Selasa, 20 Januari 2015

Garut, Surga dari Dunia Timur



Sejak tahun 1880-an, Garut telah memiliki hotel yang cukup terkenal bernama Hotel van Horck. Saat itu, objek wisata di Garut banyak dipromosikan di perusahaan pelayaran dan penerbangan Belanda. Salah satunya, dipromosikan oleh organisasi pariwisata bernama Nederlandsch Indische Hotelvereeniging. Objek-objek wisata Garut pun, dikenal di mancanegara. Kota Garut pun kemudian dijuluki sebagai: Paradijs van Het Oosten atau “Surga dari Dunia Timur”.
Paviliun Hotel van Horck, Leles - Garut.

Salah satu hotel di Garut yang terkenal ke macanegara pada abad ke-19, adalah Hotel van Horck. Hal ini tercatat dalam lembaran pariwara di surat kabar The Strait Times, edisi 29 Mei 1899, yang memberitakan kunjungan Dr. J. Scheltema dari Eropa yang menginap di salah satu paviliun hotel tersebut. Hotel van Horck ini dimiliki oleh CH van Horck, terletak di Leles dekat stasiun kereta api yang saat itu merupakan salah satu station kereta api utama dalam rangkaian jalur kereta api di Pulau Jawa. Hotel ini pada tahun 1921 direnovasi dan didesain ulang oleh Ghijsels van Arkel, dia adalah seorang bachelor architect lulusan Architecture at the Polytechnic in Deft Belanda. Banyak lagi bagunan hasil karyanya, dan sebagian telah dihancurkan. Berikut ini, catatan tiga pelancong mancanegara yang datang ke Garut dan menginap di Hotel Horck.
Hotel van Horck, 1900.
Taman Hotel van Horck, 1900.
Hotel van Horck di sebelah kanan.

