Jumat, 28 Februari 2014

Nol Kilometer di Titik Ba'U



Sebuah lagu nasional karya R. Surarjo, awalnya bersyair: "Dari Barat sampai ke Timur, berjajar pulau-pulau", tetapi bait tersebut kemudian diubah atas masukan Presiden Soekarno tahun 1960-an saat mempersatukan Irian Barat ke Negara Kesatuan Republik Indonesia. Perubahannya menjadi: ‘Dari Sabang sampai Merauke, berjajar pulau-pulau’. Kebanggaan itu terus berakar, menanamkan kesan kuat bahwa batas Barat negara Indonesia ialah Kota Sabang dan di sisi Timur-nya ialah Kota Merauke.
Bung Karno, bukannya tanpa alasan memberikan masukan demikian. Pada dasarnya, slogan terkenal ‘Dari Sabang sampai Merauke’ yang dipopulerkan oleh Bung Karno tersebut bertujuan untuk mematahkan ucapan seorang perwira Belanda bernama Jenderal J.B. van Heutsz saat sang jenderal mengklaim ‘kemenangannya’ dalam Perang Aceh tahun 1904, yaitu “vom Sabang tot Merauke”.

Weh, vom Sabang tot Merauke
Pulau We, mirip huruf  'W'.
Pulau Wehatau: We, tanpa huruf ‘h’, adalah pulau vulkanik kecil yang terletak di Barat Laut Pulau Sumatera. Pulau Weh sendiri merupakan pulau utama dan terbesar yang terpisahkan dari daratan Aceh oleh Selat Benggala. Pulau ini pernah terhubung dengan Pulau Sumatera, namun kemudian terpisah oleh laut setelah meletusnya gunung berapi terakhir kali. Pada masa Kesultanan Aceh, wilayah Pulau Weh sendiri merupakan tempat Geupeuwehpengusiran atau dipindahkan bagi seseorang yang dikenakan hukuman berat dari kesultanan. Sebutan geupeuweh kemudian dilekatkan kepada nama pulau ini, dan seiring dengan waktu, kemudian pelafalannya menjadi Weh dan diartikan sebagai: ‘pulau pindah’ atau ‘pulau yang terpisah’. Menurut legenda dari warga di Gampong Pie Ulee Lheueh Banda Aceh, Pulau Weh sebelumnya bersambung dengan Ulee Lheue. Daratan Ulee Lheue di Banda Aceh sebenarnya adalah Ulee Lheueh –yang terlepas namun ketika ada gunung berapi yang meletus, menyebabkan kawasan ini menjadi terpisah. Menurut warga yang berasal dari Luar Nanggroe, Pulau Weh terkenal dengan nama: Pulau We –tanpa huruf H. Mungkin diberi nama Pulau We karena bentuknya seperti huruf W.
Kota Sabang berada di Pulau Weh dan merupakan Ibukotanya –karena terletak di Pulau Weh, banyak orang yang menyebut Pulau Weh sebagai Pulau Sabang. Sabang merupakan kota kecil yang indah dengan struktur tanah berbukit-bukit sehingga warga setempat menyebut kota Sabang dengan dua nama yaitu: Kota Bawah dan Kota Atas. Dari segi geografis Indonesia, wilayah Kota Sabang berada pada 95°13'02" BT hingga 95°22'36" BT, dan 05°46'28" LU hingga 05°54'28" LU, merupakan wilayah administratif paling Utara, dan berbatasan langsung dengan negara tetangga, yaitu: Malaysia; Thailand; dan India. Wilayah Kota Sabang dikelilingi oleh Selat Malaka di Utara, Samudera Hindia di Selatan, Selat Malaka di Timur dan Samudera Hindia di Barat.
Kata "Sabang" berasal dari bahasa Aceh yaitu: Saban –yang berarti, ‘sama hak dan kedudukan dalam segala hal. Hal ini dikaitkan dengan keberadaan Sabang yang dulunya banyak didatangi pendatang dari luar untuk membuka seuneubokkebun atau usaha lainnya. Pendatang tersebut berasal dari berbagai daerah dengan budaya yang berbeda –baik, sikap; nilai; maupun adat istiadat. Lambat laun terjadi asimilasi, dimana beragam perbedaan tersebut akhirnya memudar dan kedudukan mereka menjadi sama. Istilah saban ini telah lama melekat kepada Pulau Weh yang kemudian perlahan berubah penyebutannya menjadi "Sabang".
Dalam literatur lain, nama Sabang berasal dari bahasa Arab: Shabag –yang artinya, ‘gunung meletus. Mungkin dahulu kala masih banyak gunung berapi yang masih aktif di Sabang, hal ini masih bisa dilihat di gunung berapi di Jaboi dan Gunung berapi di dalam laut Pria Laot.
Menurut legenda setempat, dahulu kala, ada putri cantik jelita yang mendiami pulau ini meminta kepada Sang Pencipta agar tanah di pulau-pulau ini bisa ditanami. Sang Putri, bersedia membuang seluruh perhiasan miliknya sebagai bukti keseriusannya. Dan sebagai balasannya, Sang Pencipta kemudian menurunkan hujan dan gempa bumi di kawasan tersebut. Kemudian terbentuklah danau yang kemudian diberi nama Aneuk Laot. Danau seluas lebih kurang 30 hektar itu, hingga saat ini menjadi sumber air bagi masyarakat Sabang –meski ketinggian airnya terus menyusut. Di akhir legenda, setelah keinginannya terpenuhi, Sang Putripun menceburkan diri ke laut. Wallohu ‘alam. Meski tidak ada sumber tertulis yang jelas, keinginan sang putri agar Sabang menjadi daerah yang subur dan indah, telah dikabulkan dan menjadi kenyataan –setidaknya tercermin dari adanya taman laut yang indah di sekitar Sabang. Kondisi yang demikian kenyataannya juga telah memberi penghidupan kepada masyarakat.

