Minggu, 08 Juli 2012

Hileud Haji


Potensi Agro-Industri dan Agro-Bisnis Kualitas Unggul
Kabupaten Garut merupakan salah satu daerah dengan potensi agro-bisnis terbesar di Jawa Barat. Bayongbong dan Cikajang sangat cocok untuk dipilih sebagai daerah budidaya ulat sutera, pasalnya ulat sutera perlu daun murbei (babasaran) untuk makanan utamanya dan kedua daerah itu sangat cocok ditanami murbei karena berhawa dingin. Namun, setidaknya terdapat tambahan enam kecamatan yang bisa menjadi tempat pengembangan industri sutera di kabupaten Garut, yakni: Kecamatan Bungbulang, Pameungpeuk, Pakenjeng, Samarang, Wanaraja dan Leles.
Industri persuteraan merupakan salah satu sub sektor agro-industri yang sangat potensial untuk dikembangkan di kabupaten Garut karena memiliki berbagai keunggulan, yakni: bahan baku seluruhnya tersedia dan berasal dari sumber daya alam lokal. Dari segi kualitas, sutera alam Garut tak kalah dengan kain sutera alam buatan daerah lainnya –bahkan lebih unggul dari segi motif yang khas Garutan dan ketebalan kain.
Secara umum, ulat sutera ternakan yang dikembangkan di Indonesia merupakan species Bombyx Mori. Telur ulat sutera yang memiliki sertifikat diproduksi di Candiroto Jawa Tengah yang kemudian disebar ke wilayah Sumatera, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara Timur. Induk sutera dapat menelurkan hingga 500 butir telur ulat sutera seukuran kepala jarum pentul. Setelah sekitar 20 hari, telur tersebut menetas menjadi larva ulat yang sangat kecil. Larva ulat ini akan memakan daun murbei dengan agresif. Sekitar 18 hari kemudian, ukuran badan larva ulat tersebut telah membesar hingga 70 kali ukuran tubuh semula serta empat kali mengganti cangkangnya. Kemudian larva ulat tersebut akan terus membesar hingga beratnya mencapai 10.000 kali berat semula. Pada saat itu ulat sutera akan berwarna kekuningan dan lebih padat. Itulah tanda ulat sutera akan mulai membungkus dirinya dengan kepompong. Kemudian kepompong direbus agar larva ulat di dalamnya mati. Karena jika dibiarkan, ulat akan matang lalu menggigiti kepompongnya sehingga tidak bisa digunakan lagi. Setelah ulat mati, serat di kepompong dapat diuraikan menjadi serat sutera yang sangat halus. Kemudian serat sutera yang halus tersebut dipintal. Serat sutera dipintal dengan proses yang menyerupai proses pada saat ulat sutera memintal kepompongnya. Proses itulah yang dibuat menjadi alat pemintalan serat sutera untuk dibuat menjadi kain sutera yang indah.
Selain Bombyx Mori –penghasil sutera mulberry, dikenal pula jenis-jenis ulat penghasil sutera lainnya yang biasa diusahakan seratnya. Sutera dihasilkan terutama oleh larva serangga yang bermetamorfosis lengkap, tetapi juga dihasilkan oleh beberapa serangga dewasa seperti Embioptera. Produksi sutera juga kerap dijumpai khususnya pada serangga ordo Hymenoptera (lebah; tabuhan; dan semut) dan kadangkala digunakan untuk membuat sarangnya sendiri. Jenis-jenis Arthropoda yang lain juga menghasilkan sutera, terutama Arachnida seperti laba-laba.
Ulat Theophila Mandarina, yang terdapat di daerah sekitar Cina Timur; Korea; Jepang dan beberapa daerah di benua Asia, yang hidup secara liar pada pohon murbei, juga menghasilkan serat sutera yang baik. Hasil perkawinan silang Theophila Mandarina dengan Bombyx Mori yang dilakukan di Cina dan Jepang, ternyata memberikan hasil sutera berwarna kuning; bersih; dan baik bila dibandingkan dengan jenis ulat sutera lainnya. Di Indonesia, terutama di daerah Aceh, ulat sejenis ini sudah lama dikenal, dan bahkan sudah pula dicoba dipersilangkan dengan ulat sutera biasa yang berwarna putih dengan hasil benang sutera yang berwarna kuning emas.
Ulat sutera liar lainnya adalah Attacus Ricini –ulat sutera liar pemakan daun Kaliki, banyak dipelihara di Indonesia pada zaman penjajahan Jepang. Ulatnya besar-besar, berwarna biru muda atau biru kehijau-hijauan yang penuh diliputi oleh semacam zat tepung. Sayap kupu-kupunya berwarna kuning hijau, dengan gambar setengah bulat. Sutera yang dihasilkannya dinamakan sutera eria. Sampai sekarang, masih banyak dipelihara di Assam (India). Di samping serat suteranya kuat, pupa (isi kokonnya) dapat dimakan.
Selain itu, ulat sutera liar Antheraea Yamamai –penghasil sutera Japanese tussah, juga dikembangkan di Jepang. Ulat sutera liar Antheraea Polypemu, dikembangkan di Amerika Utara. Ulat sutera liar  Antheraea Pernyi –penghasil sutera Chinese tasar, dikembangkan di Cina. Philosamia Ricini/Samia Cynthia Riccini/Attacus Ricini –sutera eria, dikembangkan di India.  Antheraea Mylitta –sutera tasar atau sutera tussur, dikembangkan di India. Antheraea Assama –penghasil sutera  muga/Indian tussah, dikembangkan di India. Ulat sutera liar Attacus Cynthia –juga menghasilkan jenis sutera ailanthus. Attacus Atlas –hileud haji, merupakan penghasil sutera atakas, dan Cricula Trifenstrata. –yang lebih dikenal dengan nama ulat kipat atau ulat alpukat, menghasilkan sutera emas.
Sebagai catatan, 4 diantara 12 spesies dari genus Cricula yang terdapat di Indonesia yaitu : Cricula Bornea; Cricula Sumatrensis; Cricula Trifenestrata; dan Cricula Elaezia. Ada 10 subspesies Cricula Trifenestrata –enam diantaranya terdistribusi di Indonesia, yaitu: Cricula Trifenestrata Serama; Cricula Trifenestrata Kransi; Cricula Trifenestrata Javana; Cricula Trifenestrata Bornea; Cricula Trifenestrata Banggaiensis; dan Cricula Trifenestrata Tenggaraensis. Sementara itu, 8 dari 14 spesies dari genus Attacus yang ada di Indonesia yaitu: Attacua Atlas; Attacus Aurantiacus; Attacus Crameri; Attacus Dohertyi; Attacus Erebus; Attacus Inopinatus; Attacus Intermedius; serta Attacus Paraliae.
Potensi Cricula Trifenestrata dan Attacus Atlas di Indonesia masih sangat besar untuk dikembangkan, selain perlu dimanfaatkan juga dari keanekaragaman jenis penghasil sutera lainnya. Oleh sebab itu, potensi yang sangat besar dari kedua jenis ulat sutera liar ini perlu disikapi secara proaktif oleh semua pihak. Keuntungan lainnya, ulat sutera liar dapat dikembangkan di daerah yang relatif kurang subur dan di lahan-lahan kritis. Pembudidayaannya relatif mudah, karena bisa makan daun apa saja. Selain itu, tanaman yang dimanfaatkan untuk pengembangan ulat sutera liar tersebut sekaligus dapat berfungsi sebagai tanaman penghijauan, seperti: jambu mete, mahoni, keben, dan lain-lain. Dengan demikian, secara tidak langsung budidaya ulat sutera liar ini berfungsi dalam mendukung program penghijauan.

