Rabu, 19 November 2014

Barter Daerah Jajahan



Melalui Traktat London tanggal 17 Maret 1824, Belanda menyerahkan Malaka dan Tumasik kepada Inggris. Sedangkan Inggris, menyerahkan Bencoolen kepada Belanda. Perjanjian ini dilakukan untuk mengatasi konflik yang bermunculan akibat pemberlakuan Perjanjian Britania-Belanda 1814. Jadi, berdasarkan perjanjian itu, Bencoolen jadi milik Belanda, dan Malaka serta Tumasik jadi milik Inggris. Itu mereka lakukan agar mudah mengontrol wilayahnya masing-masing, karena jajahan Inggris berada di Semenanjung Melayu dan jajahan Belanda di Nusantara.

Nama Bengkulu –Bencoolen diperkirakan diambil dari sebuah nama bukit di Cullen, Skotlandia, Bin of Cullen (atau variasinya, Ben Cullen). Sumber tradisional menyebutkan bahwa Bengkulu atau Bangkahulu berasal dari kata ‘Bangkai’ dan ‘Hulu’ yang maksudnya: ‘bangkai di hulu’. Konon menurut cerita, dulu pernah terjadi perang antara kerajaan-kerajaan kecil yang ada di Bengkulu. dan dari pertempuran itu banyak menimbulkan korban dari kedua belak pihak di hulu sungai Bengkulu. Korban-korban perang inilah yang menjadi bangkai tak terkuburkan di hulu sungai tersebut maka tersohorlah sebutan Bangkaihulu yang lama-kelamaan berubah pengucapan menjadi Bangkahulu atau Bengkulu. Penamaan seperti ini mirip dengan kisah perang antara pasukan Majapahit dengan pasukan Pagaruyung di Padang Sibusuk –daerah sekitar bekas wilayah kerajaan Dharmasraya, yang juga mengisahkan bahwa penamaan Padang Sibusuk itu dari korban-korban perang yang membusuk di medan perang. Sumber lain menyebutkan, nama Bengkulu berasal dari bahasa Melayu dari kata “Bang” yang berarti: Pesisir dan “Kulon” yang berarti: Barat, kemudian terjadi pergeseran pengucapan Bang berubah menjadi Beng dan Kulon menjadi Kulu. Sedangkan cerita yang lebih banyak dikenal di masyarakat Bengkulu tentang asal usul nama Bengkulu, yaitu diambil dari kisah perang melawan orang Aceh yang datang hendak melamar Putri Gading Cempaka –anak Ratu Agung Sungai Serut. Lamaran tersebut ditolak, sehingga menimbulkan perang. Anak Dalam –saudara kandung Putri Gading Cempaka yang menggantikan Ratu Agung sebagai Raja Sungai Serut, berteriak “Empang ka Hulu ” yang berarti hadang mereka dan jangan biarkan mereka menginjakkan kakinya ke tanah kita. Dari kata-kata tersebut maka lahirlah kata Bangkahulu atau Bengkulu.
Malacca

Malaka dan Tumasik
Setelah kolonial Portugis masuk ke Semenanjung Malaka pada tahun 1511, Belanda berhasil mengalahkan Portugis dibantu Kerajaan Johor. Mereka pun berhasil menduduki wilayah tersebut, namun bukan menyerahkan kepada Kerajaan Johor. Malaka,  malah justru masuk daerah jajahan Belanda. Malaka Belanda (1641-1824) adalah periode terpanjang Malaka di bawah kekuasaan asing. Belanda menguasai Malaka selama hampir 183 tahun. Namun, Belanda lebih memilih Batavia –Jakarta sebagai pusat ekonomi dan administratif di wilayah kekuasaan mereka. Menguasai Malaka, hanya untuk mencegah wilayah tersebut dikuasai oleh negara Eropa lainnya. Berdasarkan Traktat London tanggal 17 Maret 1824, Belanda memperoleh daerah Bengkulu –meski harus menyerahkan Malaka dan Tumasik (Singapura) kepada Inggris. Belanda memandang Bengkulu sebagai wilayah yang potensial dengan kekayaan alam yang melimpah, salah satunya bahan tambang emas yang dimiliki daerah Lebong. Melihat potensi tersebut dan setelah Bengkulu menjadi miliknya, maka Belanda berusaha mendirikan tambang-tambang emas di daerah Lebong. Eksplorasi dan pertambangan emas pertama kali dilakukan Belanda di Lebong Donok pada tahun 1897 oleh Lebonggoud Syndicaat. Selain di Lebong Donok, tambang emas juga ditemukan di Tambang Sawah –yang mulai dieksplorasi pada tahun 1901. Secara keseluruhan pertambangan emas di dua daerah tersebut berlangsung sampai dengan tahun 1941 –karena telah dianggap habis. Selain mengeksplorasi tambang emas di Lebong, Belanda juga membuka perkebunan teh di daerah Kabawetan.

Selebar, Bencoolen, Bengkulu
Pada pertengahan abad ke-13 sampai dengan abad ke-16, di daerah Selebar –Bengkulu terdapat 2 kerajaan, yaitu: Kerajaan Sungai Serut dan Kerajaan Selebar. Pada tahun 1685, Inggris masuk ke Bengkulu yang dipimpin oleh Kapten J. Andiew dengan menggunakan 3 Kapal yang bemama: The Caesar; The Resolution; dan The Defence. Inggris menguasai Bengkulu, selama kurang lebih 139 tahun (1685-1824). Dalam masa ini, ratusan prajurit Inggris meninggal karena kolera, malaria dan disenteri. Kehidupan di Bengkulu pada saat itu, sangat menyusahkan bagi orang Inggris. Selain jauhnya jarak –perjalanan pelayaran dari Inggris ke Bengkulu memakan waktu 8 bulan, sering terjadi juga pertempuran-pertempuran dengan penduduk setempat
Benkulen
British East India Company (EIC) sejak 1685 mendirikan pusat perdagangan lada di Bencoolen –demikian orang Inggris menyebut Bengkulu dan kemudian gudang penyimpanan di tempat yang sekarang menjadi Kota Bengkulu. Saat itu, ekspedisi EIC dipimpin oleh Ralph Ord dan William Cowley untuk mencari pengganti pusat perdagangan lada –setelah Pelabuhan Banten jatuh ke tangan VOC Belanda, dan EIC Inggris dilarang berdagang di sana. Traktat dengan Kerajaan Selebar pada tanggal 12 Juli 1685 mengizinkan Inggris untuk mendirikan benteng dan berbagai gedung perdagangan. Kemudian Benteng York didirikan oleh Inggris tahun 1685 di sekitar muara Sungai Serut, yang berfungsi sebagai benteng dan gudang..
Sejak 1713 di bawah pimpinan wakil Gubernur British East India Company (EIC) yaitu Joseph Collet, dibangun benteng Marlborough (selesai 1719) –hingga sekarang masih tegak berdiri. Namun demikian, perusahaan ini lama kelamaan menyadari tempat itu tidak menguntungkan karena tidak bisa menghasilkan lada dalam jumlah yang mencukupi. Karena kesombongan dan keangkuhan Joseph Collet, begitu Benteng Marlborough selesai dibangun pada tahun 1719 rakyat Bengkulu di bawah pimpinan Pangeran Jenggalu menyerang pasukan Inggris di Ujung Karang, sampai akhirnya Benteng Marlborough berhasil mereka kuasai serta Inggris dipaksa meninggalkan Bengkulu –peristiwa heroik ini sampai sekarang diperingati sebagai hari jadi Kota Bengkulu. Namun pasukan Inggris kembali lagi ke Bengkulu, dan perlawanan rakyat Bengkulu terhadap Inggris tetap berlanjut. Pada tahun 1807 resident  Inggris Thomas Parr dibunuh dalam suatu pertempuran melawan rakyat Bengkulu. Parr diganti Thomas Stamford Raffles, yang berusaha menjalin hubungan yang damai antara pihak Inggris dan penguasa setempat.
Sejak dilaksanakannya Perjanjian London pada tahun 1824, Bengkulu diserahkan ke Belanda, dengan imbalan Malaka sekaligus penegasan atas kepemilikan Tumasik –Singapura dan Pulau Belitung. Alasannya, karena Gubernur Inggris Sir Thomas Stamford Raffles memandang Tumasik lebih strategis. Sejak perjanjian itu, Bengkulu menjadi bagian dari Hindia Belanda. Bengkulu dalam bahasa Belanda disebut Benkoelen atau Bengkulen.

Traktat London, Ruislag/Tukar-Guling Koloni
Inggris dan Belanda melakukan persetujuan melalui Traktat London –Perjanjian London pada 17 Maret 1824, yang berisikan: pertukaran daerah koloni antara Inggris dan Belanda. Dalam perjanjian tersebut, dijelaskan bahwa Belanda menyerahkan Malaka dan Semenanjung Melayu –termasuk Penang dan sebuah pulau kecil tidak bertuan –Tumasik/Singapura kepada Inggris. Sedangkan, Britania –Inggris menyerahkan pabriknya di Bencoolen –Bengkulu dan seluruh kepemilikannya di pulau Sumatera kepada Belanda. Pertukaran kekuasaan ini juga termasuk dalam Kepulauan Karimun, Batam, dan pulau-pulau lain yang terletak sebelah Selatan dari Selat Singapura. Perjanjian tersebut dilakukan pada 17 Maret 1824 di London, dimana Belanda diwakili oleh Hendrik Fagel dan Anton Reinhard Falck, sedangkan Inggris diwakili oleh George Canning dan Charles Watkins Williams Wynn. Perjanjian ini dilakukan untuk mengatasi konflik yang bermunculan akibat pemberlakuan Perjanjian Britania-Belanda 1814. Jadi, berdasarkan perjanjian itu, Bengkulu jadi milik Belanda, dan Malaka serta Tumasik jadi milik Inggris. Itu mereka lakukan agar mudah mengontrol wilayahnya masing-masing, karena jajahan Inggris berada di Semenanjung Melayu dan jajahan Belanda di Indonesia. Tetapi penjanjian Inggris-Belanda telah memecahkan kawasan jajahan Johor yaitu Riau-Lingga dan sebagian besar Sumatera.

