Senin, 14 Juli 2014

Hari Nusantara



“Segala perairan di sekitar, di antara dan yang menghubungkan pulau-pulau atau bagian pulau-pulau yang termasuk daratan negara Republik Indonesia, dengan tidak memandang luas atau lebarnya adalah bagian-bagian yang wajar daripada wilayah daratan negara Republik Indonesia dan dengan demikian merupakan bagian daripada perairan nasional yang berada di bawah kedaulatan mutlak daripada negara Republik Indonesia. Lalu-lintas yang damai diperairan pedalaman ini bagi kapal-kapal asing dijamin selama dan sekedar tidak bertentangan dengan/mengganggu kedaulatan dan keselamatan negara Indonesia. Batas laut teritorial Indonesia yang sebelumnya 3 mil diperlebar menjadi 12 mil diukur dari garis yang menghubungkan titik-titik ujung terluar pada pulau-pulau dari wilayah negara Indonesia pada saat air laut surut.” Deklarasi Djuanda, 13 Desember 1957.

Latar Belakang
Muhammad Yamin dalam rapat BPUPKI tahun 1945, menyatakan: “Tanah air Indonesia ialah terutama daerah lautan dan mempunyai pantai yang panjang. Bagi tanah yang terbagi atas beribu-ribu pulau, maka semboyan “mare liberum” –laut merdeka menurut ajaran Hugo Grotius itu dan yang diakui oleh segala bangsa dalam segala seketika tidak tepat dilaksanakan dengan begitu saja, karena kepulauan Indonesia tidak saja berbatasan dengan Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, tetapi juga berbatasan dengan beberapa lautan dan beribu-ribu selat yang luas atau yang sangat sempit. Di bagian selat dan lautan sebelah dalam, maka dasar “laut merdeka” tidak dapat dijalankan, dan jikalau dijalankan akan sangat merendahkan kedaulatan negara dan merugikan kedudukan pelayaran, perdagangan laut dan melemahkan pembelaan negara. Oleh sebab itu, maka dengan penentuan batasan negara, haruslah pula ditentukan daerah, air lautan manakah yang masuk lautan lepas. Tidak menimbulkan kerugian, jikalau bagian Samudera Hindia Belanda, Samudera Pasifik dan Tiongkok Selatan diakui menjadi laut bebas, tempat aturan laut merdeka. Sekeliling pantai pulau yang jaraknya beberapa kilometer sejak air pasang-surut dan segala selat yang jaraknya kurang dari 12 km antara kedua garis pasang-surut, boleh ditutup untuk segala pelayaran di bawah bendera negara luaran selainnya dengan seizin atau perjanjian negara kita.”
M. Yamin secara eksplisit menyebutkan untuk “menutup wilayah laut pedalaman”, pendapat demikian pada waktu itu tidak lazim dalam hubungan antarnegara. Selain itu, kita hanya memiliki aturan hukum wilayah laut warisan dari Belanda, yakni: TZMKO 1939 –Territoriale Zee en Marietieme Kringen Ordonantie, yang hanya mengatur lebar laut teritorial sejauh tiga mil saja. Dalam ketentuan Ordonantie 1939 tersebut, memuat empat kelompok mengenai perairan Indonesia. Pertama, apa yang disebut dengan “de Nederlandsch Indische territoriale zee” –Laut Teritorial Indonesia. Kedua, apa yang disebut dengan “Het Nederlandsch-indische Zeege bied” –Perairan Teritorial Hindia Belanda, termasuk bagian laut teritorial yang terletak pada bagian sisi darat laut pantai, daerah luar dari teluk-teluk, ceruk-ceruk laut, muara-muara sungai dan terusan. Ketiga, apa yang dinamakan “de Nederlandsch-Indische Binnen Landsche wateren” yaitu semua perairan yang terletak pada sisi darat laut teritorial Indonesia termasuk sungai-sungai, terusan-terusan dan danau-danau, dan rawa-rawa Indonesia. Keempat, apa yang dinamakan dengan “de Nederlandsch-Indische Wateren“, yaitu laut teritorial termasuk perairan pedalaman Indonesia. Dengan demikian, Ordonantie 1939 –Staatblad tahun 1939 No.442 tersebut memunculkan banyak wilayah laut bebas di antara pulau-pulau yang ada di Indonesia. Laut bebas ini, membuat wilayah Indonesia menjadi: terpisah-pisah.
Pasca kemerdekaan, pemerintah Republik Indonesia tidak mempunyai waktu untuk membenahi masalah perbatasan. Pertama, konsentrasi pemerintah terkuras untuk mengurus masalah dalam negeri yang penuh gejolak. Kedua, ada masalah Papua Barat yang masih ditongkrongi Belanda. Masalah perbatasan Indonesia, mulai mendapat perhatian di masa Kabinet Ali Sastroamidjojo II (24 Maret 1956 – 14 Maret 1957). Gagasan untuk mengubah Ordonantie 1939 muncul atas desakan dari beberapa departemen yang merasa hukum laut warisan Belanda itu tidak dapat melindungi keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Adanya laut bebas itu, dikhawatirkan akan digunakan oleh kapal-kapal Belanda untuk mengganggu kedaulatan negara. Apalagi pada waktu itu, kita masih bersengketa mengenai status Irian Barat. Atas dasar itulah, Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo membentuk sebuah tim yang ditugaskan untuk membuat Rancangan Undang-Undang tentang Wilayah Perairan Indonesia dan Lingkungan Maritim. Tim ini terbentuk berdasarkan Keputusan Perdana Menteri RI No. 400/P.M./1956, dan dipimpin oleh Kolonel Laut R.M.S. Pirngadi. Setelah hampir satu tahun lebih, tim Pirngadi akhirnya dapat menyelesaikan rencana RUU Wilayah Perairan Indonesia dan Lingkungan Maritim. Sebagian besar isi dari RUU itu hampir sama dengan Ordonantie 1939, namun memiliki perbedaan pada penentuan garis teritorial yang sebelumnya 3 mil, menjadi 12 mil laut. RUU tersebut belum sempat disetujui, karena Kabinet Ali Sastroamidjojo II kemudian bubar, dan digantikan oleh Kabinet Djuanda (9 April 1957 – 10 Juli 1959).

Deklarasi Djuanda
MR. Mochtar Kusumaatmaja
Kabinet Djuanda –Djuanda Kartawidjaja yang merupakan zaken kabinet (kabinet ahli) masih melanjutkan RUU Wilayah Perairan Indonesia dan Lingkungan Maritim, dengan menugaskan Meester in de Rechten Mochtar Kusumaatmaja untuk mencari dasar hukum untuk mempertahankan wilayah Republik Indonesia. Mr. Mochtar Kusumaatmaja kemudian memberikan gagasan yang disebut Archipelagic Principle yang telah ditetapkan oleh Mahkamah Internasional pada tahun 1951. Dengan demikian, tim tersebut telah berhasil menyusun lebar laut teritorial seluas 12 mil sesuai dengan perkembangan yang terjadi dalam hukum internasional. Kemudian Chaerul Saleh –Menteri Veteran mendatangi Mr. Mochtar Kusumaatmaja, dan tidak setuju dengan usulan tim penyusun. Alasannya adalah: jika aturan diterapkan, maka: “terdapat laut bebas antara pulau-pulau di Indonesia sehingga kapal-kapal asing bisa bebas keluar masuk”. Hal tersebut jelas dapat “mengganggu” kedaulatan Indonesia yang masih berumur muda. Saran dari Chaerul Saleh adalah untuk menutup perairan dalam –Laut Jawa sehingga tidak ada kategori laut bebas didalamnya. Chaerul Saleh berpendapat demikian dengan alasan strategis, yaitu: demi menjaga kesatuan –integral wilayah Indonesia, karena Chaerul Saleh mempunyai latar belakang militer. Mochtar berjanji, masukan dari Chaerul Saleh tersebut akan didiskusikan dengan tim –meski ide Chaerul Saleh tersebut, sebenarnya bertentangan dengan hukum internasional pada saat itu. Mochtar menerima ide Chaerul Saleh, karena hampir sama dengan pendapat negara Norwegia di Mahkamah Internasional pada kasus: “Norwegian Fisheries Case” tahun 1951. Sebagai alternatif terhadap RUU dan gagasan Archipelagic Principle itu, kemudian dibuatlah konsep ’Asas Negara Kepulauan’. Konsepsi ini memandang: “segala perairan di sekeliling dan di antara pulau-pulau dinyatakan sebagai bagian yang integral dari wilayah Indonesia”. Ir. Djuanda mempunyai pemikiran bahwa harus segera mengesahkan RUU tersebut, karena banyak kapal Belanda yang melakukan intervensi dari dan menuju New Guinea di zona laut yang bebas. Hari Jumat, 13 Desember 1957, tim RUU Laut Teritorial menghadap kepada Perdana Menteri Djuanda. PM. Djuanda meminta untuk dijelaskan perihal hasil rancangan tim, dan Mochtar Kusumaatmadja sebagai ahli hukum internasional –hukum laut tampil ke depan untuk menjelaskan. Gagasan Mr. Mochtar Kusumaatmaja yang menggunakan Asas Negara Kepulauan, diterima pada saat sidang parlemen tanggal 13 Desember 1957. Kemudian, diputuskan untuk mengeluarkan sebuah deklarasi. Selanjutnya, pemerintah mengeluarkan pengumuman yang dikenal kemudian sebagai Deklarasi Djuanda. Fakta di atas memunculkan “tiga aktor” penting hingga dikeluarkanya Deklarasi Djuanda, yaitu; Djuanda Kartawidjaja; Mochtar Kusumaatmadja; dan Chaerul Saleh. Satu hal yang pasti ialah Deklarasi Djuanda merupakan keputusan PM. Djuanda, karena posisi dia saat itu sebagai pengambil kebijakan.