Eliza Ruhamah Scidmore
Eliza Ruhamah Scidmore
Sebuah buku yang bertajuk, Java: The Garden of the East, pertama kali diterbitkan di Washington pada 1897. Buku ini menceritakan perjalanan Eliza Ruhamah Scidmore tahun 1890-an dari Batavia ke Buitenzorg, naik kereta api dari Buitenzorg, melintasi Cianjur dan sempat singgah di Bandung dan Lembang. Kemudian dia ke Surakarta, Yogyakarta, kembali ke Priangan, singgah di Garut dan mendaki Papandayan. Setelah singgah di Garut, Eliza pulang ke negaranya melalui Buitenzorg dan Batavia.
Eliza Ruhamah Scidmore, lahir 14 Oktober 1856 di Clinton, Iowa – Amerika Serikat. Ia seorang fotografer, juga sekaligus ahli geografi. Sepulang dari Jawa Tengah, Eliza Ruhamah Scidmore mengunjungi Garut. Dalam bukunya dia menceritakan bahwa membutuhkan setengah jam perjalanan dari Cibatu –stasiun kereta api. Waktu dia tiba, bersamaan dengan hujan yang lebat, membuat dia kehilangan panorama pegunungan hijau yang indah mengelilingi Garut. Dia menceritakan melihat persawahan, anak laki-laki menggembala kawanan angsa dan ada anak laki-laki yang menaiki kerbau, serta terdapat burung-burung. Eliza menginap di Hotel Horck –milik CH van Horck, hotel yang menurutnya terbaik di tengah Kabupaten Priangan. Hotel ini mempunyai teras, menghadap pemandangan yang bagus. Tempat tidur dengan bunga, dipadu batu dan kerang. Dalam bukunya Eliza melihat hotel itu punya hiasan seperti patung Mozart, meja panjang tempat orang-orang bercakap-cakap. Sekalipun cukup dingin, wanita-wanita Belanda ini –parapegawai hotel memakai kain sarung yang dipadu dengan dress. Kaki mereka kerap dibiarkan telanjang, mereka baik dan mampu berbicara bahasa Inggris. Eliza juga memberikan informasi yang didengarnya tentang piramid di Gunung Haruman Garut, yang diyakini dari masa lalu –jadi sebetulnya, heboh piramid di Garut saat ini juga sudah dibicarakan pada akhir abad 19.
Alun-alun kota, hijau asri, dimana terdapat rumah bupati pribumi –pada waktu itu diperintah Raden Adipati Aria Wiratanudatar VIII yang memerintah dari 1871 hingga 1915. Terdapat rumah warga Belanda, serta sebuah masjid. Mufti masjid sebelumnya sebetulnya seorang pria yang cerdas dan berpandangan bebas, dia hanya memiliki seorang istri. Dia mengizinkan istrinya –dengan wajah terbuka belajar Bahasa Belanda dan bertemu dengan tamu-tamu asingnya, baik laki-laki maupun perempuan. Para pelancong kerap membawa surat kepada mufti ini, dan mengutip perkataannya pada buku-bukunya. Namun sejak kematiannya, ulama yang lebih konservatif memerintah. (dalam catatan sejarah, Raden Haji Muhammad Musa, diangkat sebagai Hoofd-Panghoeloe/Penghulu Besar Garut pada masa itu, tahun 1864-1886).
Para wisatawan masa itu menganggap, pesiar besar di kawasan Garut ialah mengunjungi Kawah Papandayan. Gunung yang dilukiskan dalam bukunya itu, memiliki panjang 15 mil dan lebar 6 mil, menjadi tujuan Eliza dan rombongannya –tidak dilukiskan dengan detail siapa saja yang ikut, gunung itu pernah meletus sekitar seratus tahun ketika penulis buku itu berkunjung. Pada waktu itu (akhir abad ke-19) Papandayan masih beruap, bergemuruh seperti petir dan setiap saat bisa meledak. Dalam bukunya, Eliza mendapatkan informasi bahwa Papandayan meletus pada 1772. Massa padat gunung itu terlontar keluar ke udara, aliran lava tercurah, abu tumpah menutupi area seluas 7 mil persegi dan sekitarnya dengan lapisan lima kaki tebalnya. Letusan menghancurkan empat puluh desa, dan menewaskan tiga ribu jiwa dalam satu hari. Wisatawan bisa melihat bekas letusan di dekat gunung dan uap panas kerap ke luar. Eliza menceritakan dalam bukunya:
“Kami memulai perjalanan pada suatu pagi di bawah hujan dan melaju dua belas mil di dataran yang keras, jalan berpasir putih, terus perbatasan putih dengan naungan pohon. Kami melewati desa-desa yang basah dan tampak muram. Kami melalui dangau-dangau yang berada diantara sawah dimana anak laki-laki dengan katapel mengusir gagak yang menganggu sawah. Pemandangan ini mirip yang kami lihat di Hizen, Jepang” (halaman 314).
Djoelie atau Djoelis, tandu pengangkut.
Di Cisurupan, masing-masing rombongan diangkut dengan kursi yang ditandu empat kuli yang disebut Djoelie atau Djoelis –seperti yang dilihatnya di Lembang serupa dengan transportasi tandu di Cina Selatan. Rombongan melihat tanaman kopi di dasar gunung, kemudian melewati perubahan tanaman tropis ke tanaman sedang, pohon-pohon kopi yang tua terbengkalai. Bagian atas Papandayan masa itu, digambarkan, ada bagian yang berhutan lebat mirip hutan purba dengan pohon-pohon yang merambat. Diantara tanaman yang ditemukan terdapat tanaman, seperti: rotan dan anggrek dengan daun-daun hijau menyejukkan mata.
Para wisatawan ini, bertemu rombongan kuli yang membawa batu belerang –Eliza menyebutnya balerang berwarna kuning di keranjang pada punggungnya. Dari ketinggian, rombongan melihat pemandangan dataran Garut yang hijau. Bagian atas gunung, ada jaringan jalan putih. Rombongan, melewati sisi lain dari gunung yang solid yang dibuat oleh bekas letusan. (pada masa itu, parawisatawan, selain dapat menikmati pemandangan Kawah Manuk dan Taman Inggris, juga asitektur rumah tradisional Sunda di puncak gunung).
Kami melintasi daerah berbatuan dan melihat kolam balerang yang menggelegak seluas 5 acre. Penampilannya mirip kolam emas yang mendidih. Ada kekhawatiran kalau sewaktu-waktu kolam itu meledak dan menembak ke udara. Suara bergemuruh di bawah tanah terasa aneh, seperti suara rantai besi, seperti orang yang bekerja di bengkel. Mungkin ini yang menyebabkan gunung ini dinamakan Papandayan. Kuli-kuli yang membawa balerang berjalan hati-hati di antara kolam-kolam balerang. Sepatu kami saja tidak tahan terhadap uap panas. Belum lagi resiko gas-gas beracun seperti gas karbon dan hydrogen sulfur adalah ancaman maut. (halaman 319).
Orang dapat melihat Laut Jawa dan Samudera Hindia dari puncak Papandayan yang berada sekitar 7000 kaki dari permukaan laut, walaupun langit berawan. Kuli-kuli yang membawa Djoelis tidak menemukan jalan di tepi kawah untuk bisa membawa rombongan (resikonya bisa terguling karena kemiringannya). Mau tidak mau mereka harus turun berjalan kaki melewati semak-semak dan rumpun bambu, pelayan mereka berjalan mendahului.
Parakuli Djoelis ini diceritakan sebagai orang-orang yang malas, miskin, kerap ditipu pemilik lounge, karena mereka sulit menyediakan kuda yang bisa dibawa mendaki gunung. Kuli-kuli terlihat murung, berjalan tanpa alas kaki dan enggan kalau harus melewati semak-semak berduri. Beberapa kali kuli-kuli ini mengeluh, namun Eliza dan rombongan bersikeras ingin lihat Laut Hindia dari atas. Setelah melewati hutan bambu dan semak-semak, mereka tiba di daerah berbatuan. Mereka melihat pemandangan berawan, biru bercampur kelabu, musim hujan,
Kami kembali melihat pemandangan mosaic sawah dan dataran Garut yang kering serta kaki gunung, serta batas Laut Hindia berwarna keperakan. Kami melihat tanaman yang sudah dibudidayakan seperti teh, disusul kopi diketinggian di atasnya dan batas tanaman kina. (halaman 320).
Eliza teringat imajinasi dari ahli bedah dari VOC di Semarang pada 1773 bernama dr. Foersch, yang memberikan cerita perjalanan menakutkan melintasi lembah maut di dataran Dieng.
Rombongan, turun dan beristirahat di bangunan tempat paratamu dan batu-batu balerang diletakan. Para kuli membawa kami turun melalui jalur lain melintasi berbagai tanaman, diantara tanaman kopi yang tidak setiap waktu ada. Eliza tiba di Desa Cisurupan, dan mendapat sambutan dari kepala desa. Paratamu, diberikan suguhan pertunjukan gamelan dengan berbagai lagu. Menurut cerita Eliza, dia dan rombongannya tiba di Garut sore hari dan terlambat untuk mandi. Dalam bukunya ia menulis, terang bulan yang menyelimuti teras memberikan ingatan indah tentang jalan-jalan dengan pohon rindang di Garut, serta patung Mozart seperti memandanginya. Setelah singgah di Garut, Eliza pulang ke negaranya melalui Bogor dan kemudian lanjut ke Batavia.