Tugu Monumen Kilometer Nol Indonesia dan Titik Ba’U
Tugu Kilometer Nol di Kota Sabang
Pulau Weh yang beribukota di Kota Sabang, adalah bagian dari kepulauan Indonesia yang paling Baratmeskipun pada kenyataannya, titik paling Barat Indonesia adalah Pulau Lhee Blah yakni: pulau kecil di sebelah Barat Pulau Breuh, pulau yang termasuk dalam kelompok Kepulauan Aceh sekitar 20 meter di sebelah Barat Pulau Weh. Titik Barat sebenarnya merupakan titik yang terisolasi di sebelah Barat Desa Meulingge yang sangat sulit dijangkau. Untuk menandakan bahwa Pulau Weh adalah bagian paling Barat dari Indonesia, maka Pemerintah Daerah membangun sebuah monumen di Titik Ba’Udi lokasi paling Barat dan paling Utara dari Pulau Weh. Monumen ini dinamakan: “Monumen Kilometer Nol Indonesia“. Monumen ini berada di kawasan Gampong Iboih, Kota Sabang, Pulau Weh, Nanggroe Aceh Darussalam. Monumen di Titik Ba’U ini, berbentuk silinder –bentuk lingkaran berjeruji dengan tinggi sekitar 22,5 meter dan diameter sekitar 15 meter. Bagian tugu dicat putih, dan bagian atas lingkaran menyempit –seperti mata bor. Di puncak tugu ini, terdapat patung burung Garuda menggenggam angka Nol dilengkapi prasasti marmer hitam yang menunjukkan posisi geografisnya.
Tugu KM 0 Indonesia
Sekilas tampak tak ada yang menarik dari Tugu Monumen Kilometer Nol Indonesia ini, selain sebuah menara usang dengan tiga buah plakat prasasti. Di lantai pertama monumen terdapat sebuah pilar bulat dan terdapat prasasti peresmian tugu yang ditandatangani Wakil Presiden Try Sutrisno, pada 9 September 1997. Di lantai kedua terdapat sebuah beton bersegi empat dimana  tertempel dua prasasti yaitu prasasti pertama ditandatangani Menteri Negara Riset dan Teknologi/Ketua BPPT BJ. Habibie, pada 24 September 1997. Dalam prasasti itu bertuliskan penetapan posisi geografis KM-0 Indonesiaposisi tersebut diukur oleh pakar BPPT dengan menggunakan teknologi Global Positioning System (GPS). Prasati kedua  menjelaskan posisi geografis tempat ini, yaitu: 05054’21,99’’ Lintang Utara; 95012’59,02" Bujur Timur. Data teknis berdirinya tugu ini tertoreh di atas lempeng batu granit yang menyebutkan “Posisi Geografis Kilometer 0 Indonesia, Sabang. Lintang: 05054’21.42” LU dan Bujur: 95013’00.50” BT. Tinggi: 43.6 Meter (MSL). Posisi Geografis dalam Ellipsoid WGS 84”. Jarak tugu monumen dari pusat Kota Sabang, kurang lebih 15 km, dengan perjalanan darat.




***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar