keruangan dan konektivitas antar ruang dan waktu dalam lingkup regional serta perubahan dan keberlanjutan kehidupan manusia (ekonomi, sosial, budaya, pendidikan dan politik).
3.2.   Memahami perubahan masyarakat Indonesia pada masa praaksara, masa Hindu-Buddha dan masa Islam dalam aspek geografis, ekonomi, budaya, pendidikan dan politik.
3.3.   Memahami jenis-jenis kelembagaan sosial, budaya, ekonomi dan politik dalam masyarakat.
3.4.   Memahami pengertian dinamika interaksi manusia dengan lingkungan alam, sosial, budaya, dan ekonomi.
4.   Mencoba, mengolah, dan menyaji dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori.
4.1.   Menyajikan hasil pengamatan tentang hasil-hasil kebudayaan dan fikiran masyarakat Indonesia pada masa praaksara, masa Hindu-Buddha dan masa Islam dalam aspek geografis, ekonomi, budaya dan politik yang masih hidup dalam masyarakat sekarang.
4.2.   Menghasilkan gagasan kreatif untuk memahami jenis-jenis kelembagaan sosial, budaya, ekonomi dan politik di lingkungan masyarakat sekitar.
4.3.   Mengobservasi dan menyajikan bentuk-bentuk dinamika interaksi manusia dengan lingkungan alam, sosial, budaya, dan ekonomi di lingkungan masyarakat sekitar.

Kelas VIII
KOMPETENSI INTI
KOMPETENSI DASAR
1.   Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya.
1.1.   Menghayati karunia Tuhan YME yang telah menciptakan waktu dengan segala perubahannya.
1.2.   Menghayati ajaran agama dalam berfikir dan berperilaku sebagai penduduk Indonesia dengan mempertimbangkan kelembagaan sosial, budaya, ekonomi dan politik dalam masyarakat.
1.3.   Menghayati karunia Tuhan YME yang telah menciptakan manusia dan lingkungannya.
2.   Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya.
2.1.   Menunjukkan perilaku bijaksana dan bertanggungjawab, peduli, santun dan percaya diri sebagaimana ditunjukkan oleh tokoh-tokoh pada masa penjajahan dan gerakan kebangsaan dalam menumbuhkan rasa kebangsaan.
2.2.   Berperilaku jujur, sopan, estetika dan memiliki motivasi internal ketika berhubungan dengan lembaga sosial, budaya, ekonomi dan politik.
2.3.   Menunjukkan perilaku peduli, gotong royong, tanggungjawab dalam berpartisipasi penanggulangan permasalahan lingkungan hidup.
3.   Memahami dan menerapkan pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata.
3.1.   Memahami aspek keruangan dan konektivitas antar ruang dan waktu dalam lingkup nasional serta perubahan dan keberlanjutan kehidupan manusia (ekonomi, sosial, budaya, pendidikan dan politik).
3.2.    Mendeskripsikan perubahan masyarakat Indonesia pada masa penjajahan dan tumbuhnya semangat kebangsaan serta perubahan dalam aspek geografis, ekonomi, budaya, pendidikan dan politik.
3.3.   Mendeskripsikan fungsi dan peran kelembagaan sosial, budaya, ekonomi dan politik dalam masyarakat.
3.4.   Mendeskripsikan bentuk-bentuk dan sifat dinamika interaksi manusia dengan lingkungan alam, sosial, budaya, dan ekonomi.
4.   Mengolah, menyaji, dan menalar dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori.
4.1.   Menyajikan hasil olahan telaah tentang peninggalan kebudayaan dan fikiran masyarakat Indonesia pada masa penjajahan dan tumbuhnya semangat kebangsaan dalam aspek geografis, ekonomi, budaya, pendidikan dan politik. yang ada di lingkungan sekitarnya.
4.2.   Menggunakan berbagai strategi untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan fungsi peran kelembagaan sosial, budaya, ekonomi dan politik di lingkungan masyarakat sekitar.
4.3.   Menyajikan hasil pengamatan tentang bentuk-bentuk dan sifat dinamika interaksi manusia dengan lingkungan alam, sosial, budaya, dan ekonomi di lingkungan masyarakat sekitar.