Perjuangan Diplomasi
Dengan dikeluarkannya peraturan tersebut, maka Ordonantie 1939 sudah tidak berlaku lagi di Indonesia, dan garis teritorial laut Indonesia –yang sebelumnya 3 mil menjadi 12 mil. Namun, tidak lama setelah Indonesia mengeluarkan peraturan tersebut, muncul beberapa reaksi terhadap peraturan tersebut. Reaksi protes datang dari beberapa negara seperti dari Amerika Serikat –pada tanggal 30 Desember 1957; Inggris –tanggal 3 Januari 1958; Australia –3 Januari 1958; Belanda –3 Januari 1958; Perancis –8 Januari 1958; dan Selandia Baru –11 Januari 1958. Reaksi penolakan tersebut sudah dipikirkan oleh pemerintah Indonesia, dan sudah pula diumumkan bahwa reaksi-reaksi dari berbagai negara tersebut akan diperhatikan dan dibahas dalam konferensi internasional mengenai hak-hak atas lautan yang akan diadakan pada 1958 di Jenewa. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia telah siap dengan reaksi protes yang diajukan dan siap berdebat pada konferensi di Jenewa.
Delegasi Indonesia yang datang pada konferensi internasional mengenai hak-hak atas lautan yang diadakan di Jenewa, terdiri atas: Mr. Ahmad Subardjo Djojohadisuryo, S.H. –pada waktu itu menjabat sebagai Duta Besar RI di Swiss; Mr. Mochtar Kusumaatmadja; Goesti Moh. Chariji Kusuma; dan M. Pardi –Ketua Mahkamah Pelayaran. Dalam kesempatan itu, delegasi Indonesia mengemukakan asas “Archipelagic Principle” dalam pidatonya. Inilah untuk pertama kalinya, masyarakat internasional mendengar penjelasan mengenai implementasi “Archipelagic Principle” terhadap suatu negara yang melahirkan “Archipelagic State Principle”yang pada waktu itu masih asing bagi dunia internasional. Asing, karena asas ini eksis tapi belum ada satu pun negara di dunia yang menggunakannya. Meskipun telah dijelaskan lewat pidato, negara-negara yang pernah menyampaikan protes kepada pemerintah Indonesia belum dapat menerima. Hanya saja, Indonesia mendapatkan dukungan dari: Ekuador; Filipina; dan Yugoslavia. Pemerintah Indonesia kemudian menggunakan beberapa cara untuk mendapat simpati dari negara-negara lain, misalnya dengan menyebarkan tulisan: “The Indonesian Delegation to the Conference on the Law of the Sea. Usaha itu mulai membuahkan hasil, dan setelah itu mulai banyak negara-negara yang bersimpati dengan perjuangan Indonesia.
Pemerintah Indonesia kemudian merancang peraturan 13 Desember 1957 menjadi undang-undang agar kedudukannya menjadi lebih kuat. Pada tahun 1960 pengumuman tersebut dituangkan dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (PERPU) No. 4/ 1960, selanjutnya diresmikan menjadi UU No.4/PRP/1960 tentang “Perairan Indonesia”. Dengan peraturan tersebut, luas wilayah Republik Indonesia berganda 2,5 kali lipat dari 2.027.087 km² menjadi 5.193.250 km² dengan pengecualian Irian Jaya –Papua Barat yang walaupun wilayah Indonesia tapi waktu itu belum diakui secara internasional. Produk hukum inilah yang kemudian juga disampaikan pada Konferensi Hukum Laut PBB kedua yang diselenggarakan tahun 1960, namun usul Indonesia masih belum dapat diterima. Pada tahun 1962, Indonesia kembali menerbitkan PERPU No. 8/ 1962 mengenai “Lalu-lintas Laut Damai Kapal Asing dalam Perairan Indonesia”, dan masih terus menyempurnakan implementasi Asas Negara Kepulauan dalam sistem hukum di Indonesia. Jalan Indonesia untuk memperjuangkan diakuinya Asas Negara Kepulauan mulai menemui kemudahan ketika pada tahun 1971 Indonesia dipilih menjadi anggota Committee of the Peaceful Uses of the Sea-Bed and Ocean Floor beyond the Limit of National Jurisdiction yang merupakan badan PBB untuk mempersiapkan Konferensi Hukum Laut PBB. Dipilihnya Indonesia sebagai anggota badan tersebut, membuat Indonesia lebih mudah dalam menyosialisasikan implementasi prinsip negara kepulauan agar mendapatkan pengakuan dari pihak internasional. Pada tanggal 12 Maret 1980, dengan menggunakan dasar Hukum Laut Internasional mengenai Economic Exclusive ZoneZone Ekonomi Eksklusif (ZEE) Pemerintah Indonesia juga mengumumkan peraturan tentang ZEE selebar 200 mil diukur dari garis dasar. Pada tahun 1983, pengumuman ini disahkan menjadi Undang-Undang RI No. 5/ 1983.

Kemenangan Indonesia
Konsep negara kepulauan sendiri, baru disetujui oleh mayoritas negara-negara di dunia pada 10 Desember 1982 pada Konvensi Hukum Laut Internasional PBB ketiga –United Nations Convention on the Law of The Sea (UNCLOS). Deklarasi Djuanda yang diterima dan ditetapkan dalam konvensi hukum laut PBB tersebut, dipertegas kembali oleh pemerintah RI dengan UU Nomor 17 Tahun 1985 tentang “Pengesahan UNCLOS 1982 bahwa Indonesia adalah negara kepulauan”. Tidak hanya konsep negara kepulauan saja yang disetujui, namun juga mengenai ZEE. Lebih dari itu, konsep negara kepulauan juga dimasukkan sebagai bagian dari Konvensi Hukum Laut PBB. Suatu kemenangan diplomasi Indonesia yang patut dicatat sejarah. Berdasarkan fakta sejarah itulah, maka pada tahun 1999, Presiden Abdurrahman Wahid mencanangkan tanggal 13 Desember sebagai Hari Nusantara. Penetapan Hari Nusantara ini dipertegas oleh Presiden Megawati dengan menerbitkan Keputusan Presiden RI Nomor 126 Tahun 2001 tentang Hari Nusantara, sehingga tanggal 13 Desember resmi menjadi hari perayaan nasional tidak libur. Maka sejak saat itulah, setiap tanggal 13 Desember diperingati sebagai “Hari Nusantara”. Kini tanggal 13 Desember, hari di saat “UU Wilayah Perairan Indonesia dan Lingkungan Maritim” dan di terimanya “Asas Negara Kepulauan”, diperingati sebagai Hari Nusantara. Hari di saat para stake holder bangsa kita memperjuangkan kedaulatan wilayah NKRI di masa lalu. Kolaborasi antara: Djuanda Kartawidjaja; Mochtar Kusumaatmadja; dan Chaerul Saleh, telah berhasil merumuskan sebuah politik hukum yang menguntungkan kepentingan republik. Hebatnya lagi, Deklarasi Djuanda dapat diterima oleh masyarakat internasional dan konsepsi negara kepulauan ditetapkan menjadi bagian hukum internasional dengan dicantumkannya dalam UNCLOS 1982.
Bravo… Indonesia.



***

Selasa, 01 Juli 2014

dari Buck hingga Dollar Amerika



Uang berbicara dalam sebuah bahasa yang dimengerti semua bangsa. Namun, lebih gampang menulis tentang uang, daripada mendapatkannya. Meskipun, yang membedakan manusia dari binatang, adalah: uang.