Taktik Raffles
Berakhirnya pemerintahan Sir Thomas Stamford Raffles di Nusantara, ditandai dengan adanya Convention of London pada tahun 1814. Perjanjian tersebut ditandatangani di London, oleh wakil-wakil Inggris dan Belanda. Isinya:
1.    Nusantara dikembalikan kepada Belanda;
2.    Jajahan Belanda, seperti: Sailan, Kaap Koloni, dan Guyana, tetap di tangan Inggris;
3.    Cochin (di pantai Malabar) diambil-alih oleh Inggris, sedangkan Bangka diserahkan kepada Belanda sebagai gantinya.
Raffles yang sudah terlanjur tertarik kepada Nusantara, sangat menyesalkan lahirnya Convention of London ini. Akan tetapi, Raffles cukup senang karena bukan ia yang harus menyerahkan kekuasaan kepada Belanda, melainkan penggantinya yaitu: John Fendall, yang berkuasa hanya lima hari. Raffles kemudian diangkat menjadi gubernur di Bengkulu yang meliputi wilayah Bangka dan Belitung.
Setelah gagal membujuk Imam Bonjol agar memihak kepada Inggris, sejak tahun 1818 Raffles mengalihkan perhatiannya ke Selat Malaka yang sangat strategis sebagai lalu lintas perdagangan internasional. Sesuai dengan Konvensi London 1814, Belanda beranggapan bahwa Selat Malaka berada di bawah kekuasaannya. Pada tahun 1818, Malaka jatuh ke tangan Belanda. Raffles yang cerdik, kemudian mendirikan Singapura pada tahun 1819 yang dibelinya dari Tengku Husein, Sultan Johor. Peristiwa ini menimbulkan protes keras dari Belanda, bahwa Inggris telah melanggar Konvensi London. Namun Raffles menjawabnya bahwa daerah yang harus dikembalikan kepada Belanda, hanyalah daerah-daerah yang dulu direbut Inggris dari Belanda. Selebihnya, Inggris bebas mengadakan perjanjian dengan raja-raja dari daerah yang tidak direbutnya. Konvensi London memang tidak jelas menyebut daerah-daerah yang harus diserahkan, sehingga Inggris dan Belanda mempunyai penafsiran sendiri-sendiri.
Berdirinya Singapura, menimbulkan perselisihan mengenai batas wilayah kekuasaan pendudukan Inggris dan Belanda. Masalah ini kemudian diselesaikan melalui Treaty of London pada tahun 1824 yang isinya sebagai berikut:
1.    Kedua negeri (Inggris dan Belanda) berhak untuk saling memasuki wilayah jajahan masing-masing;
2.    Belanda menarik diri dari jajahannya di Asia Daratan, yaitu: Benggala, Gujarat, Malaka, dan Singapura;
3.    Inggris menarik diri dari Nusantara dan menyerahkan Bengkulu, Bangka, dan Belitung;
4.    Kemerdekaan Aceh dihormati oleh kedua belah pihak, karena Aceh dijadikan bufferstaat, yaitu daerah pemisah kekuasaan Belanda di Nusantara dengan kekuasaan Inggris di Malaka dan Singapura;
5.    Inggris dan Belanda bertanggung jawab atas keamanan di Selat Malaka.
Traktat London ini merupakan kemenangan besar bagi Inggris dalam menguasai jalur pelayaran internasional di Selat Malaka. Bagi Belanda, Traktat London menjadi penghalang untuk meluaskan daerah jajahannya ke wilayah Sumatera bagian Utara –Aceh. Pada tahun 1873 ditandatangani sebuah perjanjian antara Inggris dan Belanda, yang dikenal dengan Traktat Sumatra. Isi pokok dari perjanjian tersebut adalah Inggris tidak akan menghalang-halangi upaya Belanda untuk meluaskan wilayah ke Sumatera bagian Utara (Aceh). Perjanjian inilah, yang kemudian memicu terjadinya Perang Aceh (1873-1904).

Segitiga Emas Robusta
Kemasyuran sebagai wilayah penghasil kopi, membuat Bengkulu; Lampung; dan Sumatera Selatan, dijuluki: Segitiga Emas Robusta. Bangsa Belanda dan Inggris turut berperan dalam penanaman kopi di Sumatera, meskipun dilakukan secara paksa. Inggris memasukan kopi ke wilayah Selebar –nama Bengkulu pada waktu itu, untuk dibudidayakan pada abad ke-17. Sayangnya, proses menghasilkan komoditas penting itu dilakukan dengan kekerasan. Jejaknya masih dapat kita saksikan di Bengkulu. Di dekat Fort Marlborough, berdiri monumen Thomas Parr –nama orang Inggris yang terbunuh dalam haru biru rakyat Bengkulu melawan Inggris.


***

Minggu, 26 Oktober 2014

Si Kuik jeung Si Gombar di Kota Intan



Engké jaga, mun karéta api geus tepi ka Pameungpeuk, ciri wanci nagara urang baris pinanggih jeung subur ma’mur.
(Uga ti Pameungpeuk, Garut Kidul)
Halteu Lebakjero, Garut.

Karéta api téh mangrupa transportasi masal anu gedé mangpaatna keur rahayat, boh keur indit-inditan atanapi keur mawa hasil tatanén. Paékonomian, tinangtu bakal leuwih ngaronjat ku ayana karéta api. Kitu deui, karéta api bisa ngungkulan pasualan-pasualan lingkungan, saperti: ngurangan dipakéna bahan bakar minyak (BBM); nyengker pemanasan global; ngurangan polusi hawa; aman; sarta tepat waktu.
Mémang tina jihad penjajah mah, jaringan jalan karéta api –kitu deui Jalan Pos di Pulo Jawa téh udagan utamana nya éta: keur kaamanan, sangkan gampang ngungkulan mun aya wewengkon anu nyoba-nyoba rék baruntak ka pamaréntah. Najan kitu, anu leuwih karasa –babakuna ku rahayat mah justru nguniangkeun paékonomian rahayat jadi tambah raharja.
Loba jalur-jalur karéta api titinggal Walanda anu geus ditutup –geus teu digunakeun deui, alesanana: “teu nguntungkeun sacara ékonomi”, éléh saéngan ku mobil.
Karéta api Cibatu–Garut anu panjangna moal kurang ti 16 kilométer, taun 1982 geus ditutup. Kitu deui, karéta api Garut–Cikajang anu panjangna kurang leuwih 27 kilométer, kiwari kari nineungna.
Halteu di sapanjang Cibatu–Garut jeung Garut–Cikajang, jadi bangunan tua. Erélna geus dipaké jalan anu dipelur ku témbok, sarta sisi-sisina geus dipaké paimahan. Sasak-sasak beusina saleuheung aya anu digunakeun kénéh, jadi patalimarga dipaké meuntas ku masarakat. Ari beusina mah najan geus tai hiangan ogé, katémbongna mah wedel kénéh.
Stasion Garut

Stasion Cibatu jeung Si Kuik
Pamaréntah Hindia Walanda –Nederlandsch Indiesch, kaping 14 Agustus 1889 ngamimitian nyieun jalan karéta api ti stasion Bandung ka Cicaléngka. Anu dibéré pancén pikeun ngawangunna, nya éta: Staat Spoorwegen (SS) –pausahaan karéta api bogana Walanda, anu tanggung jawabna: Ir.Th.A.M. Ruijs.
Dina taun anu sarua, diwangun ogé jalan karéta api ti stasion Cicaléngka ka Cibatu. Sanggeus stasion Cibatu réngsé, éta wewengkon anu tadina sepi téh dadaksakala jadi pamukiman anu kawilang haneuteun –najan kitu, Cibatu henteu saramé Kota Garut.
Taun 1930-an, jumlah cacah jiwana moal jauh ti 3.000 urang –lolobana mah pagawé SS. Jaman harita, Cibatu geus dijadikeun puseur dayeuh kawadanaan –nya éta: Kawadanaan Cibatu.
Salian ti neruskeun jalan karéta api ka Kidul, SS ogé nyieun jalan karéta api ti Cibatu ka Kota Garut –anu réngsé diwangun taun 1899. Halteu-halteuna diwangun, saperti ti Cibatu: halteu Pasir Jéngkol; Cimaragas; Wanaraja –Cipari; Cinunuk; Cibolérang; Cikolé; Sadang; Cimurah; Pasir Uncal –Cidahu; jeung halteu Garut.
Ngantosan kareta api di halteu Cinunuk Wanaraja
Sabada jalur karéta api Cibatu–Garut dibuka taun 1920, Dick Fock –Gubernur Jenderal Hindia Walanda, remen datang ka wewengkon Kabupaten Garut. Inyana maké kareta api ti Batawi nepi ka Cibatu, ti dinya naék deui karéta api anu ka Kota Garut. Di Garut, inyana ngaresmikeun hasil-hasil pangwangunan anu cenah mah mangpaatna karasa ku rahayat.
Lain ukur pajabat pamaréntah Walanda wungkul anu pulang-anting ka Garut téh, dalah turis bangsa Éropa ogé kitu. Harita, Garut jadi kakoncara ku jujuluk: Swiss van Java –Swiss di Pulo Jawa, lantaran kaéndahan alamna anu parentul ku gunung sarta pamandangan alamna anu matak mincut kana haté, lir saperti di Swiss. Atuh munasabah lamun Kota Garut téh ku turis Éropa mah pada nyebut “de mooie Garoet”, Garut éndah.
Jaman harita, stasion Cibatu téh ramé pisan. Dalah urang Tionghoa ogé, loba anu ngahaja ngajualan jajanan. Barudak sakola ogé réa anu ngagunakeun karéta api Cibatu–Garut, kawantu jadwalna luyu jeung asup-kaluar jam palajaran di sakola. Mangsa harita, di Kota Garut geus ngadeg sakola anu ‘géngsina’ kawilang luhur. Upamana waé: Christelijk Hollandsche Inlandsche Chineesche School (CHICS), anu diadegkeun taun 1901 –pernahna di Talun; jeung Hollandsch Inlandsch School (HIS), anu diadegkeun taun 1920 –pernahna gigireun panjara, Wétaneun alun-alun. Kitu deui di Maktal –deukeut Cimanuk, ngadeg Ambacht Inlandsche School (AIS) –sakola pertukangan, nyitak ahli wangunan jeung ahli nyieun parabot rumah tangga anu dijieun tina kai.
Gerbong karéta api Cibatu–Garut, réana tilu kelas –kelas ékonomi. Bangku gerbongna, tilu jajar –manjang sapanjang gerbong. Dua jajar, di kénca-katuhu sisi jandéla. Sajajar deui, di tengah-tengah –teu maké panyarandéan, diukna bisa nyanghareup ka mana waé. Ari lokomotif anu narik gerbongna, katelah: Si Kuik –pédah sora hatongna sada sora anu ngaguik.  Lamun haseup lokomotif –anu ngandung bubuk batu-bara arasup, atuh pakéan téh jadi kalotor, sok aya deuih anu tepi ka kapareungpeunan.