Kelas IX
KOMPETENSI INTI
KOMPETENSI DASAR
1.   Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya.
1.1.   Mensyukuri karunia Tuhan YME yang telah memberikan kesempatan kepada bangsa Indonesia untuk melakukan perubahan dalam aspek geografis, ekonomi, budaya dan politik.
1.2.   Mensyukuri adanya kelembagaan sosial, budaya, ekonomi dan politik dalam masyarakat yang mengatur kehidupan manusia dalam berfikir dan berperilaku sebagai penduduk Indonesia.
1.3.   Mensyukuri karunia dan rahmat Tuhan YME yang telah menciptakan manusia dan lingkungannya
2.   Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya.
2.1.   Menunjukkan perilaku cinta tanah air dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sebagai perwujudan rasa nasionalisme.
2.2.   Memiliki kepedulian dan penghargaan terhadap lembaga sosial, budaya, ekonomi dan politik.
2.3.   Memiliki rasa tanggungjawab, peduli, percaya diri dalam mengembangkan pola hidup sehat, kelestarian lingkungan fisik, budaya, dan peninggalan berharga di masyarakat.
3.   Memahami dan menerapkan pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata.
3.1.   Menerapkan aspek keruangan dan konektivitas antar ruang dan waktu dalam mewujudkan kesatuan wilayah Nusantara yang mencakup perubahan dan keberlanjutan kehidupan manusia (ekonomi, sosial, budaya, pendidikan dan politik).
3.2.   Menelaah perubahan masyarakat Indonesia dari masa pergerakan kemerdekaan sampai dengan awal reformasi dalam aspek geografis, ekonomi, budaya, pendidikan dan politik dalam wawasan kebangsaan.
3.3.   Membandingkan manfaat kelembagaan sosial, budaya, ekonomi dan politik dalam masyarakat bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.
3.4.   Membandingkan landasan dari dinamika interaksi manusia dengan lingkungan alam, sosial, budaya, dan ekonomi.
4.   Mengolah, menyaji, dan menalar dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori.
4.1.   Menyajikan hasil olahan telaah tentang hasil-hasil kebudayaan dan fikiran masyarakat Indonesia pada masa pergerakan kemerdekaan sampai sekarang dalam aspek geografis, ekonomi, budaya dan politik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
4.2.   Merumuskan alternatif tindakan nyata dalam mengatasi masalah yang kelembagaan sosial, budaya, ekonomi dan politik dalam kehidupan berbangsa den bernegara.
4.3.   Merumuskan alternatif tindakan nyata dan melaksanakannya sebagai bentuk partisipasi dalam mengatasi masalah lingkungan alam, sosial, budaya, dan ekonomi sebagai akibat adanya dinamika interaksi manusia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.




Mugia aya manfaatna.

Senin, 08 April 2013

Hari Budaya


Kebudayaan lokal Indonesia yang sangat beranekaragam serta memiliki keunikan tersendiri, menjadi suatu kebanggaan sekaligus tantangan untuk mempertahankan serta mewariskan kepada generasi selanjutnya. Banyak faktor yang menyebabkan budaya lokal “dilupakan” dimasa sekarang ini, misalnya masuknya budaya asing yang mungkin dinilai lebih praktis dan gaul.
Faktor lain yang menjadi masalah adalah kurangnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya peranan budaya lokal sebagai identitas bangsa. Sebagai identitas bangsa, budaya lokal harus terus dijaga keaslian maupun kepemilikannya agar tidak dapat diakui oleh negara lain. Dimasa sekarang ini, banyak sekali budaya-budaya kita yang mulai menghilang sedikit demi sedikit. Tugas utama yang harus dibenahi adalah bagaimana mempertahankan, melestarikan, menjaga, serta mewariskan budaya lokal dengan sebaik-baiknya agar dapat memperkokoh budaya bangsa yang akan mengharumkan nama Indonesia juga supaya budaya asli negara kita tidak diklaim oleh negara lain.
Kodrat yang melekat pada identitas kita sebagai bangsa yang majemuk memang sepatutnya menjadi sebuah kebanggaan bersama. Bukan harus menghilangkan segala ciri perbedaan, namun justru sebaliknya. Penonjolan perbedaan yang mewarnai kehidupan berbangsa di antara kita menjadikan kita seragam dalam satu identitas sebagai Bangsa Indonesia –bangsa yang menghargai perbedaan.
Rasa primordialisme kedaerahan tampaknya bukan merupakan hal yang baru bagi kita. Bagi segenap warga negara, rasa memiliki daerah kelahiran asal merupakan identitas (kebanggaan) tersendiri. Ketika "orang asing" berani menghina suatu daerah, pada taraf tertentu kita jadi marah dan bersikap sensitif terhadap mereka.