Buck
Kulit dan bulu binatang, tentulah amat bernilai bagi manusia pada peradaban masa lalu. Orang Kanada menggunakan kulit bulu berang-berang tebal nan mewah yang dihasilkan oleh negeri mereka serta begitu populer di kalangan pedagang topi dan sandang Eropa. Lebih jauh ke Selatan lagi –di daerah jajahan Inggris, para pemukim memanfaatkan kulit rusa Amerika Utara yang sangat penting artinya dalam perdagangan. Tiap-tiap kulit rusa, dikenal sebagai: Bucksebuah kata yang terus hidup sebagai istilah slang untuk Dolar. Hingga kini, kata “buck” umumnya digunakan oleh orang Amerika untuk merujuk kepada “satu dolar” AS dalam percakapan sehari-hari –informal. Selain itu, nickname atau bahasa slang untuk dolar pun seringkali disebut sebagai: Greenback. Greenback berasal dari lembaran kertas Dollar Amerika yang berwarna hijau. Merupakan istilah pertama yang digunakan untuk menyebut uang kertas Amerika pada periode Agustus 1861 hingga April 1862 (saat perang saudara di Amerika/Civil War).
Kulit Rusa "Buck" Amerika
Di sepanjang sejarah, adakalanya komoditas dan benda-benda berharga menciptakan sebuah sistem ekonomi –yang sedikit menyerupai sebuah sistem uang. Tetapi sistem tersebut sangat terbatas cakupan dan manfaatnya. Uang primitif berfungsi optimal dalam suatu komunitas suku atau dalam suatu pasar, dengan regulasi yang sangat ketat. Komoditas-komoditas tahan lama –seperti: kulit kerang dan batu, menawarkan penyimpanan nilai jangka panjang. Tetapi karena merupakan produk alam, maka ukuran; tekstur; warna; dan kualitas mereka, tentu beragam. Sebuah kulit kerang, tidak akan bernilai sama persis dengan kulit kerang lainnya –sehingga sukar menggunakan sembarang kulit kerang dalam suatu sistem perdagangan. Beberapa kulit kerang boleh jadi sedemikian melimpah di daerah pantai, sehingga terlalu umum untuk dipakai sebagai uang.
Sesudah makanan, tampaknya manusia menghargai logam sebagai komoditas paling populer dalam pertukaran. Logam mempunyai lebih banyak manfaat praktis dan nilainya berumur lebih panjang serta lebih luas jangkauannya. Karena awet, ia bisa menjadi tempat penyimpanan nilai yang bagus. Selain itu, logam bisa dibuat menjadi kepingan yang lebih kecil dan lebih besar. Dari Skandinavia hingga Afrika, orang menggunakan benda-benda dari besi yang dibakukan secara khusus sebagai uang. Di Afrika Barat, orang menggunakan cincin tembaga –yang disebut: Manilla sebagai mata uang khas.
Seiring berkembangnya teknologi, jenis objek yang dikehendaki menjadi makin canggih –dengan penemuan bermacam-macam jenis logam. Dari logam-logam yang ada, emas-lah yang paling luas dihargai. Emas memang Cuma mempunyai sedikit manfaat praktis –di luar perhiasan dan beberapa aplikasi teknologi canggih modern, tetapi orang di seluruh dunia tertarik kepadanya. Sekalipun tidak ada kegunaannya, bukti empiris menampakkan bahwa: “di mana pun orang ingin menyentuhnya; mengenakannya; bermain-main dengannya; dan memilikinya”. Ditambah lagi, emas tetap murni dan tidak berubah. Berbeda dengan tembaga –yang berubah menjadi hijau; besi –yang berkarat; dan perak –yang memudar. Pada penghujung milenium ketiga Sebelum Masehi, bangsa Mesopotamia sudah menggunakan batangan logam mulia untuk ditukar dengan barang. Tablet lempung Mesopotamia –bertuliskan huruf Paku tahun 2.500 SM menyebutkan: penggunaan perak sebagai sebuah bentuk pembayaran. Orang-orang menyebut bobot seragam emas dan perak tersebut, sebagai: mina; shekel; atau talent.
Penduduk bumi, mengaitkan emas dengan magi dan ketuhanan. Orang di seluruh dunia mengagumi kemiripan warnanya dengan matahari. Bangsa Mesir kuno, meyakini emas adalah benda keramat kepunyaan Radewa matahari. Orang-orang India kuno, menganggap emas adalah “sperma keramat Agni, sang dewa api”. Di kalangan kaum Inca Amerika Selatan, emas dan perak merepresentasikan “keringat matahari dan bulan” –mereka pun memenuhi dinding kuil-kuil mereka dengan logam-logam mulia itu. Bangsa Maya di Yukatan, mempersembahkan barang-barang dari emas kepada dewa-dewa dalam cenote keramat mereka. Suku Indian Chibcha –komunitas penghuni dataran tinggi Kolombia, menyelenggarakan ritual tahunan berupa: “menaburi pemimpin mereka dengan debu emas”. Ketika sang pemimpin menyelam di danau keramat, airnya meluruhkan emas yang menjadi persembahan bagi paradewa. Di kalangan orang-orang Spanyol, pemimpin itu dikenal dengan sebutan: El Doradosang keemasan.