Hileud Haji (Attacus Atlas)
Larva Attacus Atlas -hileud haji.
Jenis ulat sutera liar yang dapat dikembangkan di Garut yaitu Attacus Atlas yang dikenal dengan nama Hileud Haji atau Hileud Orok. Di daerah lain, Attacus Atlas ini lebih dikenal sebagai Ulat Badori maupun Ulat Gajah –karena bentuk ulatnya yang besar. Di Yogyakarta, jenis ulat ini biasa disebut Ulat Jedhug atau kadang-kadang disebut juga Uler Keket. Adapun kupu-kupunya, disebut juga kupu Sirama-rama atau kupu Gajah. Hileud Haji ini bisa ditangkap dari alam, dengan demikian tidak usah mengeluarkan dana untuk mencari bibit. Kokon yang dihasilkannya, berwarna coklat dan tentunya benangnya pun berwarna coklat pula. Hileud Haji ini di daerah perkebunan kina merupakan hama yang sangat mengganggu produksi kulit kina, bahkan jenis ulat ini merupakan hama nomor wahid yang harus dimusnahkan. Tapi lain lagi bagi orang yang kreatif, ulat ini menjadi pembawa rezeki karena kokonnya (kepompong) banyak dicari dan harga kainnya pun lebih mahal dibandingkan dengan kain sutera biasa. Dan ternyata kain-kain yang berasal dari Hileud Haji ini banyak diminati –terutama dari negara Jepang, untuk kain kimono para Sumo-san (atlet sumo).
Hileud Haji ini selain di pohon kina juga dapat hidup di pohon jambu biji; dadap; jarak; alpukat dan sirsak. Dari hasil penelitian Soleh –perajin Sutera Alam Soleh (SAS) Garut, ternyata benang sutera yang dihasilkan dari ulat yang makannya daun sirsak lebih liat dan warnanya lebih cemerlang. Bahkan menurut pakar sutera dari Amerika Serikat, benang sutera yang dihasilkan di daerah Garut ini lebih bagus ketimbang yang di dunia –khususnya India yang telah terlebih dahulu mengembangkan ulat sutera liar ini untuk bahan Kain Sari. Selain itu dengan menggunakan tanaman sirsak, keuntungannya menjadi berlipat ganda –karena buah sirsaknya pun bisa menghasilkan uang untuk dijadikan dodol. Secara umum, tanaman inang dari ulat liar jenis ini adalah: kunyit, teh, kina, lada, dadap, mangga, jeruk, dan alpukat. Juga bisa ditemukan di tanaman sirsak, keben, gempol, mahoni, rambutan, kedondong, jambu biji, uwi dan rempeni.
Kokon (kepompong) Attacus Atlas -hileud haji.
Kokon dan Pupa (isi kokon) Attacus Atlas -hileud haji.
Attacus Atlas adalah salah satu jenis serangga Lepidoptera, family Saturniidae. Serangga Attacus Atlas tersebut, tergolong jenis ulat sutera alam yang masih hidup secara liar, karena serangga yang menghasilkannya masih hidup liar. Ulat sutera liar Attacus Atlas ini, berasal dari India dan sudah lama dikembangkan dalam bentuk budidaya. Seorang ahli dari Jepang bernama Genggo Nakajima, yang juga meneliti kualitas dan produktivitas dari sutera liar ini mengungkapkan, bahwa ternyata sutera Attacus yang dicoba di Indonesia kualitasnya jauh lebih bagus dibandingkan India yang sudah lebih dahulu membudidayakan ulat ini. Ini merupakan kenyataan, karena mungkin iklim di negara kita lebih mendukung untuk pengembangan ulat sutera liar ini. Dan hal ini tentu saja merupakan kabar gembira bagi peternak ulat sutera liar di Garut, karena ada kaitannya dengan permintaan pasar yang cukup menantang.
Benang sutera atakas yang dihasilkan dari ulat Attacus Atlas, memiliki panjang benang rata-rata bisa mencapai 2.500 m. Jauh lebih panjang dari benang sutera biasa –sebagai perbandingan, hasil kokon Bombyx Mori Indonesia hanya memiliki panjang antara 1,121 hingga 1,327 meter. Hal ini sangat menguntungkan, untuk pembuatan benang dan kain.
Imago (kupu Sirama-rama dewasa) Attacus Atlas -hileud haji.