Berbahasa Sunda di hari Rabu
"Bahasa Sunda Wajib Tiap Rabu"

Peraturan Daerah Nomor 09 Tahun 2012 tentang Penggunaan, Pemeliharaan, dan Pengembangan Bahasa, Sastra, dan Aksara Sunda ditetapkan melalui sidang paripurna di Gedung DPRD Kota Bandung, Senin (28/5/2012).
Latar belakang Perda Bahasa Sunda ini berangkat dari: “bahasa Sunda di Kota Bandung sudah jarang digunakan dan dikhawatirkan punah”. Perda itu mengatur antara lain setiap hari Rabu segenap warga Kota Bandung –baik pejabat maupun masyarakat, wajib menggunakan bahasa Sunda. Di sekolah pun pelajaran Bahasa Sunda wajib kembali dijadikan kurikulum, mulai dari SD, SMP, hingga SMA. Aturan lainnya: di hotel-hotel; kantor pemerintahan; dan kantor swasta wajib terdapat spanduk kata-kata "wilujeng sumping". Hal lain yang diatur dalam Perda Bahasa Sunda ini adalah soal perbanyakan buku bahasa Sunda, termasuk Al Quran dengan terjemahan bahasa Sunda. Para orangtua juga diwajibkan mendongeng sebelum tidur dengan bahasa Sunda kepada anaknya.
Mahasiswa UPI Bandung saat Peringatan Hari Bahasa Ibu, Selasa 21 Februari 2013.
Sebelum Perda ini dibuat, bahasa Sunda sudah digunakan di sekolah tiap hari Rabu sejak tahun 2006. Penggunaan bahasa dan aksara Sunda untuk nama-nama jalan di Kota Bandung juga sudah digunakan jauh sebelum Perda ini disahkan. Dengan pemberlakuan Perda Bahasa Sunda, segenap warga Kota Bandung –tak terkecuali pendatang, harus menaatinya. Meskipun demikian, walau dalam Perda diwajibkan berbahasa Sunda tiap hari Rabu, tidak ada sanksi bagi yang tidak menggunakannya. Sanksi tak diatur, tapi warga Kota Bandung memiliki tanggung jawab harus menggunakan bahasa Sunda jika ingin tinggal di Bandung. Dengan demikian, sanksi yang diterima berupa sanksi moral dan harus malu.
Sebagai catatan: Sebenarnya di tingkat Provinsi, Jawa Barat pernah memiliki Perda Nomor 06 Tahun 1996 tentang Pelestarian, Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Sastra dan Aksara Sunda. Perda itu ternyata dianggap belum mencerminkan Jabar yang multikultural dengan berbagai jenis tradisi bahasa, sastra, dan aksara. Perda Nomor 05 Tahun 2003 tentang Pemeliharaan Bahasa, Sastra, dan Aksara Daerah pun terbit sebagai penggantinya.