Stasion Cikajang jeung Si Gombar
Ku sabab tétéla spoor –karéta api téh gedé mangpaatna, taun 1921, pamaréntah Walanda mimiti ngabaladah ngawangun jalan karéta api Garut–Cikajang. Anu ngalaksanakeun proyékna, masih ku SS.
Dina ngagarap proyékna, SS kacida pisan gemet jeung ati-atina. Kituna téh lantaran jalan karéta api Garut–Cikajang mah ngaliwatan: pasir; walungan; jeung jungkrang. Jalanna ogé, pungkal-péngkol. Halteu atawa stasion Cikajang ogé, apanan luhurna téh 1.246 méter –tina beungeut cai laut. Di nagara urang, stasion Cikajang téh minangka hiji-hijina stasion anu diadegkeun di tempat anu pangluhurna.
Waragad keur ngawangun jalan karéta api Garut–Cikajang, sakilométerna merelukeun 1.021.100 gulden. Diungkulan ku cara patungan, réréongan antara: SS; onderneming –parapangusaha perkebunan di wewengkon Cikajang; jeung pangusaha Hotél Pauline Cisurupan.
Hotel Pauline Cisurupan
Merelukeun waktu lima taun, SS ngawangun jalan karéta api Garut–Cikajang téh. Réngsé pangwangunan, taun 1926. Uji coba erélna, ku karéta api munggaran. Tepi ka stasion Cikajang, lumangsung lungsur-langsar.
Taun 1930, diresmikeun ku wawakil gubernur jenderal Hindia Walanda di stasion Cikajang. Bupati Garut jeung juragan perkebunan ogé, ngilu ngaluuhan.
Peresmian Stasion Cikajang, taun 1930.
Luyu jeung kaayaan alamna, lokomotif anu digunakeun ogé husus lokomotif keur di pagunungan –serie CC 5022 atawa bergkoning (Berglijn Locomotief), rajana gunung. Éta lokomotif uap téh meunang mesen SS taun 1927 ti dua pabrik di Éropa, nya éta: Werkspoor –pabrik Walanda, jeung Schweizerische Lokomotiv-und Maschinenfabrik –ti Swiss. Kabéhanana, aya 30 lokomotif. Kaunggulan lokomotif serie CC 5022 –rancangan teknisi Jerman: Anatole Mallet (1837-1919) dibandingkeun jeung lokomotif serie nu lainna, nya éta: mampuh narik gerbong anu beuratna 1.300 ton bari tarik lumpatna 55 km/h, ogé mampuh nikung dina tikungan anu mites. Ku urang Priangan –kaasup urang Garut, sok disarebut: Si Gombar. Disebut kitu téh luyu jeung bentuk lokomotifna, nya éta: gedé; hideung; tanagana bedas; jeung sora hatongna tarik handaruan –dina kamus basa Sunda meunang nyusun RA. Danadibrata, “Gombar” téh nya éta jalma jahat taun 1911 anu aya dina film Amerika. Éta jalma téh, awakna gedé tur tanagana kuat. Si Gombar kawilang lokomotif rajana gunung anu modérn, sarta ngabogaan 8 roda gedé ‘berpasangan’ di hareupna.
Ku urang Cikajang, lokomotif serie CC 5022 téh dilandi: karéta api Sri Gunung. Dilandi kitu téh kulantaran jalan karéta apina, mun ti Garut mah nanjak jeung pungkal-péngkol. Ngaliwatan sasak Leuwidaun –luhureun Cimanuk jeung sasak Cipelah. Ku sabab unggah gunung, turun gunung, atuh jalan karéta api téh malibir pasir, mapay-mapay luhur jungkrang anu lalungkawing. Ahirna karéta api téh, disarebut: Sri Gunung.
Maké karéta api Si Gombar, ti stasion Garut tepi ka stasion Cikajang, merelukeun waktu kira-kira sajam. Ti Garut, halteu atawa stasion anu kaliwatan sarta dieureunan ku Si Gombar téh, nya éta: Pamoyanan; Cireungit; Cioyod; Bayongbong; Cipelah; Hotél Pauline; Cisurupan; Cidatar; Ciséro; Patrol Girang; jeung panungtungna stasion Cikajang –mindeng disebut stasion Buntu, pédah tungtung jalan karéta apina, didinya pisan.
Si Gombar keur nikreuh antara Garut-Cikajang, taun 1978.
Di stasion Cidatar –luhurna 1.223 méter dina beungeut cai laut, karéta api anu holna ti Garut rék muru stasion Cikajang –atawa sabalikna, sok reureuh heula rada lila. Karéta api dipariksa gemet pisan, kaya-kayaning: erémna; mesinna; jeung baud-baud gilindingna. Lokomotifna ogé diinuman, caina langsung dikocorkeun tina wangunan anu ngahaja dijieun sisi erél.
Sabot Si Gombar reureuh, panumpang osok tarurun. Ngadon leuleumpangan –ngalempengkeun cangkéng, teu saeutik anu ngadon dahar balakécrakan. Di deukeut stasion Cidatar, ngadeg warung nasi Ma Écot –anu béh dieu mah sohor ku ngaran Pindang Ma Écot. Mangsa harita ogé, anu réa dibeulian téh: pindang lauk emasna.
Dipakéna stasion Cidatar, nurutan kabiasaan tukang padati anu rék ka Garut jeung anu tas balik ti Garut. Ngaran wewengkon ngadegna éta stasion, nya éta: Lembur Cidatar. Luyu jeung ngaranna, patempatanana datar atawa amprah –henteu dukdek ku gawir jeung jungkrang. Tumaninah pisan mun dipaké reureuh téh, kawuwuh pamandangan alamna matak kelar jeung tibelat.
Salian ti jalur Cibatu–Garut–Cikajang, rute pagunungan anu di ‘layani’ ku Si Gombar di Priangan, antarana baé: Jalur Bandung-Cianjur-Bogor; Jalur Bandung-Purwakarta-Cikampék; Jalur Bandung-Cibatu Garut-Tasikmalaya-Ciamis; Jalur Ciamis-Pangandaran; Jalur Bandung-Dayeuhkolot-Ciwidey; Jalur Rancaékék-Jatinangor-Tanjungsari; jeung Jalur Dayeuhkolot-Majalaya.

Kari Uga
Walanda mémang geus ngarencanakeun pikeun nuluykeun jalan karéta api ti stasion Cikajang ka Pameungpeuk. Pikeun waragadna, ku SS geus diancer-ancer. Samalah, SS ogé geus ancang-ancang rék survéi pikeun nangtukeun tempat anu bakal kaliwatan ku jalan karéta api. Rarancangna geus asak, ngan kusabab krisis ékonomi narajang dunya –taun 1930-an, éta rencana téh bolay. Krisis ékonomi ogé ngalantarankeun pindahna puseur dayeuh Hindia Walanda ti Batavia ka Bandung, teu jadi. Katurug-turug deuih kaburu datang mantén Jepang, ngarebut Nusantara ti Walanda.
Saréngséna nagara urang merdéka, jalur-jalur karéta api anu henteu nepungkeun provinsi, kapaksa dieureunkeun. Bulan Séptémber 1982, karéta api Cibatu–Garut jeung Garut–Cikajang, resmi henteu jalan. Kabéh jalur anu pernah dirajaan ku Si Gombar, kiwari kari nineungna –iwal ti jalur anu ngahubungkeun Jakarta-Cikampék-Purwakarta-Bandung-Cibatu Garut-Tasikmalaya-Jawa Tengah-Jawa Timur anu masih aya kénéh téh, kitu ogé lokomotif uap serie CC 5022-na geus ‘purna tugas’ diganti ku lokomotif diesel serie CC 200. Atuh jalur karéta api Cikajang–Pameungpeuk ogé, pimanaeun bakal dijieun. Boro-boro nyieun jalan karéta api anyar –anu tangtu bakal merelukeun waragad nu lain saeutik, dalah anu geus aya ogé –meunang nyieun Walanda loba anu geus laleungitan. Samalah, kiwari mah réa jalan karéta api anu dipaké ngadegkeun imah.
Anu matak, uga “nagara urang baris pinanggih jeung subur ma’mur” téh ceuk saréat mah asa pamohalan bisa ngabukti.
Wallohu’alam…
Halteu Cinunuk Wanaraja
 