Bentuk tubuh ulat Attacus Atlas ini, dua puluh kali lebih besar dari ulat sutera Bombyx Mori. Hanya dalam membuat kepompongnya, meninggalkan sebuah lubang yang ditutup oleh sejenis perekat. Kupu-kupu yang telah dewasa akan keluar melalui lubang tersebut. Siklus hidup dari ulat sutera liar Attacus Atlas ini, tidak jauh berbeda dengan siklus hidup dari ulat sutera Bombyx Mori. Apabila kupu-kupu betina yang telah dibuahi akan bertelur, selanjutnya telur-telur ini akan menetas dan berkembang terus sampai menjadi ulat-ulat dewasa. Pada akhirnya, ulat-ulat ini akan segera bersarang lapisan demi lapisan menutupi dirinya, sehingga terbentuklah sebuah kepompong. Pada umumnya, kelenjar-kelenjar sutera yang dikeluarkan oleh ulat sutera terdiri dari zat utama: Fibroin (serat), Serisin (perekat), Lilin, dan Garam-garam mineral. Fibroin dan Serisin adalah protein –pada sutera liar lebih sedikit Serisinnya, namun bahan-bahan yang perlu dihilangkan tidak hanya serisin, lilin dan garam-garam mineral seperti halnya pada sutera yang dihasilkan dari ulat sutera Bombyx Mori. Pada sutera liar bahan-bahan yang perlu untuk dihilangkan, meliputi juga lemak-lemak dan zat warna (pigmen) alam yang berwarna kekuningan.
Komponen utama sutera yang telah banyak digunakan dalam berbagai industri adalah filamen atau serat sutera. Filamen sutera Attacus Atlas diperoleh dari penguraian kulit kokon melalui beberapa tahap pemrosesan. Filamen dari ulat sutera liar ini memiliki banyak keunggulan dibandingkan filamen sutera domestik Bombyx mori. Karakter kain sutera liar lebih sejuk saat dipakai, tahan kusut, anti alergi, lebih halus, dan memiliki variasi warna eksklusif. Penggunaan sutera yang meluas –tidak terbatas dalam dunia tekstil saja, membuat kualitas sutera penting untuk dipertahankan dan ditingkatkan. Kualitas sutera sangat bergantung kepada karakteristik kokon dan filamennya. Salah satu hal yang diduga dapat mempengaruhi karakteristik kokon dan filamen adalah usia kokon saat diolah. Belum diketahui berapa usia kokon maksimum tanpa mengurangi atau mengubah mutu karakteristik kokon dan filamen. Biasanya pengolahan kokon dilakukan segera setelah dipanen, karena dikhawatirkan kualitas karakteristik filamen menurun. Akibatnya, setelah panen, kokon yang harus segera diolah secara bersamaan cukup banyak, sehingga dapat mengurangi efektivitas pengolahan kokon. Usia kokon terbaik yang ditunjukkan dengan nilai keragaman terendah terdapat pada usia kokon 45 dan 60 hari, akan tetapi nilai maksimum panjang filamen sekali putus yang sangat penting dalam usaha pemintalan terdapat pada usia kokon 30 hari. Jika mengabaikan keberlangsungan reproduktif Attacus atlas, kokon berusia 30 hari dapat diolah dengan dikeringkan terlebih dahulu untuk menyeragamkan kandungan air kokon. Karakteristik filamen dengan kualitas seragam dan tinggi serta mempertimbangkan kelangsungan regenerasi Attacus Atlas dapat diperoleh pada usia kokon 45-60 hari. Selama penyimpanan kokon dilakukan dalam ruangan bersirkulasi udara lancar dan dalam tempat yang minim kontak dengan udara, tidak terjadi perubahan berarti dalam karakteristik filamen sutera.
Siklus hidup Attacus Atlas (Lepidoptera : Saturniidae) dari telur sampai imago berlangsung 83-109 hari dengan rataan 96,74 hari, terdiri dari stadium telur, larva dan pupa, masing-masing selama 10,91 hari 56,12 hari dan 29,71 hari. Lama siklus pada musim hujan lebih panjang dibanding pada musim kemarau. Populasi larva paling tinggi dengan rataan 25,38 ekor/tan didominasi oleh instar I (24,74%) dan instar II (16,12%).
Sutera liar berbeda dari sutera ternakan dari segi warna dan tekstur, serta kepompong liar yang dikumpulkan biasanya sudah dirusak oleh ngengat yang keluar sebelum kepompong tersebut diambil, sehingga benang sutera yang membentuk kepompong itu sudah terputus menjadi pendek. Sutera liar biasanya juga lebih sukar dicelup warna daripada sutera ternakan.