Dolar
Sejarah Desa Jachymov di Ceko, terdengar seperti sebuah naskah Hollywood murahan. Tetapi sungguh, dari kota kecil itulah dolar tumbuh dan berkembang menjadi mata uang unggulan dunia. Jachymov merupakan sebuah desa Bohemia berpenduduk 2.700 jiwa, terletak di atas lembah curam di Krusnehory Pegunungan Ore –di bagian Barat negeri yang sekarang menjadi Republik Ceko. Awalnya adalah Count Stephan Schlik –seorang bangsawan Bohemia menemukan lapisan perak melimpah di dekat rumah leluhurnya: Kastil Kebahagiaan. Dari perak itu, diam-diam ia mencetak koinnya sendiri –yang menjadi dolar-dolar pertama dunia. Koin perak yang dinamai: Groschen tersebut dicetak di kastilnya sendiri pada tahun 1519. Karena desa itu terletak cuma beberapa kilometer dari negara bagian Jerman Saxony, pengaruh bahasa Jerman menjadi sangat kuat. Nama lembah Jachymov pun lebih dikenal dengan sebutan Joachimstahl –thal dalam bahasa Jerman, bermakna: lembah. Koin-koin pertama “groschen” tersebut kemudian disebut: Joachimstahalergroschen atau Joachimstalergulden –nama yang kelewat panjang untuk penyebutan sehari-hari. Koin-koin itu akhirnya dikenal luas sebagai: Talergroschen –dan kemudian cuma: Taler atau Thaler. Dan menyebar luas ke Spanyol, juga mempengaruhi nama-nama banyak koin Eropa yang berlainan.
Pada mulanya, Taler adalah koin perak besar senilai tiga Mark Jerman. Tapi pada akhirnya, Taler memberikan namanya untuk semua koin perak besar di Eropa. Ke bahasa Italia –sebagai: Tallero; dalam bahasa Belanda –sebagai Daalder; ke bahasa Swedia dan Denmark –sebagai Daler; dalam bahasa Inggris –sebagai Dollar. Taler menjadi sebuah “nama umum” untuk mata uang –karena begitu banyak negara bagian dari kota praja Jerman yang menggunakannya.
Koin Thaler Groschen
Taler yang paling terkenal dan paling luas beredar, adalah Taler Maria Theresa –dicetak di Percetakan Gunzburg tahun 1773 untuk menghormati Maharani Austria. Maria Theresa –putri dari Kaisar Charles VI, menjadi archduchess Austria dan ratu Hongaria serta Bohemia. Ia dipersunting oleh duke Lorraine –yang menjadi Kaisar Romawi Suci Francis I. Pada tahun 1805, ketika Napoleon Bonaparte membubarkan Kerajaan Romawi Suci, percetakan koin di Gunzbur ditutup.
Koin Thaler Maria Theresa
Nama dollar menembus bahasa Inggris, lewat bahasa Skotlandia. Antara tahun 1567 – 1571, Raja James VI menerbitkan kepingan tiga puluh Shilling, yang disebut orang Skotlandia sebagai: “dolar pedang” –karena desain pada bagian belakangnya. Orang-orang Skotlandia menggunakan “dollar” untuk membedakan mata uang mereka secara lebih tegas dari tetangga-tetangga Inggris mereka yang dominan di Selatan. Jadi, penggunaan kata dollar sudah menyandang bias tertentu, yakni: anti-Inggris. Imigrasi bangsa Skotlandia di koloni-koloni Inggris seluruh dunia –termasuk benua Amerika, lebih mempopulerkan kata dollar. Walaupun penggunaan dolar atau taler sudah menyebar sejak abad ke-16, namun tidak ada satu pun negara besar yang mengadopsinya sebagai: “mata uang resmi”.
Satu Dolar Amerika
Para kolonis Amerika, menjadi sangat terbiasa menggunakan dolar sebagai unit moneter utama mereka. Pada tanggal 6 Juli 1785 –sesudah Kemerdekaan Amerika, Kongres mengumumkan bahwa “unit uang Amerika Serikat adalah satu dolar”. Pada 2 April 1792, Kongres mengesahkan undang-undang untuk menciptakan sebuah percetakan uang Amerika. Dan baru tahun 1794, Amerika Serikat mulai mencetak dolar-dolar perak pertamanya. Dengan demikian, Amerika Serikat akhirnya yang mengadopsi dolar sebagai “mata uang resmi” negaranya.
Evolusi lambang dolar
Cikal bakal simbol "$" dalam dolar menurut U.S. Bureau of Engraving and Printing (Biro Pahatan dan Cetakan AS), adalah bahwa itu merupakan hasil dari evolusi Bahasa Meksiko atau Spanyol "Ps" untuk peso, atau piastres, atau keping delapan (juga ada teori terpisah bahwa lambang dolar bercabang dari angka 8). Teori ini dari pembelajaran naskah kuno yang menjelaskan bahwa "S" mengambang, lambat laun menjadi dituliskan di atas "P," mengembangkan ekivalen di bagian atas seperti tanda berbeda "$". Selanjutnya, torehan menurun di tengah pada tempatnya di huruf "P" menjadi hanya satu-satunya yang penting dalam bentuk penulisannya. Lambang ini telah banyak digunakan sebelum pengadopsian dolar Amerika Serikat tahun 1785.

Catatan:
Mata uang dalam bahasa slang:
USD – United States Dollar (Dollar Amerika Serikat) seringkali disebut Buck atau Greenback.
Euro – (Mata Uang Eropa Bersatu) muncul dengan sebutan Fiber/Fibre, karena uang kertas Euro terbuat 100% dari cotton fibre asli, yang mana bertujuan agar uang kertas lebih tahan lama.
AUD – Australlian Dollar (Dollar Australia) seringkali disebut Aussie, bahasa slang yang sering digunakan untuk menyebut orang-orang Australia.
NZD – New Zealand Dollar (Dollar Selandia Baru) seringkali disebut Kiwi, diambil dari ikon kebanggaan New Zealand, yaitu: burung kiwi. Simbol Kiwi pertama kali muncul di abad 19, dalam salah satu lencana militer di New Zealand. Selanjutnya, Kiwi pun menjadi lambang nasional dan menjadi salah satu gambar pada mata uang koin di sana.
CAD – Canadian Dollar (Dollar Kanada) seringkali disebut Loonie, karena koin mata uang Kanada yang bergambarkan burung Loon (spesies yang banyak terdapat di Amerika bagian Utara).
GBP – Great British Poundsterling (Poundsterling Inggris Raya) seringkali disebut Sterling (kependekan dari Poundsterling), atau Cable. Hal ini dilatarbelakangi nilai tukar GBP/USD yang seringkali ditransmisikan via jaringan kabel di tahun 1800-an, di mana broker waktu itu juga disebut Cable Dealers.
CHF – Confoederatio Helvetica Franc (Swiss Franc) sering disebut Swissie/Swissy, sama halnya dengan Aussie, nama tersebut merujuk terhadap panggilan bagi orang-orang Swiss.
CNY – Chinese Yuan (Yuan China), sering disebut dengan: Renminbiuang rakyat.
IDR – Indonesia Rupiah, sering disebut: Perak. Rupiah berasal dari bahasa Sansekerta: Rupaya –yang berarti: Perak. Selain itu, dulunya, koin yang dicetak untuk membuat uang RI, terbuat dari Perak.

***

Senin, 30 Juni 2014

Palintangan Sunda



Urang Sunda bihari, teu mikawanoh anu disebut ngaramal. Anu dipilampah ku karuhun Sunda téh, teu béda jeung anu dipilampah ku paraastronom ayeuna dina nangtukeun kajadian alam. Ramalan astronom téh, apanan dumasar kana itungan matématika. Ku ngagunakeun matématika, bisa diprédiksi kumaha kaayaan sabudeureun alam semesta. Ku itungan matématis dina kalénder Sunda, urang bisa ngira-ngira kajadian anu bakal datang.