Halteu Pasir Jengkol
 
Halteu Cireungit
 
Halteu Cioyod
 
Halteu Bayongbong
 
Halteu Cisurupan

***

Selasa, 29 Juli 2014

Lanjutan Tema II




A.  Fungsi dan Peran Penduduk dalam Pembangunan
Penduduk adalah modal penting dalam pembangunan nsional. Penduduk seperti apakah yang dapat berperan dan berfungsi dengan baik dalam pembangunan nasional ? Uraian berikut, akan membantumu memahaminya.
1.    Kualitas Penduduk
Apakah kamu mengetahui istilah kualitas penduduk ? Kualitas penduduk sangat terkait dengan kemampuan penduduk untuk mengolah dan memanfaatkan sumber daya alam yang ada, guna memenuhi kebutuhan hidup dan meningkatkan kesejahteraannya. Indikator kualitas atau mutu sumber daya manusia, dapat dilihat dari beberapa aspek, seperti: pendapatan, tingkat pendidikan, dan tingkat kesehatan.
Indikator dari tingkat kesehatan penduduk, dapat dilihat dari: Angka Kematian dan Angka Harapan Hidup. Angka kematian yang tinggi, menunjukkan tingkat kesehatan penduduk yang rendah. Angka harapan hidup yang tinggi, menunjukkan tingkat kesehatan penduduk yang baik. Tingkat kesehatan penduduk juga tidak dapat dilepaskan dari pendapatan penduduk. Semakin tinggi pendapatan penduduk, maka pengeluaran untuk memperoleh pelayanan kesehatan akan semakin tinggi pula.
Masalah kualitas penduduk juga dapat dilihat dari tingkat kemakmuran. Beberapa hal yang mempengaruhi kualitas penduduk Indonesia, adalah: tingkat pendidikan, kondisi kesehatan, dan tingkat pendapatan. Tingkat pendidikan, merupakan potensi sumber daya manusia yang unggul. Tingkat kesehatan, mencerminkan kesejahteraan suatu negara. Pendapatan yang tinggi, sangat mempengaruhi upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat di suatu negara. Ketiga indikator tersebut, saling mempengaruhi satu sama lain.
Dalam bidang pendidikan, tinggi rendahnya tingkat pendidikan masyarakat turut menentukan tinggi rendahnya kualitas sumber daya masyarakat.
Kesehatan yang baik, akan menyebabkan rakyat dapat bekerja secara optimal. Salah satu cara melihat tingkat kesehatan masyarakat, adalah: dengan melihat usia harapan hidup masyarakat. Semakin tinggi usia harapan hidup, berarti kesehatan suatu negara semakin baik.
Tingkat pendapatan juga merupakan ukuran tingkat kesejahteraan masyarakat. Semakin tinggi tingkat pendapatan, semakin baik kesejahteraan masyarakat suatu negara. Semakin rendah angka kemiskinan suatu negara, semakin makmur kehidupan negara tersebut.

Renungkan
Kualitas penduduk adalah kunci keberhasilan pembangunan. Jumlah penduduk yang besar, belum tentu berhasil membawa kemajuan. Tetapi penduduk yang berkualitas, pasti akan mampu membawa kemajuan bangsa dan negara. Oleh karena itu, kamu harus selalu berusaha untuk menjadi penduduk yang berkualitas. Bagaimana caranya ? Belajar giat di sekolah dan di luar sekolah, merupakan cara untuk meningkatkan kualitas diri. Belajar tidak hanya mata pelajaran di sekolah, tetapi juga: belajar berwirausaha, belajar kepemimpinan, belajar budaya masyarakatmu, dan sebagainya.

2.    Kualitas Penduduk dan Pergerakan Nasional
Kualitas penduduk, bukan hanya berpengaruh pada pembangunan nasional saat ini. Perjuangan untuk pembangunan bangsa Indonesia, sangat ditentukan oleh kualitas penduduk Indonesia. Penduduk yang berkualitas, akan melahirkan pemimpin-pemimpin yang berkualitas. Pemimpin yang berkualitas, akan mampu membawa bangsa dan negara dalam kejayaan.
Pentingnya kualitas penduduk dalam perjuangan bangsa Indonesia juga dapat dilihat pada masa pergerakan nasional. Tahukah kamu, bahwa salah satu pendorong lahirnya pergerakan nasional Indonesia adalah karena peningkatan kualitas penduduk di Indonesia. Mengapa demikian ? Kamu akan mempelajarinya pada uraian berikut.
Tahun
1931
1961
Jumlah Penduduk
59,1 juta
97,02 juta
Jumlah Penduduk Melek Huruf
4,4 juta
47,4 juta
Persentase Penduduk Melek Huruf
7,4 %
46,7 %

Berdasarkan indikator pendidikan, kualitas penduduk Indonesia pada masa penjajahan, sangat rendah. Tingkat pendidikan masyarakat Indonesia yang rendah, menyebabkan bangsa asing mudah mengelabui bangsa Indonesia.
Pada awal abad XX, terjadi perubahan penting pada kualitas penduduk Indonesia. Perubahan tersebut, terutama dalam bidang pendidikan. Semakin banyak sekolah berkembang di Indonesia, semakin banyak kaum terpelajar. Kelompok inilah yang berperan besar pada pergerakan nasional bangsa Indonesia. Meningkatnya kualitas penduduk di Indonesia, berpengaruh langsung pada pergerakan kebangsaan Indonesia. Bagaimana proses pergerakan nasional tersebut ? Kamu akan mempelajarinya melalui uraian berikut ini.
a.    Munculnya Nasionalisme Indonesia
Munculnya nasionalisme atau paham kebangsaan Indonesia, dilatarbelakangi oleh berbagai faktor. Faktor apa saja, yang mendorong lahirnya nasionalisme (pergerakan kebangsaan) Indonesia ? Uraian berikut, akan membantumu memahaminya.
1)   Perluasan Pendidikan
Pemerintah Hindia Belanda menerapkan kebijakan Politik Ethis tahun 1901, yaitu: irigasi/pengairan, emigrasi/transmigrasi, dan edukasi/pendidikan. Tiga kebijakan tersebut sebenarnya bertujuan untuk memperbaiki kondisi masyarakat yang semakin terpuruk. Namun pada pelaksanaannya, kebijakan Politik Ethis tetap lebih berpihak kepada penjajah. Dalam pelaksanaannya, banyak penyelewengan dalam politik ethis, seperti:
a)    Irigasi hanya untuk kepentingan perkebunan Belanda.
b)   Emigrasi/transmigrasi hanya untuk mengirim orang-orang Jawa ke luar Jawa guna dijadikan buruh perkebunan dengan upah murah.
c)    Pendidikan hanya sampai tingkat rendah yang bertujuan untuk memenuhi pegawai rendahan. Pendidikan tinggi hanya untuk orang Belanda dan sebagia anak pejabat.
Segi positif yang paling dirasakan bangsa Indonesia adalah pendidikan. Pengaruh pendidikan inilah yang melahirkan paratokoh pemimpin pergerakan nasional Indonesia.
Pendidikan adalah investasi peradaban. Melalui pendidikan, akan tertanamkan pengetahuan dan kesadaran nasionalisme bangsa Indonesia.
Mulai abad XX, perkembangan pendidikan yang diselenggarakan swasta juga semakin banyak. Misionaris agama Kristen dan Katolik, mendirikan berbagai sekolah di pusat-pusat penyebaran agama Kristen. Di beberapa kota berkembang pendidikan berdasarkan keagamaan, seperti: Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, dan sebagainya. Sekolah kebangsaan juga tumbuh, seperti: Taman Siswa dan sekolah-sekolah yang didirikan organisasi pergerakan.
Pendidikan sangat besar peranannya dalam menumbuhkembangkan nasionalisme. Pendidikan menyebabkan terjadinya transformasi ide dan pemikiran yang mendorong semangat pembaharuan masyarakat. Pada masa sekarang, kamu harus senantiasa berupaya meningkatkan kualitas pendidikan.

Renungkan
Pendidikan merupakan modal penting dalam masa pergerakan nasional dan pembangunan sekarang. Sampai saat ini, masih ada sekitar 8,5 juta penduduk Indonesia yang masih buta huruf. Kita tahu, Angka Partisipasi Kasar (APK) tingkat SMP, baru 70%. Sedangkan APK untuk tingkat SMU, baru berkisar 60%. Angka partisipasi untuk Perguruan Tinggi, lebih rendah lagi, yakni: 18,7%. Jumlah mahasiswa di Indonesia, baru berkisar 4,8 juta orang. Padahal, jumlah anak usia belajar di perguruan tinggi berkisar 25 juta orang. Dengan demikian, ada puluhan juta pemuda Indonesia yang terpaksa menjadi tenaga kerja murah atau pengangguran. Kamu dapat berpartisipasi untuk meningkatkan kualitas pendidikan, dengan menuntut ilmu setinggi-tingginya. Kamu juga dapat berperan memberantas buta huruf dan memperluas kesempatan pendidikan, dengan menjadi guru di daerah-daerah terpencil

2)   Kegagalan Perjuangan di Berbagai Daerah
Bangsa Indonesia sadar, berbagai penyebab kegagalan perjuangan kemerdekaan pada masa lalu adalah: perlawanan yang bersifat kedaerahan.
Untuk memahami berbagai penyebab kegagalan rakyat Indonesia diberbagai daerah, dalam mengusir penjajah, lakukan aktivitas berikut.