Upaya Kreatif
Sejak jaman dahulu, sutera telah digunakan untuk pakaian yang istimewa. Kimono (pakaian tradisional Jepang); Kain sari (pakaian tradisional India); Hanbok (pakaian tradisional Korea); bahkan Batik (Indonesia) juga ada yang menggunakan kain sutera.
Pakaian Tradisional, Atas (kiri-kanan): Kimono (Jepang), Hanbok (Korea). Bawah (kiri-kanan): Saree/Kain Sari (India), Kebaya Batik (Indonesia) yang berbahan sutera.
Soleh, seorang perajin dari Sutera Alam Soleh (SAS) Garut –perusahaan yang berdiri sejak tahun 1996 dan beralamat di Jalan Terusan Pembangunan no. 101 Garut ini, mencoba melakukan terobosan baru dalam persuteraan liar. Ia bekerjasama dengan pengusaha Jepang untuk membuat sutera yang bukan berasal dari ulat Bombyx Mori; yakni dari ulat Attacus Atlas –hileud haji, yang memang banyak terdapat di Garut. Seorang pengusaha Jepang di Yogyakarta, mencoba mengembangkan ulat sutera yang menghasilkan benang sutera berwarna kuning. Hasil kokonnya kemudian dibawa ke Garut untuk diurai jadi benang, dan selanjutnya dijadikan kain yang berwarna kuning. Selain itu juga orang Jepang itu, mengembangkan sutera yang menghasilkan kepompong berwarna hijau muda. Memang dari hasil percobaan mereka, akan menghasilkan warna-warna lain yang lebih unik dan menarik serta warna yang eksklusif. Dibandingkan dengan ulat sutera alam ternakan yang putih, warna-warna yang dihasilkan ulat sutera liar kemudian ternyata lebih indah, dan harganya pun lebih mahal pula.
Sementara untuk jenis ulat Bombyx Mori –selain menerima masukkan dari orang-orang Jepang, Soleh pun mencoba dengan idenya sendiri. Kokon Bombyx yang sudah biasa ditenun, kemudian dipendam dalam tanah selama enam bulan. Secara kimia, memang terjadi proses oksidasi dan bereaksi dalam tanah. Kokon-kokon yang dipendam tanpa menggunakan bungkus apa pun, setelah enam bulan kemudian dibongkar. Kokon yang semula berwarna putih, setelah mengalami proses oksidasi warnanya berubah menjadi coklat susu. Luar biasa, hasil tenunan dari kokon yang sudah berubah warna itu, ternyata menghasilkan benang dan kain yang berwarna coklat muda. Warna yang dihasilkannya itu, sama sekali tidak berubah setelah dicuci dan dipanaskan dengan udara dan sinar matahari.
Aneka Suvenir berbahan baku kokon ulat sutera
Kokon adalah kepompong yang dihasilkan ulat sutera. Namun tidak semua kokon bisa diproses menjadi benang sutera karena kualitasnya yang buruk. Biasanya, kokon jenis ini akan dibuang. Potensi limbah kokon inilah yang perlu dimanfaatkan untuk memproduksi berbagai kerajinan dan suvenir.
Pernak-pernik kerajinan berbahan kokon
Putu Suanwedi adalah pemilik Suvanahana Cocoon Craft Bali, Berbagai aksesori seperti kalung, cincin, tas, suvenir bentuk bunga serta kap lampu dibuatnya. Untuk produk jepit rambut berbentuk bunga dari bahan baku kokon. Ukuran dan Tingkat Kerumitan dalam pembuatan suvenir mempengaruhi harganya. Ada empat tahapan pembuatan suvenir dari bahan baku kokon. Tahap pertama yang perlu dilakukan adalah membersihkan kokon dari kotoran ulat yang masih menempel. Pembersihan dilakukan dengan tangan karena jika dengan mesin, kokon akan rusak. Setelah itu kokon diberi warna dengan menggunakan cat kain –namun banyak pelanggan yang lebih menginginkan suvenir dengan warna natural. Setelah pewarnaan, kokon kemudian dipotong dengan gunting sesuai dengan pola yang dibutuhkan. Terakhir, kokon yang telah dipotong, biasanya menjadi dua bagian, dirangkai dan di tempel dengan menggunakan lem hingga terbentuk sebuah rangkaian bunga.  Untuk membuat rangkaian bunga dengan ukuran rata-rata 7 cm, Putu setidaknya menghabiskan 50 buah kokon. Adapun untuk bunga yang berukuran 10 cm, ia memerlukan 80 kokon.