Beskap dan Kebaya di hari Kamis
Beskap dan Kebaya Solo
Para perempuan anggun berkain dan berkebaya, sedangkan para pria terlihat gagah mengenakan beskap dipadu kain jarit, belangkon, dan selop. Berbalut busana adat, mereka tetap tangkas bekerja. Begitulah pemandangan di lingkungan kantor Pemerintah Kota Solo, Jawa Tengah, setiap hari Kamis.
Kemeja batik juga dikenakan oleh pegawai negeri sipil (PNS) di Solo setiap Rabu dan Jumat. Para pria mengenakan beskap landung, yakni beskap tanpa coakan –tempat keris di punggung, tepatnya di pinggang bagian belakang. Kebaya Kutubaru dan Beskap Landung, merupakan model busana yang paling lama dikenal masyarakat Solo.
Kebaya Kutubaru dulu sering dipakai ibu-ibu petani sebagai ’seragam’ kerja di sawah. Berbeda dengan kebaya Kartini yang tertutup, dipakai di keraton.
Ketentuan yang mewajibkan PNS di Solo mengenakan busana adat sebagai seragam kerja diterapkan sejak Februari tahun lalu. Saat itu Wali Kota Solo, Joko Widodo –kini Gubernur DKI Jakarta memandang pentingnya memperkuat identitas kota Solo melalui pakaian yang dikenakan warganya.
Meski model dasarnya yang sama, detail Kebaya yang dikenakan bervariasi. Ada yang lengannya dibuat lebar atau dibordir. Agar praktis dikenakan, Jarit dijahit tanpa dipotong dan diberi retsleting lengkap dengan lipatan-lipatan kain atau wiru di bagian depan. Demikian pula kain bawahan Beskap, dijahit menjadi celana tetapi bagian depannya tampak seperti kain panjang dengan atau tanpa wiru –ini memudahkan pegawai yang bersepeda motor.
Pemakaian baju tradisional setiap Kamis di kalangan PNS Pemkot Solo ini dicanangkan sebagai upaya melestarikan Kebaya dan Beskap, yang merupakan pakaian tradisional Jawa. Pemkot Solo tidak ingin pakaian tradisional Jawa itu bernasib sama dengan Kimono di Jepang yang nyaris punah karena orang makin malas memakainya

Sadariah dan Kebaya Encim di hari Jum’at
Sadariah dan Kebaya Encim DKI Jakarta
Ketika terpilih sebagai Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo juga membuat peraturan yang mewajibkan PNS di DKI berpakaian adat setiap hari Jumat mulai Januari 2013 –Instruksi Gubernur No 6 Tahun 2013 tentang Penggunaan Pakaian Dinas Harian, yang ditetapkan pada 23 Januari 2013. Pakaian tradisional Betawi pada dasarnya mendapat pengaruh yang kuat dari Arab dan Cina, pakaian tersebut biasa dikenakan ketika bersantai atau untuk pergi mengaji, terdiri dari Kebaya Encim untuk perempuan dan Baju Sadariah untuk para pria. Para pegawai perempuanpun Berkebaya Encim –khas Betawi dan berkain. Sedangkan para pegawai pria mengenakan Baju Sadariah, yakni setelan baju koko, kopiah, dan berkalung sarung di leher.
Kebaya Encim sudah sangat akrab bagi perempuan di Jakarta, ruang padu-padannya pun cukup luas. Bagi pria, mengenakan Baju Sadariah juga relatif praktis, cukup dengan memadukan kemeja koko putih dengan celana kain yang biasa dipakai ke kantor ditambah peci hitam dan menyandang sarung.
Satu-satunya ”masalah” adalah: membiasakan menyandang sarung di bahu. Meskipun para PNS pria membawa sarung, kebanyakan memilih menyimpannya saja di ruang kantor –kalau dibawa kemana-mana, bisa-bisa ketinggalan.

Candi Muaro Jambi dan Buah Buku di hari Selasa dan Jum’at
Batik Jambi
Di Jambi, penghargaan pada warisan budaya ditunjukkan dengan menggunakan batik bermotif khas Jambi –seperti motif Durian Pecah; Candi Muaro Jambi; Buah Buku; dan Angso Duo, sebagai seragam kerja di kantor.
Di Bank Indonesia perwakilan Jambi, misalnya, para pegawai sepakat mengenakan batik Jambi setiap Selasa dan Jum’at. Mereka memesan kain batik dengan motif dan warna yang sama lalu menjahitkan sendiri kain itu sesuai selera masing-masing.
Seragam batik berwarna jingga dengan motif Candi Muaro Jambi dan Buah Buku yang mereka kenakan, kerap membuahkan pujian dalam pertemuan dinas bersama instansi lain. Hal tersebut membuahkan kebanggaan untuk memakai batik yang motifnya sangat khas Melayu.
Mengenakan batik khas Jambi dirasakan lebih praktis ketimbang pakaian adat Jambi berupa Baju Kurung Bertengkuluk –bagi perempuan dan Teluk Belango –bagi pria. Di lingkungan kantor Pemerintah Provinsi Jambi, para pegawai juga mengenakan batik khas Jambi setiap hari Kamis. Pakaian adat Baju Kurung Bertengkuluk dan Teluk Belango diimbau dikenakan pada Jum’at terakhir setiap bulan.
Tengkuluk adalah kain yang dililitkan di kepala perempuan. Dalam budaya Jambi, Tengkuluk kerap dipakai perempuan untuk melindungi kepala dari terik matahari di sawah, juga dipakai pula saat pengajian dan kondangan.
Pakaian Teluk Belango bagi pria, berupa setelan atasan baju koko Melayu senada dengan celana panjang dan sarung melingkari pinggang hingga sebatas lutut. Sayangnya, tradisi Berbaju Kurung dengan Tengkuluk dan Teluk Belango di lingkungan kerja, belakangan meredup. Memakai Tengkuluk dianggap kurang praktis.