Raja Chulalongkorn, Rama V
Raja Chulalongkorn
Raja Chulalongkorn –Phra Bat Somdet Phra Poramintharamaha Chulalongkorn Phra Chunla Chom Klao Chao Yu Hua, Phra Chulachomklao Chaoyuhua atau juga disebut: Rama V, adalah raja dinasti Chakri yang ke-5. Ia dianggap sebagai salah satu raja terbesar Siam –Thailand. Perhatian Chulalongkorn yang sangat besar bagi rakyat dan negrinya dianggap seperti seorang ayah kepada anaknya, karena itu rakyat Siam memberikan julukan kepadanya: Phra Piya Maharaj –Phra Piya (Ayah) Maharaj (Raja Besar). Rama V tercatat 3 kali mengunjungi Pulau Jawa, masing-masing: tahun 1871; 1896; dan tahun 1901. Karena terkesan oleh sambutan dan kebaikan orang Belanda di Batavia, Chulalongkorn mengirimkan sebuah patung gajah –yang sampai sekarang masih terpajang di depan Museum Nasional. Kunjungan pertama beliau ke Garut, dilakukan pada tahun 1871. Dalam kunjungan kedua pada 9 Mei 1896 sampai 12 Agustus 1896, beliau membawa banyak keluarga kerajaan dengan menggunakan kapal Maha Chakri. Berbeda dengan kunjungan sebelumnya, kali ini Rama V meminta agar tidak diadakan sambutan-sambutan resmi bagi rombongannya sehingga dapat lebih leluasa bergerak dan mengamati. Karena itu, perjalanan kali ini dapat berlangsung lebih santai. Di Garut, Rama V menginap di sebuah hotel dekat stasiun yang dimiliki oleh Van Horck.
Cipanas, Tarogong Garut.
Hampir setiap hari, Rama V datang ke Cipanas. Dalam perjalanan ia dapat menikmati pemandangan gunung-gunung, seperti: Gunung Guntur, Karacak, Cikuray, dan Gunung Papandayan. Di Garut, Rama V juga mendatangi tempat pembuatan sarung serta mengamati proses kerjanya. Beliau menyaksikan kegiatan panen ikan, menonton pertunjukan angklung, wayang, adu domba, dan lain-lain. Salah satu tontonannya adalah seorang penyanyi klab yang disebutnya sebagai orang Belanda kelahiran Jawa yang belajar menyanyi di Paris.
Rama V juga mengunjungi Situ Bagendit yang indah. Di sini, ia dijamu minum teh oleh Wedana dan Asisten Wedana. Residen, saat itu, juga mengajaknya berjalan-jalan keliling kampung melihat rumah Sunda yang hanya memiliki satu pintu pendek dan tanpa jendela. Setelah itu, diundang pula bertamu ke rumah residen.
Suatu hari, Rama V bersiap akan mendaki Gunung Papandayan. Malamnya, rombongan menginap dulu disebuah pesanggrahan di Cisurupan. Sebagai hiburan, malam itu digelar pertunjukan ronggeng dan wayang golek. Di masa itu sebagian kalangan menganggap ronggeng adalah pertunjukan seronok yang bahkan dilarang penampilannya di Yogya, Solo, atau Surabaya.
Dalam pendakian di Gunung Papandayan, Rama V menunggang seekor kuda, sementara ratu –Ratu Saovabha Bongsri dan perempuan lainnya menggunakan kursi yang ditandu oleh parapribumi –semasa hidupnya, Chulalongkorn memiliki 4 orang istri, 92 selir, dan 77 orang anak. Pendakian berhasil mencapai puncak, dan selewat siang hari, rombongan sudah kembali ke Cisurupan dan dilanjutkan pulang ke Garut.
Dari Garut, pada tanggal 17 Juni 1896, raja ke Bandung. Setelah itu, beliau juga mengunjungi Sukabumi dan Cianjur. Garut, ternyata mempunyai “tempat tersendiri” dihati sang raja. Setelah mengunjungi Sukabumi dan Cianjur pada tangga 20 Juni, keesokan harinya rombongan kembali berkereta api menuju Garut dan menginap di hotel yang sama seperti sebelumnya, yakni: Hotel van Horck. Pada tanggal 22 Juni, Rama V berangkat ke Wanaraja untuk pendakian menuju Talagabodas. Sekembalinya di Garut, Rama V mengisi waktu dengan menulis catatan perjalanan, mengunjungi pasar mingguan, dan menyaksikan perayaan sunat di rumah patih.
Talagabodas, Wanaraja - Garut.