Bungan dengan Vas Bunga dari kokon
Furi Suminarintyas dengan My Silk Cocoon Craft di Yogyakarta. Ia memproduksi berbagai macam suvenir seperti bunga, kupu-kupu, capung dan berbagai hiasan kap lampu dengan bahan baku kokon sutera liar. Kokon yang berasal dari budidaya (ternakan) memiliki warna cenderung putih. Sedangkan yang berasal dari hutan (liar) warnanya kuning keemasan, kokon yang berasal dari alam bebas memiliki harga jual lebih tinggi. Selain warnanya lebih bagus, juga proses pembentukan kokon oleh ulat lebih lama.
Meski sepintas membuatnya terlihat sederhana, namun keterampilan merangkai dan mendesain bahan kepompong sutera, baik yang berjenis putih (mulberry silk); coklat (atakas silk); maupun kuning keemasan (cricula silk), menjadi kunci sukses terciptanya kerajinan yang satu ini. Proses diawali dengan pemilihan tekstur kulit kepompong yang selanjutnya dibentuk kecil, mirip kelopak bunga mawar. Tahap selanjutnya bahan kepompong dirangkai sedemikian sesuai dengan motif bunga kuncup atau mekar sesuai pesanan. Sebagai tahap akhir, kepompong yang telah berbentuk bunga, diberi tangkai menggunakan kawat, dengan balutan kertas marmer, untuk memperindah. Barulah kepompong dirangkai satu persatu, dalam vas bunga yang telah disiapkan.
Tips lain untuk pemanfaatan kokon ulat sutera liar sebagai bahan pembuat aksesoris:
1.    Pilih kokon yang bersih dengan motif yang masih terlihat jelas.
2.    Rendam dalam cairan desinfektan selama 10 menit dan bilas dengan air bersih.
3.    Keringkan dengan suhu kamar
4.    Siapkan bahan pendukung lainnya seperti gantungan kunci, peniti bros, karton, kain polos.
5.    Kokon yang sudah kering (siap digunakan) di gunting sesuai dengan motif yang di kehendaki.
6.    Kokon yang sudah di gunting sesuai pola, di tempel menggunakan lem lilin dan lem fox. Bila kokon di aplikasikan pada hiasan pada tas; kerudung; dan taplak, maka desain kokon di jahit pada bahan tersebut.