Tradisi Palintangan Sunda
Geus ti bihari –baheula, masarakat Indonesia niténan langit katut dalit jeung tradisi palintangan pikeun kapentingan: tatanén; nunjukkeun arah; nangtukeun waktu; jeung ritual kaagamaan. Ngaran-ngaran rasi béntang jeung sistim pananggalan, éta téh minangka bukti kagiatan palintangan bangsa Indonesia anu geus dilakonan ti béh ditu kénéh. Palintangan –élmu béntang-béntang/ élmu falak anu mangrupa élmu ngeunaan alam semesta –astronomi téh minangka élmu pangaweruh anu kawilang pangheubeulna. Umurna méh sarua jeung kamekaran peradaban manusa. Geus ti béh ditu mula, manusa sok niténan panon poé meleték jeung surup, nyaksian poé jadi poék mongkléng buta rajin dina waktu peuting tur niténan kaéndahan mangjuta-juta béntang di langit. Pikeun nangtukeun mangsa tatanén –kitu deui minangka cecekelan navigasi dina waktu balayar, astronomi boga peran anu kalintang pentingna. Saluyu jeung kamekaran peradaban manusa, mangka aweuhan dunya astronomi ogé milu mekar nambahan pangaweruh manusa.
Dunya astronomi ogé ngawarnaan kosmologi jiwa batin budaya masarakatna. Di Tatar Sunda, rupa-rupa jenis kakawihan; kaulinan barudak; paribasa; carita legénda; sarta mitos-mitos, teu saeutik anu patali jeung astronomi. Upamana waé aya paribasa: “Caang bulan dadamaran” anu hartina: ngalakonan pagawéan anu geus teu perlu deui. “Caang bulan opatwelas, bersih jalan sasapuan” anu hartina: rido atanapi ihlas. “Keur bentang surem” anu hartina: naas atanapi apes. “Kawas langit jeung bumi” anu hartina: béda pisan, digunakeun keur dua babandingan. Jeung aya paribasa “Samagaha pikir” anu hartina: bingung liwung ku kasusah. Pikeun barudak, aya carita Nini Antéh jeung ucingna di Bulan; lagu Bulantok; sarta tanda bulan jeung béntang dina kaulinan sondlah. Pon kitu deui, dina du’a peperenian urang Sunda ogé aya ungkaban: “Nu di langit kucurkeun, nu di bumi burialkeun”. Dina widang séjén, urang mikawanoh istilah: “indung beurang” anu hartina: paraji. Sarta istilah “Lalangit” nya éta plafon anu nutupan bagéan luhur rohang tamu.
Lian ti éta, ti bihari masarakat Sunda geus mikawanoh dunya palintangan –saperti ayana pranata mangsa pikeun nangtukeun waktu usum tatanén. Sacara tradisi –minangka pameungkeut kakuatan lingkunganana, masarakat Sunda nyoko kana tilu prinsip dasar, nya éta: ngadumaniskeun hal Alami, Hayati, jeung Insani. Raketna éta hubungan, antukna munculkeun kaayaan ngadumanisna hubungan mikrokosmos jeung makrokosmos. Antara manusa jeung Nu Kawasa, manusa jeung papada manusa, katut antara manusa jeung alam. Tradisi Sunda anu geus ti béh ditu mula mikawanoh palintangan, éta téh minangka potensi budaya anu ngabeungharan hasanah pangaweruh.
Saméméh aya arloji, urang Sunda ngagunakeun ciri-ciri waktu pikeun nangtukeun wanci dina jero sapoé sapeuting. Ngaran-ngaran wanci, ilaharna dumasar kana kaayaan alam anu kaalaman jeung lingkungan sabudeureunana. Sababaraha conto wanci: Wanci Tengah Peuting (nuduhkeun tabuh 24.00); Wanci Janari Gedé (tabuh 02.00); Wanci Haliwawar (tabuh 03.00); Wanci Balébat (tabuh 05.00); Wanci Pecat Sawed (tabuh 10.00). Nincak kana wanci pabeubeurang jeung pasosoré, aya istilah: Wanci Manceran (tabuh 12.00); Wanci Ngingsir Ngulon (tabuh 14.00); Wanci Sariak Layung (tabuh 17.00 dugi 18.00); Wanci Harieum Beungeut atanapi Wanci Sareupna (tabuh 18.00 dugi 18.30); jeung Wanci Sareureuh Budak (tabuh 21.00).
Dina méré ngaran usum anu pakait jeung kaayaan alam, aya istilah: Usum Ngijih (minangka tanda waktuna mindeng hujan); Usum Katiga (minangka waktuna halodo); sarta Usum Barat (tandana angin badag anu datangna ti Beulah Kulon bari dibarengan ku hujan).Tumali jeung kaayaan di masarakat, aya oge istilah: Usum Sasalad (nya éta usum mahabuna kasakit anu babari népa); Usum Tigerat jeung Usum Nguyang (anu hartina: usum paceklik, mangsa kakurangan kadaharan jeung gagal panén).
Raketna tradisi palintangan jeung budaya agraris urang Sunda, tétéla ngalahirkeun katangtuan wanci usum-usuman dina jero sataun. Pranata mangsa anu loma jeung parapatani téh ngawengku duawelas mangsa, nya éta: Kasa (kahiji, antara 21 Juni dugi ka 31 Juli); Karo (kadua, antara 1 dugi ka 23 Agustus); Katiga (katilu, antara 24 Agustus dugi ka 16 Séptémber); Kapat (kaopat, antara 17 Séptémber dugi ka 11 Oktober); Kalima (kalima, antara 12 Oktober dugi ka 7 Novémber); Kanem (kagenep, antara 8 Novémber dugi ka 20 Désémber); Kapitu (katujuh, antara 21 Désémber dugi ka 1 Fébruari); Kawalu (kadalapan, antara 2 dugi ka 28 Fébruari); Kasanga (kasalapan, antara 1 dugi ka 25 Maret); Kasadasa/Kadasa (kasapuluh, antara 26 Maret dugi ka 17 April); Désta (kasawelas, antara 18 April dugi ka 10 Méi); jeung Sada (kaduawelas, antara 11 Méi dugi ka 21 Juni).
Sakur éta pranata mangsa, ngabogaan cirina séwang-séwangan anu ngawengku: arah angin; kaayaan hawa; lingkungan; prosés mangsa tatanén; jenis tutuwuhan atanapi palawija nu bisa dipelak; kaayaan sumber cai; gangguan hama; jeung kahirupan sasatoan –boh sato ingon-ingon, boh sato liar.