Aktivitas Kelompok
Kamu telah mempelajari perlawanan rakyat Indonesia di berbagai daerah, dalam menentang kolonialisme dan imperialisme.
1.    Bentuklah kelompok dengan anggota 4-5 orang.
2.    Kalian diskusikan, apa saja penyebab kegagalan perlawanan diberbagai daerah tersebut, dalam mengusir penjajah.
3.    Tuliskan hasil diskusimu dalam format berikut.
No.
Penyebab Kegagalan
Penjelasan















4.    Presentasikan hasil diskusimu di depan kelas.

Setelah melakukan aktivitas di atas, tentu kamu semakin memahami bagaimana kelemahan perjuangan secara kedaerahan. Memasuki abad XX, corak perjuangan bangsa Indonesia berubah menuju perjuangan yang bersifat nasional. Paham kebangsaan atau nasionalisme, telah tumbuh dan menjelma menjadi sarana perjuangan yang sangat kuat. Corak perjuangan nasional bangsa Indonesia, ditandai dengan momentum penting, yaitu: diikrarkan Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928.

3)   Rasa Senasib Sepenanggungan
Perluasan kekuasaan Barat di Indonesia, telah mempengaruhi perubahan politik, ekonomi, dan sosial bangsa Indonesia. Tekanan pemerintah Hindia Belanda kepada bangsa Indonesia, telah memunculkan perasaan kebersamaan rakyat Indonesia sebagai bangsa terjajah.

4)   Berkembangnya Berbagai Paham Baru
Paham-paham baru, seperti: pan-Islamisme, liberalisme, sosialisme, dan komunisme, menjadi salah satu pendorong pergerakan nasional Indonesia. Paham-paham tersebut mengajarkan bagaimana langkah-langkah memperbaiki kondisi kehidupan bangsa Indonesia.

5)   Perkembangan Organisasi Etnik, Kedaerahan, Keagamaan
Organisasi pergerakan nasional, tidak muncul begitu saja. Awalnya, yang berdiri di Indonesia adalah berbagai organisasi etnik, kedaerahan, dan keagamaan.
Organisasi etnik, banyak didirikan oleh pelajar perantau di kota-kota besar. Mereka membentuk perkumpulan berdasarkan latar belakang etnis, seperti: Serikat Pasundan dan Perkumpulan Kaum Betawi yang dipelopori oleh M. Husni Thamrin. Muncul juga organisasi kedaerahan, seperti: Tri Koro Dharmo (1915), Jong Java (1918), dan Jong Sumatranen Bond (1917).
Berbagai organisasi bernapaskan keagamaan pada awal abad XX, sangat mempengaruhi perkembangan kebangsaan Indonesia. Beberapa organisasi bernapaskan keagamaan yang muncul pada masa awal abad XX, misalnya: Jong Islamieten Bond, Muda Kristen Jawi, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, PERSIS (Persatuan Umat Islam), dan Al-Jamiatul Washiyah.
Kaum wanita juga aktif berperan dalam berbagai organisasi, baik organisasi sosial maupun politik. Peran serta perempuan dalam memperjuangkan kemerdekaan, telah ada sejak dulu. Beberapa tokoh pejuang wanita zaman dulu, adalah: RA Kartini, Dewi Sartika, dan Maria Walanda Maramis. RA Kartini adalah putri Bupati Jepara Jawa Tengah, yang memperjuangkan emansipasi (persamaan derajat) antara laki-laki dan perempuan. Beliau mendirikan sekolah khusus untuk perempuan.
Untuk memperluas wawasanmu tentang perkembangan berbagai organisasi pada masa pergerakan nasional, kamu dapat melakukan aktivitas kelompok berikut ini.

Aktivitas Kelompok
1.    Bentuklah kelompok dengan anggota 4-5 orang.
2.    Berkunjunglah ke perpustakaan, kemudian carilah buku tentang perkembangan berbagai organisasi etnik kedaerahan dan keagamaan pada masa perkembangan pergerakan nasional.
3.    Diskusikan bagaimana perkembangan organisasi tersebut pada masa pergerakan nasional.
4.    Tuliskan rangkuman hasil diskusimu, lalu presentasikan di depan kelas.
Nama Organisasi
Sejarah Kelahiran
Tujuan
Bentuk Perjuangan
Jong Java



Tri Koro Darmo



Jong Islamieten Bond



Perkumpulan Pemuda Kristen (PPK)



Muhammadiyah



Nahdlatul Ulama



Taman Siswa



dst




Setelah melakukan aktivitas tersebut, tentu kamu menemukan banyak organisasi, berkembang pada masa pergerakan nasional. Setelah kamu memahami berbagai organisasi perintis pergerakan nasional, berikutnya kamu akan mempelajari bagaimana lahirnya organisasi pergerakan nasional Indonesia.

b.    Lahirnya Organisasi Pergerakan Nasional Indonesia
Gambar 2.15 di atas adalah Museum Kebangkitan Nasional di Jakarta, merupakan gedung bekas STOVIA yang sangat penting artinya bagi kebangkitan nasional Indonesia. Kebangkitan nasional yaitu masa kesadaran bangsa Indonesia untuk berjuang bersama-sama dalam mengusir penjajahan. Tentu kamu masih ingat, mengapa setiap tanggal 20 Mei selalu diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Tanggal 20 Mei 1908, merupakan hari lahir Boedi Oetomo (Budi Utomo), organisasi modernis pertama di Indonesia. Bagaimana sejarah lahirnya BU dan berbagai organisasi lainnya ? Kamu akan menelusuri, melalui uraian di bawah ini.
1)   Budi Utomo
Pada awal abad XX, sudah banyak mahasiswa di kota-kota besar terutama di Pulau Jawa. Sekolah kedokteran bernama STOVIA (School Opleideing van Inlandsche Aartsen) terdapat di Jakarta. Paratokoh mahasiswa kedokteran sepakat untuk memperjuangkan nasib rakyat Indonesia dengan memajukan pendidikan rakyat. Pada tanggal 20 Mei 1908, sebuah organisasi bernama Budi Utomo dibentuk di Jakarta. Ketuanya adalah dr. Sutomo, dengan tokoh lainnya: Gunawan, Cipto Mangunkusumo, dan RT. Ario Tirtokusumo.
2)   Sarekat Islam
Akibat dari persaingan yang tidak sehat antara pedagang pribumi dan pedagang Cina, pada tahun 1911 didirikan Serikat Dagang Islam (SDI) oleh KH. Samanhudi dan RM. Tirtoadisuryo di Solo. Tujuan utama pada awalnya adalah: melindungi kepentingan pedagang pribumi dari ancaman pedagang Cina.
Dalam kongres di Surabaya tanggal 30 September 1912, SDI berubah menjadi Sarekat Islam (SI). Perubahan nama dimaksudkan: agar organisasi lebih terbuka anggota dan kegiatannya. Tahun 1913, SI dipimpin oleh Haji umar Said Cokroaminoto.
Tahun 1923, SI berubah nama menjadi Partai Sarekat Islam (PSI) yang bersifat nonkooperatif terhadap Belanda. Tahun 1927, PSI menetapkan tujuan pergerakan untuk: Indonesia Merdeka berasaskan Islam.

3)   Indische Partij
Indische Partij adalah partai politik pertama di Indonesia, dideklarasikan tanggal 25 Desember 1912. Paratokoh pendiri IP terkenal dengan sebutan: Tiga Serangkai, yaitu: EFE. Douwes Dekker (Danudirjo Setiabudi), dr. Tjipto Mangunkusumo, dan RM. Suwardi Suryaningrat. Tujuannya: mengembangkan semangat nasionalisme bangsa Indonesia. Keanggotaannya pun terbuka bagi semua golongan, tanpa memandang: suku, agama, dan ras.

Wawasan
Pada tahun 1913, terdapat persiapan pelaksanaan perayaan 100 tahun pembebasan Belanda dari kekuasaan Perancis. Belanda meminta rakyat Indonesia untuk turut memperingati hari tersebut. Paratokoh Indische Partij menentang rencana tersebut. Suwardi Suryaningrat menulis artikel yang dimuat dalam harian De Expres, dengan judul: Als Ik een Nederlander was (Seandainya Aku Orang Belanda). Suwardi mengecam Belnda, bagaimana mungkin bangsa terjajah (Indonesia) disuruh merayakan kemerdekaan penjajahnya. Pemerintah Belanda marah, akhirnya Douwes Dekker, Tjipto Mangunkusumo, dan Suwardi Suryaningrat, ditangkap dan dibuang ke negeri Belanda.

4)   Perhimpunan Indonesia (PI)
Semula bernama Indische Vereniging, didirikan oleh orang-orang Indonesia di Belanda tahun 1908. Pada tahun 1922, IV berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging dan pada tahun 1922 berubah lagi menjadi Perhimpunan Indonesia (PI). Nama majalahnya: Hindia Putra, berubah menjadi: Indonesia Merdeka.
Tujuan utamanya adalah: Indonesia Merdeka, memperoleh suatu pemerintahan Indonesia yang bertanggung jawab kepada seluruh rakyat. Tokoh-tokoh PI adalah: Mohammad Hatta, Iwa Kusumasumantri, Sastro Mulyono, Sartono, Gunawan Mangunkusumo, dan Nazir Datuk Pamuncak.
5)   Partai Nasional Indonesia (PNI)
Partai Nasional Indonesia (PNI) didirikan pada tanggal 4 Juli 1927 di Bandung, dipimpin Ir. Sukarno. Tujuan PNI adalah: Indonesia Merdeka, dengan ideologi: Nasionalisme. Keikutsertaan Hatta dalam kegiatan politik Sukarno, semakin membuat PNI sangat kuat.
Kegiatan politik PNI dianggap mengancam pemerintah Belanda, sehingga tokoh PNI ditangkap dan diadili tahun 1929. Sukarno, Maskoen, Gatot Mangkupraja, dan Supriadinata, diadili Belanda. Dalam pembacaan pembelaannya, Sukarno memberi judul: Indonesia Menggugat. Sukarno dan kawan-kawan, kemudian dihukum penjara.
Tahun 1931, PNI dibubarkan. Satono kemudian membentuk Partindo, Hatta dan Sutan Syahrir mendirikan organisasi Pendidikan Nasional Indonesia. Paratokoh tersebut kemudian ditangkap Belanda, dan diasingkan ke Digul Papua.