Ponteghi, camilan masyarakat Korea dari Pupa ulat sutera
Penutup
Peternakan ulat sutera sesungguhnya multiguna. Ia bisa berfungsi ekologis –melestarikan alam yang akan berpengaruh terhadap keseimbangan ekosistem, dan industri ramah lingkungan (mungkin tidak perlu melakukan Amdal, namun kaedah-kaedah kelestarian lingkungan harus diperhatikan, terutama dalam hal kaedah konservasi lahan supaya tidak terjadi erosi, begitu pula dalam hal pemupukan agar Liberian pemupukan yang berimbang agar tidak terjadi proses pemiskinan tanah). Bisa juga bernilai ekonomis –membawa peningkatan kesejahteraan masyarakat; meningkatkan pula peluang bagi tenaga kerja; meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) setempat dengan retribusi/pajak daerah, dan sekaligus sosio-kultural. Kain sutera membuka kegiatan sosial bernilai budaya tinggi dan berdampak langsung pada kesehatan. Serat sutera bersifat higroskopis, menghalangi terpaan sinar ultraviolet, menjaga kekenyalan kulit, dapat di manfaatkan sebagai bahan kosmetik maupun industri pengobatan.
Keistimewaan dari sutera antara lain:
·      Sutera merupakan bahan yang sangat kuat –konon, kekuatan sutera sebanding dengan kawat halus yang terbuat dari baja.
·      Sutera juga lembut saat menyentuh kulit. Asam amino dalam serat sutera yang membuat sutera terasa lembut dan nyaman. Bahkan sutera dapat menjaga agar terhindar dari berbagai penyakit kulit. Tentu hal ini akan membuat pemakainya merasa nyaman.
·      Sutera memiliki kemampuan menyerap yang baik sehingga cocok digunakan di udara yang hangat dan tropis. Karena itu, setiap pemakai bahan sutera akan merasa sejuk dan lebih kering meski udara panas. Yang menyebabkan bahan sutera mampu menyerap kelembaban dan cairan karena asam amino di dalam serat sutera mampu menyerap lalu membuang keringat.
·      Bahan sutera memiliki ciri khas yaitu berkilau seperti mutiara. Hal ini disebabkan karena lapisan-lapisan fibroin, yaitu sejenis protein yang dihasilkan ulat sutera, membentuk struktur mikro yang berbentuk prisma. Struktur prisma inilah yang menyebabkan cahaya akan disebar ketika terkena bahan dari sutera sehingga menimbulkan efek kilau yang indah pada sutera.
·      Sutera memiliki daya tahan terhadap panas dan tidak mudah terbakar.
Jadi, produk yang dihasilkannya lebih alami dan ramah lingkungan. Selain itu, ulat sutera liar dapat pula digunakan untuk makanan tambahan maupun obat-obatan. Beberapa asam amino yang menyusun fibroin memperlihatkan efek secara medis. Glisin dapat menurunkan tekanan darah, alanin diketahui dapat meningkatkan aktivitas intestinum dan mengurangi gejala akibat kelebihan penggunaan alkohol. Dopa yang berasal dari tirosin memperlihatkan efek positif dalam perawatan penderita penyakit Parkinson. Selain itu fibroin juga mengandung asam amino esensial seperti, valin, leusin, isoleusin, trionin, dan lain-lain.
Hileud Haji mungkin tidak pernah menjadi primadona, namun potensinya sebagai bahan penghasil kain sutera atakas, tidak boleh diabaikan. Ulat yang selama ini dianggap sebagai hama, ternyata mampu menghasilkan benang sutera yang bernilai ekonomis. Siapa sangka, ulat yang semula dianggap mendatangkan bencana ternyata berbuah berkah ?





Mugia aya manfaatna. 

11 komentar:

  1. Rejeki yang Allah SWT berikan, akan terbuka bagi orang-orang kreatif.
    Kreativitas membuka peluang pada "Terbukanya" lapangan kerja baru.

    BalasHapus
  2. makasih buat infonya, menarik sekali nih. di tempatku di Jonggol juga banyak terdapat ulat ini ya, biasanya mereka memakan daun kecapi.

    BalasHapus
  3. Terimakasih komentarnya, Putri Bungsu.

    BalasHapus
  4. Pada dasarnya, jenis ulat ini bisa memakan daun apa saja.
    Itulah kenapa, pembudidayaan ulat ini sangat mudah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal mas ade, aku agnes,Mas untuk saat sekrg ini, apa ulat ini bs dijumpai disana? Saya sedang butuh ulat sutera emas untuk bahan penelitian. Mohon jawabannya.
      Terimakasih

      Hapus
  5. Salam kenal juga, neng Agnes.
    Dari pengamatan saya, jenis hileud haji ini masih sangat banyak dijumpai di daerah Garut.
    Untuk lebih jelasnya, datang saja ke kang Soleh (perusahaan Sutera Alam Soleh) di Jalan Terusan Pembangunan Nomor 101 Kabupaten Garut.

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kenal mas ade saya irna ebry ramdhani mohon informasinya apakah didaerah garut saya bisa menemukan kokon ulat sutera liar attacus atlas yang masih segar karena saya butuh kokon segarnya untuk dijadikan bahan untuk penelitian saya mohon informasinya di email di email saya irnafebryramdhani@yahoo.co.id nmr tlpon 085242388828 karena saya dari sulawesi mohon informasinya secepatnya untuk yg bisa saya hubungi untuk mendapatkan kokon ulat sutera liar yang masih segar makasih sebelumnya.

      Hapus
  6. Sampurasun..kang ade, dupi jenis Bombyx Mori aya di Garut ?

    BalasHapus
  7. Rampes... Bombyx Mori sareng Attacus Atlas, masih seueur pisan di Garut.
    Mangga sumpingan wae ka perusahaan SAS (kang Soleh).

    BalasHapus
  8. Wah emang ulat sutra dapat memberikan peluang bisnis buat kita yang kreatif ya gan, dari texturnya yang alami dan warna kuning ke emasan ,sangat bagus untuk bahan kerajinan yang bernilai ekonomis.

    Untuk menjual kepompompong ulat sutra emas di mana ya gan ?

    Ttims infonya baca juga postingan saya ya gan http://www.biaspelangi.pe.hu/2015/03/kerajinan-tangan-kerajina-dari-sutra.html?m=1

    Salam kenal dan sukses selalu.

    BalasHapus
  9. Asslamu'alaikum
    Kang Ade, bolehkah saya minta kontak kang ade? Ini merupakan hal yang sangat luar biasa. Saya ingin belajar bersama kang ade. Saya mahasiswa pertanian dari Universitas Siliwangi.

    BalasHapus