Kala Sunda
Abah Ali
Dina nangtukeun wanci anu dilarapkeun dina almenak, kalintang gedé yasana almarhum budayawan Abah Ali –Ali Sastramidjaja anu geus ngawanohkeun Kalénder Sunda –katelah ku sesebutan: Kala Sunda. Anjeunna ngagabungkeun Saptawara –Radite; Soma; Anggara; Buda; Réspati; Sukra; Tumpek, jeung Pancawara atanapi Pancawuku/Selapan –Manis; Pahing; Pon; Wagé; Kaliwon, kalayan ngahasilkeun 7 x 5 poé = 35 poé. Tina angka 35 éta, Kala Sunda disusun jadi kalénder anu paling pas tur akurat.
Ngaran-ngaran bulan dina Kala Candra Sunda, nya éta: Kartika; Margasira; Posya; Maga; Palguna; Sétra; Wésaka; Yésta; Asada; Srawana; Badra; jeung Asuji. Sedengkeun bulan dina Kala Surya Sunda mah, aya: Kasa; Karo; Katiga; Kapat; Kalima; Kanem; Kapitu; Kawalu; Kasanga; Kadasa; Hapitlemah; jeung Hapitkayu.
Kaistimewaan éta kalénder Sunda –boh Kala Candra Sunda, boh Kala Surya Sunda, nya éta sual: akurasi. Moal ieuh salah atanapi dikoreksi salila 17.245 taun –pikeun Kala Surya Sunda, jeung salila 17.664 taun –pikeun Kala Candra Sunda.
Kalénder anu dipaké di sakuliah dunya kiwari, maké sistim Grégorian –méméhna, digunakeun téh sistim Yulian anu ngitung 165,2425 poé dina sataun. Sistim Yulian dikoréksi dina taun 1582 sarta diganti jadi sistim Grégorian atawa Maséhi. Anu jadi patokanana sistim Grégorian, nya éta: posisi planet Ariés. Dina sataun –dumasar sistim Grégorian, aya 365,25 poé. Pikeun ngaganti sistim Yulian ka sistim Grégorian, kapaksa tanggal 4 Oktober 1582 dirobah jadi tanggal 15 Oktober 1582 –leungit sapuluh poé. Dina sistim Grégorian, sataun ngan géséh 0,003 poé.
Dina kalénder Sunda, sataunna diitung 165,2421875 poé –sataun géséhna 0,000125 poé. Kukituna, kalénder Sunda dina dangka 80.000 taun, dirévisina ukur sapoé –ari kalénder Maséhi mah dina waktu 30 rébu taun. Jadi, kalénder Sunda mah leuwih akurat. Dina kalénder Sunda, aya aturan anu matématik pikeun nangtukeun jumlah taunna –boh taun panjang (kabisat), boh taun pondok (basit).
Jenatna Abah Ali nyebutkeun, yén kalénder Sunda téh pangkolotna sadunya. Tadina mah kalénder séké-sélér ti Péru anu pangkahotna téh –ngan kusabab geus carem, nya kalénder Sunda anu pangbuhunna.
Prasasti Astana Gede Kawali
Méh diunggal situs sajarah di Tatar Sunda, aya anu disebut: Lingga atanapi Yoni –batu panjang anu ditancebkeun kalayan ajeg. Biasana dikurilingan ku balay batu, anu asalna ti walungan. Di situs sajarah Astana Gedé Kawali Kabupatén Ciamis, aya dua lingga sarta prasasti gurat-gurat dina batu tepi ka ngabentuk kotak-kotak. Di luhurna, aya dua tapak suku. Éta gunana keur pananggalan anu ngitungna maké sistim matrik. Lingga –batu nangtung anu salila ieu dianggap pamujaan, saenyana mah keur ngitung pananggalan dumasar panon poé. Ditangtukeunana wanci, dumasar kalangkang yoni. Lingga atanapi Yoni ogé kapanggih di komplék Candi Batujaya Karawang –gigireun Candi Jiwa, anu cenah mah titinggal Tarumanaga abad kaopat.
Salian ti éta, urang Sunda ogé ngagunakeun Kujang pikeun nangtukeun pranata mangsa. Liang laleutik dina kujang, lain keur hiasan atanapi keur papaés. Liang dina kujang, keur nempo posisi béntang anu engkéna dipaké cecekelan keur: tatanén; iraha nyacar; ngaseuk; jeung melak binih paré.