Renungkan
Karena membela rakyat Indonesia, banyak tokoh dihukum dan dibuang pemerintah kolonial Belanda, seperti: Sukarno, Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan sebagainya. Kaum perjuangan tidak gentar dengan hukuman yang dijatuhkan tersebut, keberanian mereka pantas ditiru oleh pemuda masa kini. Untuk membela kebenaran dan keadilan, kalian tidak perlu takut dengan berbagai hambatan dan tantangan.

Selain lima organisasi di atas, kamu dapat menemukan berbagai organisasi pada masa pergerakan nasional, seperti: Parindra (Partai Indonesia Raya) berdiri tahun 1935 dengan tokoh-tokoh: M. Husni Thamrin, R. Sukardjo, R. Panji Suroso, dan Mr. Susanto. Gerindo (Gerakan Indonesia) didirikan di Jakarta pada bulan April 1937, pemimpinnya mantan pimpinan Partindo yang dibubarkan tahun 1937, seperti: Amir Syarifuddin, Mr. M. Yamin, Mr. Sartono, dan Dr. AK. Gani.
Golongan nasionalis mencoba menggunakan Volksraad sebagai media perjuangan nasional, tujuannya untuk memperkuat wakil-wakil bangsa Indonesia. Pada tahun 1930, M. Husni Thamrin membentuk Fraksi Nasional. Pada tahun 1936, seorang anggota Volksraad bernama Sutarjo, mengajukan petisi yang menuntut kemerdekaan Indonesia berangsur-angsur dalam 10 tahun. petisi ini kemudian dikenal sebagai: Petisi Sutarjo. Petisi tersebut ditolak Belanda dengan alasan bangsa Indonesia belum siap untuk merdeka.
Parapejuang pergerakan nasional kecewa, dan harapan kepada Volksraad tidaklah besar. Pada tahun 1939, dibentuklah federasi/gabungan dari beberapa organisasi politik, yang disebut: Gabungan Politik Indonesia (GAPI), dengan semboyan: Indonesia Berparlemen.

Wawasan
Pada masa pergerakan nasional juga berkembang organisasi yang sangat berpengaruh, yaitu: Partai Komunis Indonesia (PKI). Cikal bakal PKI adalah Indische Social Demokratische Vereeniging (ISDV) yang didirikan oleh HJFM Sneevelt (orang Belanda), tahun 1914 di Semarang. PKI didirikan tanggal 23 Mei 1920, diketuai oleh Semaun. PKI melakukan pemberontakan pertama, dengan menggunakan kekuatan senjata tahun 1926. Pemberontokan tahun 1926 kurang konsolidasi, sehingga justru menyebabkan tokoh-tokohnya ditangkap dan diasingkan ke luar negeri. Pemberontakan ini juga merugikan pergerakan nasional lainnya. Akibat pemberontakan tersebut, Belanda semakin menekan aktivis pergerakan kebangsaan.

c.    Tekad Sumpah Pemuda
Teks sumpah pemuda diikrarkan parapemuda dari berbagai daerah, pada tanggal 20 Oktober 1928 di Jakarta. Ikrar tersebut merupakan tekad untuk memulai jalan baru, mengusir penjajah melalui pergerakan nasional. Bagaimana pengaruh sumpah pemuda terhadap pergerakan nasional bangsa Indonesia ? Uraian berikut ini, akan membantu kamu untuk menelusuri sejarah pergerakan nasional Indonesia.
Perjuangan parapemuda untuk mengikatkan diri dalam bingkai bangsa Indonesia, tidak terbendung. Pada tahun 1925, secara tegas Perhimpunan Indonesia mengeluarkan pernyataan yang berisi tentang: penegasan tekad untuk bersatu dalam mengusir penjajah. Pernyataan tahun 1925 tersebut, sering dikenal dengan: Manifesto Perhimpunan Indonesia, yang mendapat dukungan berbagai organisasi. Manifesto 1925, sangat menggugah kesadaran bangsa Indonesia dan mempengaruhi pola pergerakan nasional bangsa Indonesia. Gagasan Manifesto 1925 terealisasi, saat sumpah pemuda pada Kongres Pemuda II tahun 1928.
Kongres Pemuda II merupakan kelanjutan Kongres Pemuda I tahun 1926. Berdirinya berbagai organisasi pergerakan yang bersifat modern, telah mendorong keinginan untuk bekerja sama. Kongres menyadari akan persamaan banyak kepentingan. Berbagai dialog dilakukan antarpergerakan.
Kesadaran membentuk bingkai pergerakan kebangsaan, mulai tampak dengan berdirinya berbagai organisasi nasionalis yang bersifat terbuka. Mereka tidak lagi memandang latar belakang: etnis, daerah asal, maupun agama. Beberapa organisasi yang awalnya bersifat etnis dan kedaerahan pun kemudian berubah menjadi nasionalis. Komunikasi antartokoh pergerakan, semakin membuka pandangan nasionalisme yang lebih tegas. Langkah-langkah jelas untuk berjuang bersama-sama, dibuktikan dengan terselenggaranya kongres-kongres pemuda.

Wawasan
Panitia Kongres Pemuda II dibentuk pada tanggal 12 Agustus 1928, dengan ketuanya Sugondo Joyopuspito. Susunan panitia, mewakili wilayah di seluruh Indonesia. Beberapa tokoh panitia kongres, adalah: Sugondo (PPPI), Joko Marsaid (Jong Java), M Yamin (Jong Sumatranen Bond), Amir Syarifuddin (Jong Batak), Senduk (Jong Celebes), J Leimena (Jong Ambon), Johan Muh Cai (Jong Islamieten Bond(, dan tokoh-tokoh lainnya.

Kongres Pemuda II diselenggarakan pada tanggal 27-28 Oktober 1928, dihadiri perwakilan organisasi pemuda dari seluruh Indonesia. Dalam kongres ini, keinginan untuk membentuk Negara Indonesia Merdeka semakin tegas. Pada tanggal 28 Oktober 1928, dibacakan keputusan hasil Kongres Pemuda II yang berupa ikrar pemuda, yang terkenal dengan: Sumpah Pemuda.
Selain menghasilkan ikrar Sumpah pemuda, Kongres II juga menetapkan lagu Indonesia Raya ciptaan WR Supratman, sebagai: Lagu Kebangsaan Indonesia, dan menetapkan Bendera Merah Putih sebagai Lambang Negara Indonesia. Selanjutnya, didirikanlah Indonesia Muda tahun 1930 berasaskan kebangsaan dan bertujuan: Indonesia Raya.
Berkat Sumpah Pemuda, persatuan bangsa Indonesia semakin kuat. Rakyat dari Sabang (Aceh) sampai Merauke (Papua), bertekad untuk mengusir penjajah bersama-sama.
Bagaimana sikap pemerintah Belanda terhadap Kongres Pemuda II ? Tentu saja sangat marah dan menekan rapat-rapat yang diselenggarakan paratokoh pemuda. Lagu Indonesia raya, dilarang. Dan penyebutan Indonesia Merdeka, tidak diperbolehkan.
Paratokoh pemuda mencari siasat lain. Pada Kongres III di Yogyakarta tahun 1938, tujuan kemerdekaan Nusa dan Bangsa diganti dengan: menjunjung tinggi martabat nusa dan bangsa. Sejak diikrarkan sumpah pemuda, maka persatuan Indonesia semakin kuat. Perjuangan dilakukan secara bersama-sama, terorganisir, dan tidak tergantung pada satu pemimpin. Perjuangan nasional tersebut akhirnya membuahkan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945.

Renungkan
Kemerdekaan yang dinikmati bangsa Indonesia pada masa sekarang, merupakan jerih payah perjuangan pada masa lalu. Kemerdekaan diperjuangkan melalui kerjasama dan semangat persatuan. Sudah sepantasnya bangsa Indonesia saat ini, selalu menjaga persatuan dan kesatuan agar selalu kuat menahan berbagai ancaman.

Perjuangan parapemuda untuk menunjukkan identitas Indonesia, benar-benar menghadapi kesulitan, tetapi parapemuda tidak pernah putus asa.
Untuk lebih memahami makna pergerakan nasional dan sumpah pemuda bagi kehidupan bangsa Indonesia pada masa sekarang, kerjakan aktivitas di bawah ini.

Aktivitas Kelompok
1.    Bentuklah kelompok dengan anggota 4-5 orang.
2.    Diskusikan makna pergerakan nasional dan Sumpah Pemuda bagi kehidupan bangsa Indonesia masa sekarang. Temukan nilai-nilai yang perlu diamalkan dari peristiwa Sumpah pemuda.
3.    Buatlah rencana kegiatan yang merupakan pengamalan nilai-nilai Sumpah pemuda.
4.    Tuliskan hasil diskusimu pada tabel berikut ini.
No.
Nilai Penting
Pengamatan pada masa sekarang
1.
Persatuan
o    Menjaga kerukunan masyarakat
o    Menghindari terjadinya perpecahan (tawuran pelajar, bentrok antarkelompok)
o    ……………………………………
2.


3.


4.


5.