Penutup
Di Indonesia, budaya berkain dan berpakaian adat kini hampir terlupakan. Pakaian adat sebatas dikenakan pada momen pesta atau upacara adat. Berbeda dengan Pakaian Sari di India, misalnya, masih lazim dipakai saat kerja kantoran ataupun kerja kasar di pasar. Karena itu, berpakaian adat ke kantor pada hari tertentu diperlukan untuk membangun lagi kesadaran dan kebanggaan terhadap aset budaya. Sebenarnya dari aspek psikologi mode, berpakaian adat ikut mempengaruhi tingkah laku seseorang. Pakaian yang dikenakan dengan penghormatan terhadap nilai budaya, secara sadar atau tidak akan membuahkan perilaku lebih berbudaya.





Mugia aya manfaatna.

Senin, 31 Desember 2012

Guru Piduka

Nu ngaku turunan Majapait ménta hampura ka urang Sunda.
Poé ieu, tanggal 11 November 2012 di Trowulan, kaula salaku turunan Majapait, ménta dihampura ka turunan Pajajaran tina kajadian di Bubat ratusan taun katukang!” kitu ceuk Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa III, raja Majapait di Pendopo Agung Trowulan. Maké basa Indonesia, henteu maké basa Jawa atawa Sunda.
Upacara Guru Piduka, turunan Majapait Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna (kenca) menta dihampura ka turunan Pajajaran nu diwakilan ku Raden Roza Rahmadjasa Sri Paduka Wangsa Nata Kusumah (katuhu).
Bareng jeung ieu ucapan, angin di pakarangan Pendopo Agung Trowulan ngadadak muter lilimbungan. Pataka –bandéra tingjarungkel maruragan, suasana karasana pinuh ku mistik. Kandel pisan sakralna, jiga-jiga arwah anu kabaud kana Perang Bubat milu nyaksian.
Ieu acara anu dingaranan ritual Guru Piduka téh, kacida dariana. Waragadna leuwih ti opat miliar rupiah, ciri ménta dihampurana lain heuheureuyan. Ritual budaya Guru Piduka dituluykeun ku ritual upacara Sabda Paduka Dharmasiksa dari Lembaga Adat Keraton Pajajaran.
Saméméh jeung sabada acara di Trowulan, ramé padungdengan nu pro jeung kontra. Masalahna: naha cenah maké kudu aya upacara ritual ménta pangampura sagala, pan baheula gé ku para karuhun dina jamanna geus dipilampah. Urang Majapait jeung urang Galuh, henteu terus mumusuhan.
Masalah séjénna: parebut pamadegan, saha nu pangbogana hak ngayakeun ieu acara. Ti mimiti Jawa Timur nepi ka Bali, loba nu ngaku Raja Majapait anu paling sah.
Di Tatar Sunda ogé masalahna sarua. Naha cenah maké ménta hampura ka turunan Pajajaran, pan anu patelak téh antara Majapait jeung Galuh, Pajajaran mah acan aya.
Terus, naha nu ménta hampura téh lain datang ka Sunda, kalahka Sunda anu sumolondo ka Trowulan ?
Anu ngawakilan urang Sunda narima pangampurana turunan Majapait téh: Raden Roza Rahmajasa Mintareja Sri Paduka Wangsa Nata Kusumah. Roza ogé kungsi tumanya ka urang Majapait; ku naon nu diondang téh bet dirina, lain nu séjén ?
Jawabanana téh, kieu: Memang baheula urusanana jeung Galuh. Tapi pan, sabada Jayadewata dibenum jadi raja Pajajaran tur boga gelar Sri Baduga Maharaja, dua karajaan nu asalna Tarumanagara nyaéta karajaan Sunda jeung Galuh ngahiji jadi nagara anyar anu katelahna Pajajaran.
nya kuring ayeuna ménta hampura ka Pajajaran anu jadi turunan Galuh jeung Sunda” ceuk Wedakrama.
Panitia upacara “Upasaksi Persatuan Leluhur Trah Majapahit dan Trah Padjadjaran” di Trowulan anu dibarengkeun jeung milangkala Karajaan Majapait nu ka-719 téh, ngondang sakumna sultan jeung raja-raja sa Nusantara. Teu béda jeung waktu kajadian Perang Bubat, apan raja-raja patalukan Majapait ogé keur haladir lantaran bareng jeung waktu séba.
Panitia ogé ngondang wawakil nagara asing katut para pajabat séjénna, saperti Sukmawati Sukarno Putri selaku Abhiséka Ratu Majapait Nusantara.
Abhiseka Ratu Majapait Nusantara Tribuana Tungga Dewi Jayawisnuwardani Sukmawati Sukarno Putri (tengah).
Rombongan Pajajaran dina Upacara Dharmasiksa, Raden Roza (katuhu)
Rombongan Pajajaran
Wakil Pajajaran
Satadina, ti Sunda moal aya nu daratang lantaran sieun loba rambat-kamaléna kana hal-hal nu négatif. Tapi dina émprona mah: Lembaga Adat ti Sumedanglarang datang sa beus; kitu deui ti kasultanan Cirebon jeung Banten ogé daratang milu ngaluuhan jeung nyakséni ménta dihampurana ti nu ngarasa turunan Majapait ka urang Sunda.
Kontan atuh, anu daratang ka Trowulan téh di cap: Penghianat Sunda.
Pikeun nganétralisir ieu masalah, Grup Kasundaan Salakanagara gawé bareng jeung Grup Duta Sawala, ngondang sakumna urang Sunda dina saréséhan tanggal 1 Desember 2012 di Alam Santosa Bandung Timur.
Nu daratang lumayan euyeub sabab Lembaga Adat ti Kawali ogé katut para pini sepuhna, daratang. Kitu deui Lembaga Adat ti Banten Kidul, datang.

Prosesi
Patung Radén Wijaya jeung Gajah Mada di Pendopo Agung Trowulan, dikuriling ku sasajén. Joglo Pendopo Agung ditutup ku bendéra mérah putih, dihiasan ku payung has Bali jeung umbul-umbul “Surya” –lambang Majapait.
Raja Majapait Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna (kenca); Ratu Majapait Nusantara Sukmawati Sukarno Putri (tengah); jeung Wawakil Pajajaran Raden Roza Rahmadjasa (katuhu).
Jam 10.00 mimiti upacara Mulang Pakelem diluluguan ku pandita Hindu Ida Pedanda Gedé Ketut Sebali Tianyar Arimbawa di balong Segaran Trowulan, kaléreun Pendopo Agung. Ritual dituluykeun di Pendopo Agung, nyaéta: Upacara Guru Piduka. Rombongan “teureuh” Pajajaran jeung Majapait ngurilingan patung Radén Wijaya, tilu kali. Geus kitu, aya tarian Bedhaya Majapait; tari Suraning Pati; jeung Remo. Bérés éta, dituluykeun ku penyematan pin Wijaya Mukti (simbol persatuan) ka wawakil teureuh Karajaan Pajajaran; Majapait; para raja; jeung para sultan sa-Nusantara anu hadir jadi saksi sarta nganyatakeun diri jadi dulur.
Réngsé penyematan pin, pihak Karajaan Pajajaran masrahkeun tilu pusaka Kujang. Dua Kujang Ciung masing-masing ditarima ku Shri Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendratta Wedasteraputra Suyasa III salaku Raja Majapait jeung Sukmawati Sukarno Putri salaku Abhiséka Ratu Majapahit Nusantara Tribuana Tungga Dewi Jayawisnuwardani. Sedengkeun hiji Kujang Sajén dipasrahkeun ka pimpinan museum Majapait di Trowulan.
Prasasti Perdamaian Majapait - Pajajaran.

Geus Réngsé
Para sepuh di Kawali Ciamis, saényana mah rada teu méréan mun téa mah kudu miang ka Trowulan. Naon sababna ? Lantara ti baheula ogé, pasualan Perang Bubat geus réngsé. Lamun urang Sunda datang ka Trowulan, sacara teu langsung nembongkeun yén: urang Sunda masih kénéh dengdam jeung ngunek-ngunek ku kajadian Perang Bubat. Keur urang Sunda, dengdam jeung ngunek-ngunek téh dipahing pisan.
Pihak Majapait sabada kajadian Perang Bubat, langsung ngirimkeun utusanana sina nepungan urang Sunda ka Kawali, kalayan tujuan ménta dihampura. Ku urang Kawali –babakuna ku Bunisora jeung para pini sepuhna, ditarima kalayan hadé. Utusan Prabu Hayam Wuruk ogé bari mawa lebu layon Prabu Linggabuana; praméswari; jeung Dyah Pitaloka. Sabada Perang Bubat, kabéh layon rombongan Sunda dikrémasi maké upacara karajaan.
Ilustrasi gugurna rombongan Sunda di Bubat
Urang karaton Kawali ogé saényana mah teu satujueun, Prabu Linggabuana indit ka Trowulan bari tujuanana rék ngawinkeun siwina –anak awéwéna. Anu dipilampah ku Prabu Linggabuana, ngarempak purbatisti purbajati Sunda anu sumber utamana: Siksa Kandang Karesian. Teu ilahar ngawinkeun budak di tempat lalaki. Bunisora nu kapapancenan nyuluran seuweu (anak) Prabu Linggabuana jadi raja di Kawali, teu terus masualkeun kajadian Perang Bubat. Ngan ukur nohagaan kakuatan militérna di tapel wates, bisi Majapait tuluy ngahianat hayang nalukeun Sunda –sakumaha anu kungsi dikedalkeun ku Gajah Mada ngaliwatan Amukti Palapa-na.
Lokasi Perang Bubat
Karajaan Galuh-Sunda anu meunang ngahijikeun Prabu Linggabuana, dirajaan heula ku Prabu Bunisora –saméméh Niskala Wastukancana (seuweu Linggabuana) déwasa. Nincak umur 23 taun, Niskala Wastukancana diistrénan jadi raja. Pikeun ngalantik alona, Bunisora ngahaja nyieun makuta emas nu dingaranan Makuta Binokasih Sanghyang Paké. Prabu Niskala Wastukancana narima wangsit anu saterusna dijadikeun ugeran hirup, nyaéta: tadaga carita hangsa; gajendra carita banem; matsyanem carita sagarem; puspanem carita bangbarem. (talaga nyaritakeun soang; gajah nyaritakeun leuweung; lauk nyaritakeun laut; kembang nyaritakeun bangbara)

Gemuh Pasundan
Salian ti ngeuyeuk dayeuh ngolah nagara, Prabu Niskala Wastukancana nyieun parigi keur nohagaan puseur dayeuh. Ngoméan karaton Surawisésa, jeung nyieun jalan anu nepungkeun Kawali-Pajajaran ngaliwatan: Panjalu; Maja; Cisalak; Sagalahérang; Purwakarta; jeung Bekasi. Cindekna mah jaman Prabu Niskala Wastukancana, karajaan gabungan Sunda-Galuh téh, aya dina jaman kajayaan –Gemuh Pasundan.
Prabu Niskala Wastukancana tilar dina umur 127 taun, sanggeus nyekel karajaan lilana 103 taun; 6 bulan; 15 poé.
Kungsi nyaksian Perang Parégrég di Karajaan Majapait saditinggalkeunana ku Prabu Hayam Wuruk jeung Mahapatih Gajah Mada.



Cag.