Pawukon
Buku yasana Ir. C.J. Snijders

Carita ngeunaan manggihkeun deui –réfinding kalénder Sunda ku Abah Ali dimimitian waktu Ir. C.J Snijders, astronom Walanda, anu nimukeun Pawukon. Anu disebut Pawukon téh, nya éta sistim kalénder anu ngabogaan waktu terukur, saperti wukungaran per tujuh poé. Aya tilu puluh ngaran wuku. Aya oge anu disebut wara, model pananggalan “mingguan” –tina saminggu aya nu sapoé tepi ka saminggu aya anu sapuluh poé. Kala Sunda mah ngan ngagunakeun dua wara, nya éta: pancawara jeung saptawara. Ku ngagunakeun dua wara ieu, kalénder Sunda mibanda pananggalan “stéréo” saperti radite-pahing atanapi sukra-kliwon. Jadi, jalma anu lahir dina Senén-wagé, bakal béda watekna jeung jalma anu lahir dina Senén-kaliwon. Pawukon ieu mangrupakeun bukti ayana manusa pangbuhunna di Pulo Jawa.
Dina buku Beginselen der Astrologie, Snijders nyebutkeun, yén Pulo Jawa katut Kapuloan séjénna, geus aya ti wangkid jaman Lemuria atanapi Pleistoceen –kira-kira sajuta taun nu kaliwat. Umurna ogé, leuwih kolot batan daratan Asia sorangan. Jawa katut Kapuloan Indonésia anu séjénna, salamet tina bencana anu ngancurkeun Lemuria jeung Atlantis di bagéan dunya Barat sahingga masih utuh nepi ka ayeuna. Di buku éta ogé, disebutkeun babandingan umur kalénder bangsa-bangsa dunya. Numutkeun panaksiran Snijders, kalender Quichuas –bogana séké-sélér asli Meksiko, umurna 15 rébu taun. Umur kalénder Cina, 13 rébu taun; Babilonia, 6.500 taun; jeung kalénder India –anu disebut Surya Sidhanta, umurna 2.200 taun. Ari sistim Pawukon ieu, ditaksir umurna 17.183 taun. Sedengkeun, Pawukon téh apanan ngarupakeun bagéan tina kalénder Sunda. Jadi, kalénder Sunda téh atuh munasabah mangrupa kalénder anu pangkolotna tur anu pangbuhunna di dunya. Ngarujuk kana Ensiklopedi Winkler Prince, yén luhurna peradaban hiji bangsa, diukur tina tingkat akurasi pananggalan kalénderna. Sacara logis ogé, bangsa anu geus ngabogaan sistim kalénder –komo deui anu rumit, tangtuna ogé geus pasti ngawasa: aksara; bahasa; élmu ngitung; jeung élmu maca. Dina konteks kalénder Sunda, Abah Ali nyodorkeun kamandang yén aksara anu digunakeun atanapi dikawasa ku urang Sunda, nya éta: Caraka atanapi Kaganga.
Sacara umum, Kala Sunda téh mangrupa kalénder anu ngagunakeun tilu diménsi. Kalénder diménsi solar atanapi panon poé disebut: kalénder Suryakala. Kalénder diménsi lunar atanapi bulan disebut: kalénder Candrakala. Sedengkeun kalénder diménsi star atanapi béntang disebut Sukrakala. Di Tatar Sunda, Sukrakala disebut: Palintanganlintang/béntang/star.
Sedengkeun poéna: Radite –Ahad/Minggu; Soma –Senén; Anggara –Salasa; Buda –Rebo; Respati –Kemis; Sukra –Juma’ah; jeung Tumpek –Saptu. Angka dina pananggalanana, ngan ngagunakeun angka 1 nepi ka 15. Sahingga tina sabulan, aya pangulangan angka keur tanggalna –sanggeus tanggal 15, balik deui ka tanggal 1. Nanging, di tukangeun angkana dibéré tanda huruf S –keur tanggal 1-15 di awal bulan, jeung dibéré tanda huruf K –keur tanggal 15 salajengna. Soal tanggal anu dibéré tanda S jeung K éta, dilantarankeun pananggalanna ngacu kana dua perhitungan, nya éta: bulan jeung panon poé. Tanda S hartina Suklapaksa atanapi paro caang, jeung K hartina Krésnapaksa atanapi paro poék. Pergantian poé jeung tanggalna, lain tengah peuting –henteu saperti pananggalan Maséhi ti tabuh 00.00. Pergantian poé dina pananggalan Sunda mah kajadianana dina waktu sorékirang-langkung, tabuh 18.00.

Titincakan Kala Sunda
Ngeunaan kalénder Sunda, anu masih kénéh jadi patelakan téh: “Naon titimangsana dina nangtukeun taun 1 kalénder Sunda?”. Sabab, kalénder Hijriyah jeung Maséhi anu dipaké titimangsana jelas. Taun Hijriyah, titimangsana: “Hijrahna Kangjeng Rosululloh SAW ti Mekah ka Madinah”. Méméhna, di Arab dipaké pananggalan taun Gajah, titimangsana: “Kajadian rék diancurkeunana Ka’bah ku prajurit Abrohah anu tarumpak gajah, tapi kaburu diserang ku manuk ababil anu marawa batu sarta diragragkeun kana gajah”. Taun Maséhi mah, apanan taun 1-na téh titimangsana: “Lahirna Isa Almasih atanapi lahirna Yesus Kristus”.
Jenatna Abah Ali –nénéhna Ali Sastramidjaja nyebutkeun, yén titimangsa atanapi taun 1 Caka Sunda téh nya éta: “Dipasrahkeunna lembur di daérah Pandeglang Banten anu dipingpin ku Aki Tirem ka Déwawarman”. Déwawarman téh imigran ti India anu kawin ka Nyi Putri Rarasati –siwi Aki Tirem, anu saterusna Déwawarman ngadegkeun Salakanagara. Saenyana mah, pananggalan Sunda téh geus dipaké puluhan rébu taun ka tukang saméméh Aki Tirem –anu luluhurna urang India aranjog ka Tatar Sunda. Nu matak, najan maké ngaran Saka –ampir sarua jeung di India, tapi pananggalan Sunda mah teu sarua jeung taun Saka ti India. Pananggalan Sunda mah nyokot awal bulan atanapi tanggal 1-na mangsa bulan caang sabeulah –paro caang anu beulah kénca. Lian ti éta, tanggalna teu ti hiji tepi ka tilupuluh. Sabulanna dibagi dua, ti 1 Suklapaksa tepi ka 15 Suklapaksa. Ari ti 15 tepi ka 30 mah disebutna: Krésnapaksa.
Kalénder Sunda memang lain ngan ukur dipaké keur ngitung ti poé ka poé wungkul, tapi bisa dipaké keur kaperluan kahirupan lianna. Bisa dipaké keur palintangan; keur utang-itung dina milampah hiji pagawéan; keur tatanén; keur ngawinkeun; pindah imah; jeung sajabana. Tapi ieu mah lain ramalan atanapi klénik, sumawonna tahayul mah. Urang Sunda bihari, teu mikawanoh anu disebut ngaramal. Anu dipilampah ku karuhun Sunda téh, teu béda jeung anu dipilampah ku paraastronom ayeuna dina nangtukeun kajadian alam. Ramalan astronom téh, apanan dumasar kana itungan matématika. Ku ngagunakeun matématika, bisa diprédiksi kumaha kaayaan sabudeureun alam semesta. Ku itungan matématis dina kalénder Sunda, urang bisa ngira-ngira kajadian anu bakal datang. Nu Maha Kawasa geus nyiptakeun alam jeung pangeusina, kalayan sarwa teratur. Tinggal, urang bisa maca katut ngarumuskeunana.


***