5.    Presentasikan hasilnya di depan kelas.

3.    Penduduk dalam Pembangunan Nasional
a.    Penduduk sebagai Modal Dasar Pembangunan Nasional
Kamu tentu sering mendengar istilah penduduk dan pembangunan nasional. Apakah yang dimaksud dengan pembangunan nasional ?
Bagaimana untuk mewujudkan tujuan pembangunan nasional tersebut ? Syarat utama tentu bangsa Indonesia harus memiliki modal dasar. Modal dasar pembangunan nasional adalah segala sumber kekuatan nasional yang dimiliki dan didayagunakan bangsa Indonesia dalam pembangunan nasional. Modal dasar pembangunan nasional Indonesia, antara lain: Kemerdekaan dan Kedaulatan, Jiwa dan Semangat Persatuan, Wilayah Nusantara, Kekayaan Alam Yang Beranekaragam, Penduduk, serta Adat Istiadat dan Budaya Bangsa.
Apabila semua potensi tersebut dimanfaatkan secara optimal, tentu keberhasilan pembangunan nasional akan tercapai.
Apakah kamu memahami peranan penduduk dalam pembangunan nasional ?
Tujuan dari pembangunan ekonomi adalah: meningkatkan kesejahteraan penduduk negara yang bersangkutan. Tingkat kesejahteraan penduduk, biasa diukur dengan kenaikan penghasilan riil per kapita. Penghasilan riil per kapita adalah sama dengan pendapatan nasional riil secara keseluruhan yang dihasilkan selama satu tahun, dibagi dengan seluruh jumlah penduduk. Dari pengertian di atas terlihat, bahwa: tingkat kesejahteraan penduduk akan tercapai jika pendapatan nasional riil meningkat lebih cepat dibandingkan pertumbuhan penduduk.
Ada dua faktor yang dapat mempengaruhi tinggi-rendahnya pendapatan riil suatu negara. Kedua faktor tersebut adalah: penduduk dan tenaga kerja (human resources). Dilihat dari peranannya, penduduk memiliki dua peranan penting dalam meningkatkan hasil pembangunan ekonomi suatu negara.

Renungkan
Bagaimana peranan penduduk dalam pembangunan ekonomi di Indonesia ? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kamu perlu memahami kualitas penduduk di Indonesia. Jika kualitas penduduk di Indonesia tinggi, maka akan dapat menjadi modal dasar pembangunan. Jika tidak, akan menjadi beban/masalah dalam pembangunan ekonomi. Sekarang yang perlu kamu pikirkan adalah: bagaimana cara meningkatkan kualitas penduduk di Indonesia ? Tentu jawabnya, mulai sekarang kalian harus belajar dengan baik agar di masa depan, kamu dapat menjadi sumber daya manusia yang berkualitas, sehingga dapat menjadi modal dasar dalam pembangunan.

Dari segi permintaan, penduduk bertindak sebagai konsumen. Sedangkan dari segi penawaran, penduduk bertindak sebagai produsen. Oleh karena itu, perkembangan penduduk yang cepat, tidaklah selalu merupakan penghambat bagi jalannya pembangunan ekonomi, jika penduduk ini mempunyai kapasitas yang tinggi untuk menghasilkan dan menyerap hasil produksi yang dihasilkan.
Seperti telah dipaparkan di atas, pertambahan penduduk yang pesat, justru menyumbang terhadap kenaikan penghasilan riil per kapita, jika penduduk itu berkualitas. Hal ini disebabkan karena penduduk yang berkualitas, pada umumnya mempunyai tabungan yang siap untuk melayani kebutuhan investasi, sehingga tambahan penduduk yang berkualitas akan menambah potensi masyarakat sebagai konsumen potensial (captive market).
Bertambahnya penduduk, justru akan menciptakan/memperbesar permintaan secara keseluruhan, terutama untuk investasi. Pertambahan penduduk itu, tidak sekedar sebagai tambahan penduduk, melainkan juga sebagai suatu kenaikan dalam daya beli (purchasing power). Oleh karena itu, apabila terjadi penurunan jumlah penduduk, maka akan menyebabkan turunnya rangsangan untuk mengadakan investasi sehingga mengakibatkan permintaan juga akan turun.
Namun sebaliknya, jika penduduk tidak berkualitas, maka perkembangan penduduk yang cepat, justru akan menghambat perkembangan ekonomi.
Selain penduduk, ada beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan pembangunan, yaitu: sosial budaya, wilayah, sumber daya alam, teknologi, modal, disiplin nasional, manajemen nasional, serta perkembangan regional dan global.
Setelah kamu mempelajari tentang penduduk sebagai modal dasar pembangunan, kamu perlu mengetahui indikator dari pembangunan. Salah satu indikator untuk mengukur keberhasilan pembangunan, adalah: menggunakan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Apakah IPM itu ? Untuk memahaminya, bacalah uraian berikut ini.

b.    Indeks Pembangunan Manusia dan Pembangunan Nasional
1)      Pengertian Indeks Pembangunan Manusia
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI), merupakan indeks pembangunan manusia yang digunakan untuk mengukur pencapaian hasil pembangunan dari suatu wilayah/daerah dalam tiga dimen dasar pembangunan, yaitu: Lamanya Hidup, Pengetahuan/Tingkat Pendidikan, dan Standar Hidup Layak.
IPM dikembangkan oleh ahli ekonomi dari India (Amartya Sen) dan Pakistan (Mahbub ul-Haq), dibantu oleh Gustav Ranis dari Yale University dan Lord Meghnad Desai dari London School of Economics pada 1990. Sejak itu, indeks ini dipakai oleh Program Pembangunan PBB pada laporan IPM tahunannya.
2)      Unsur Dasar IPM
Sesuai dengan pengertian di atas, untuk mengukur IPM, digunakan tiga unsur dasar pembangunan manusia, yaitu: Usia Harapan Hidup, Pengetahuan, dan Standar Hidup Layak.
a)      Usia Harapan Hidup
Usia harapan hidup mencerminkan usia maksimum yang diharapkan seseorang untuk bertahan hidup. Pembangunan manusia, harus lebih mengupayakan agar penduduk dapat mencapai usia harapan hidup yang panjang. Indikator Harapan Hidup, meliputi antara lain:
(1)    Angka Kematian Bayi.
(2)    Penduduk yang diperkirakan tidak mencapai usia 40 tahun.
(3)    Persentase penduduk dengan keluhan kesehatan.
(4)    Persentase penduduk yang sakit (morbilitas).
(5)    Rata-rata Lama Sakit.
(6)    Persentase penduduk yang melakukan pengobatan sendiri.
(7)    Persentasi kelahiran ditolong oleh tenaga medis.
(8)    Persentase balita kurang gizi.
(9)    Persentase rumah tangga yang mempunyai akses ke sumber air minum bersih.
(10)  Persentase rumah tangga yang menghuni rumah berlantai tanah.
(11)  Persentase penduduk tanpa akses terhadap fasilitas kesehatan.
(12)  Persentase rumah tangga tanpa akses terhadap sanitasi.
b)      Pengetahuan
Pengetahuan/tingkat pendidikan juga diakui secara luas sebagai unsur mendasar dari pembangunan manusia. Indikator pendidikan meliputu antara lain: Angka Melek Huruf, Rata-rata Lama Sekolah, Angka Partisipasi Sekolah, Angka Putus Sekolah (drop out/DO), dan lain-lain.
c)      Standar Hidup Layak
Unsur dasar pembangunan manusia yang ketiga adalah: standar hidup layak. Indicator standar hidup layak, dilihat dari daya beli, meliputi antara lain:
(1)   Jumlah yang bekerja.
(2)   Jumlah pengangguran terbuka.
(3)   Jumlah dan persentase penduduk miskin.
(4)   PDRB riil per kapita.
3)      Kegunaan IPM
Kegunaan IPM adalah untuk mengklasifikasikan, apakah sebuah negara adalah: Negara Maju, Negara Berkembang, atau Negara Terbelakang.
Rumus IPM secara sederhana menggunakan perhitungan: IPM = 1/3 (A+B+C)
Keterangan: A = Indeks Harapan Hidup, B = Indeks Pendidikan, C = Indeks Hidup Layak
4)      IPM Indonesia
IPM di Indonesia digunakan sebagai indikator keberhasilan upaya membangun kualitas hidup manusia (masyarakat/penduduk) yang dijadikan sebagai salah satu ukuran kinerja daerah.
Perhatikan tabel 2.3 IPM setiap provinsi tahun 2008-2012 berikut.
No.
Provinsi
2008
2009
2010
2011
2012
1.
Aceh
70.76
71.31
71.70
72.16
72.51
2.
Sumatera Utara
73.29
73.80
74.19
74.65
75.13
3.
Sumatera Barat
72.96
73.44
73.78
74.28
74.70
4.
Riau
75.09
75.60
76.07
76.53
76.90
5.
Jambi
71.99
72.45
72.74
73.3
73.78
6.
Sumatera Selatan
72.05
72.61
72.95
73.42
73.99
7.
Bengkulu
72.14
72.55
72.92
73.4
73.93
8.
Lampung
70.30
70.93
71.42
71.94
72.45
9.
Bangka Belitung
72.19
72.55
72.86
73.37
73.78
10.
Kepulauan Riau
74.18
74.54
75.07
75.78
76.20
11.
DKI Jakarta
77.03
77.36
77.60
77.97
78.33
12.
Jawa Barat
71.12
71.64
72.29
72.73
73.11
13.
Jawa Tengah
71.60
72.10
72.49
72.94
73.36
14.
DI Yogyakarta
74.88
75.23
75.77
76.32
76.75
15.
Jawa Timur
70.38
71.06
71.62
72.18
72.83
16.
Banten
69.70
70.06
70.48
70.95
71.49
17.
Bali
70.98
71.52
72.28
72.84
73.49
18.
Nusa Tenggara Barat
64.12
64.66
65.20
66.23
66.89
19.
Nusa Tenggara Timur
66.15
66.60
67.26
67.75
68.28
20.
Kalimantan Barat
68.17
68.79
69.15
69.66
70.31
21.
Kalimantan Tengah
73.88
74.36
74.64
75.06
75.46
22.
Kalimantan Selatan
68.72
69.30
69.92
70.44
71.08
23.
Kalimantan Timur
74.52
75.11
75.56
76.22
76.71
24.
Sulawesi Utara
75.16
75.68
76.09
76.54
76.95
25.
Sulawesi Tengah
70.09
70.70
71.14
71.62
72.14
26.
Sulawesi Selatan
70.22
70.94
71.62
72.14
72.70
27.
Sulawesi Tenggara
69.00
69.52
70.00
70.55
71.05
28.
Gorontalo
69.29
69.79
70.28
70.82
71.31
29.
Sulawesi Barat
68.55
69.18
69.64
70.11
70.73
30.
Maluku
70.38
70.96
71.42
71.87
72.42
31.
Maluku Utara
68.18
68.63
69.03
69.47
69.98
32.
Papua Barat
67.95
68.58
69.15
69.65
70.22
33.
Papua
64.00
64.53
64.94
65.36
65.86
Rata-rata
70.88
71.40
71.86
72.37
72.87

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, diketahui Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di berbagai daerah di Indonesia, cenderung membaik. Data tersebut seiring hasil evaluasi dari Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Development Programme/ UNDP), Pemerintah indonesia, dan Badan Kerjasama Internasional Jerman (GIZ).
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebagai salah satu indikator kesejahteraan masyarakat, ternyata semakin membaik selama dua dekade terakhir.

Mengenal Tokoh
Mahbub ul-Haq (1934-1998), merupakan tokoh Pakistan yang mengembangkan Indeks Pembangunan Manusia/Human Development Indeks, bersama Amartya San. IPM dipakai oleh Program Pembangunan PBB pada laporan IPM tahunannya.

Untuk lebih memahami kondisi IPM di Indonesia, lakukan aktivitas kelompok berikut.

Aktivitas Kelompok
1.    Bentuklah kelompok dengan anggota 3-4 orang.
2.    Berdasarkan tabel di atas, hitunglah rata-rata IPM tahun 2012 pada setiap kawasan wilayah di tabel berikut.
3.    Tuliskan hasil perhitunganmu dalam tabel berikut.
No.
Kawasan/Provinsi
Rata-rata IPM 2012
Perbandingan dengan Rata-rata Nasional
1.
Sumatera, Jawa, dan Bali.

Di atas Rata-rata Nasional
2.
Kalimantan dan Sulawesi


3.
Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua.



Tabel di atas menunjukkan bahwa pada tahun 2011, IPM kawasan Sumatera, Jawa, dan Bali, pada umunya berada di atas rata-rata nasional.
Peningkatan IPM ini ditunjukkan oleh penurunan tingkat kemiskinan. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2009, tingkat kemiskinan di pedesaan mencapai 17,35% dari jumlah penduduk di pedesaan, sedangkan di perkotaan sebesar 10,72%.
Peningkatan lainnya pada sektor pendidikan yang diprediksi pada tahun 2014, semua warga negara Indonesia usia sekolah dasar atau sederajat dan SMP atau sederajat, akan melampauinya.
Pemerintah Indonesia menyampaikan, bahwa: Hasil evaluasi awal pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) periode 2010-2014, menemukan kekuatan ekonomi baru (emerging economy), yakni: Sulawesi dan Kalimantan.
Perlu kamu ketahui juga, posisi IPM Indonesia relatif tertinggal dibanding dengan negara-negara tetangga.
Nilai IPM Indonesia pada 2012, meningkat menjadi 0,629. Menjadikannya naik tiga posisi ke peringkat 121 dari peringkat 124 pada 2011 (0,624) dari 187 negara. Menduduki peringkat yang sama dengan Indonesia, adalah: Afrika Selatan dan Kiribati. Antara tahun 1980 dan 2012, nilai IPM Indonesia meningkat dari 0,422 menjadi 0,629 (atau meningkat 49 persen), dikarenakan kenaikan angka harapan hidup pada periode yang sama, dari 57,6 tahun menjadi 69,8 tahun saat ini.
Tingkat harapan lamanya bersekolah, meningkat dari 8,3 tahun (pada 1980) menjadi 12,9 tahun (pada 2012), artinya: anak usia sekolah di Indonesia, memiliki harapan mengenyam bangku pendidikan selama 12,9 tahun atau mencapai tingkat pertama jenjang perguruan tinggi.
Meski naik tiga peringkat, IPM Indonesia masih dibawah rata-rata dunia 0,694 atau regional 0,683. Indonesia dikategorikan sebagai “Negara Pembangunan Menengah” bersama 45 negara lainnya.
Peringkat Indonesia masih jauh dibawah beberapa negara anggota ASEAN, termasuk: Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia, Thailand, dan Filipina. Singapura memiliki IPM tertinggi diantara negara-negara ASEAN dengan 0,895 dan peringkat 18 di seluruh dunia. Brunei memiliki IPM 0,855 dan berada diperingkat 30, sementara Malaysia memiliki IPM 0,769 dengan peringkat 64. Thailand dan Filipina, masing-masing ada diperingkat 103 dan 104 dengan IPM 0,690 dan 0,654. Negara ASEAN lain, seperti: Vietnam, Laos, dan Kamboja, ada di bawah Indonesia.
Negara yang menduduki peringkat pertama, adalah: Norwegia, diikuti oleh Australia dan Amerika Serikat. Sementara, IPM terendah dicatat oleh Republik Demokratik Kongo dan Nigeria.
IPM/HDI Indonesia pada tahun 2012, Indonesia berada pada urutan 124 dari 178 negara. Tahun 2013 naik peringkat, berada di urutan 121 dari 185 negara. Indonesia termasuk dalam kelompok negara-negara berkembang. Karena itu, bangsa Indonesia harus terus berjuang untuk mencapai peningkatan IPM/HDI.

Renungkan
IPM sangat dipengaruhi oleh: pendidikan, kesehatan, dan pendapatan masyarakat. Meningkatnya pendapatan masyarakat, akan mengakibatkan meningkatnya tingkat pendidikan masyarakat. Demikian juga, naiknya tingkat pendidikan masyarakat, akan meningkatkan pendapatan masyarakat. Karena itu, kalian harus belajar giat dan menuntut ilmu setinggi-tingginya, agar dapat berpartisipasi dalam mengisi pembangunan nasional.

Latihan
Untuk melatih kemampuanmu dalam menguasai materi di atas, kerjakan latihan di bawah ini.
Tingkatan
Soal
Menjelaskan
Jelaskan indikator kualitas penduduk yang baik.
Menerapkan
Jelaskan alasan tingkat kesehatan penduduk, menjadi salah satu indikator kualitas penduduk di Indonesia.
Menganalisis
Bagaimana hubungan politik ethis terhadap munculnya golongan terpelajar dan pergerakan nasional Indonesia.
Mengevaluasi
Bagaimana kelebihan perjuangan pergerakan nasional dibandingkan perjuangan perlawanan rakyat diberbagai daerah dalam mengusir penjajah.
Mengkreasi
Susunlah salah satu kegiatan yang dapat kamu lakukan sebagai pelajar, untuk mendukung peningkatan kualitas penduduk dalam bidang pendidikan.

Setelah kamu memahami materi tema 2, untuk meningkatkan penguasaanmu tentang tema 2, kerjakan tugas proyek berikut ini.

Proyek
A.  Perhatikan perintah di bawah ini.
1.      Berdasarkan uraian yang telah kalian pelajari pada tema ini, buatlah proyek untuk menjawab beberapa pertanyaan berikut ini.
2.      Lakukan pengamatan di kantor desa dan wawancara kepada perangkat desa di tempat tinggalmu, tentang: jumlah, persebaran, pertumbuhan, komposisi, dan migrasi.
3.      Lakukan analisis terhadap data yang kamu peroleh.
4.      Hasil analisis, kamu gunakan untuk menjawab pertanyaan di bawah ini.
a.       Jelaskan: jumlah, persebaran, dan pertumbuhan penduduk di desa/kelurahan tempat tinggal.
b.      Gambarkan komposisi penduduk di desa/kelurahan tempat tinggal.
c.       Deskripsikan tentang kejadian migrasi di desa/kelurahan tempat tinggal.
B.  Buatlah laporan hasil proyek kalian, sesuai petunjuk pada tabel di bawah ini.
Kegiatan
Aktivitas
Persiapan
Mempersiapkan bahan-bahan, alat-alat serta cara kerja alat atau bahan yang dibuat.
1.    Bahan yang disiapkan, antara lain:
o  Sumber data yang akan diminta informasi (orang atau sumber)
o  Penjelasan/definisi tentang: jumlah, persebaran dan pertumbuhan, komposisi dan migrasi.
2.    Alat-alat atau instrumen yang digunakan, antara lain:
Lembar observasi berupa tabel isian, tentang: jumlah, persebaran dan pertumbuhan, komposisi dan migrasi.
Tabel Jumlah Penduduk Desa/Kelurahan Tiga Tahun Terakhir
Aspek
Indikator
2012
2013
2014
Jumlah




Komposisi
Laki-laki




Perempuan




Muda




Dewasa




Tua




SD




SMP




SMA



Pertumbuhan




Migrasi
Nasional




Urbanisasi




3.    Cara kerja: dijelaskan cara mengisi instrumen dan sumber informasi
Pengumpulan Data
Teknik yang digunakan
Pengumpulan data (bergiliran atau dibagi menjadi kelompok kecil)
Pengolahan Data
Melakukan tabulasi data yang diperoleh dari tabel sesuai dengan: jumlah, persebaran, pertumbuhan, dan komposisi serta migrasi.
Pelaporan Tertulis
Pelaporan ditulis dalam kertas ukuran… font… jenis huruf…
Urutan laporan: 1) pendahuluan (latar belakang dan pertanyaan penelitian), 2) kegiatan observasi, 3) hasil dan pembahasan, 4) kesimpulan.
Laporan dipresentasikan di depan kelas.
Waktu pengumpulan laporan, ditentukan oleh guru.

***