Justus van Maurik
Justus van Maurik
Justus van Maurik juga, menyebutkan Hotel Horck di Garut. Ia adalah seorang pengusaha asal Belanda, yang datang ke Hindia untuk urusan dagang. Garut, menurut catatannya, memiliki iklim pegunungan yang sejuk. Banyak orang datang ke Garut, untuk memulihkan kesehatan mereka. Hotel van Horck, juga memiliki koleksi ayam jantan dan burung-burung. Selama tinggal di hotel ini, van Maurik meminta ayam dan burung dibawa menjauhi kamarnya, sehingga ia bisa tidur dengan tenang. Mungkin, suara dari hewan-hewan yang ada di hotel tersebut mengganggu ketenangan istirahatnya. Menurut Justus van Maurik, “di Garut, mendaki Papandayan, naik ke kawah, yang dikenal sebagai yang paling spektakuler di Jawa” - (Te Garut wordt de Papandayan beklommen, tot aan de krater, waarvan bekend was dat het de meest spectaculaire op Java is). Ia mendaki Papandayan dengan menaiki kuda, sementara rombongannya, tiga wanita, diangkut dengan sebuah tandu. Tidak ada catatan lain dari perjalanan Justus van Maurik ini, hanya setelah dari Garut, sebelum kembali ke Belanda, ia ke Surabaya terlebih dahulu dan bertemu Adhipatti Arijo Tjokro Negoro IV, Bupati Surabaya. Dalam catatan sejarah, Raden Adipati Arijo Tjokro Negoro IV adalah Regent van Soerabaja –bupati Surabaya 1863–1901.


***

Rabu, 14 Januari 2015

Kain Tenun Cap Padi



Pabrik Tenun Garut, didirikan oleh NV Rotterdam Internatio. Pabrik ini semula bernama: NV Preanger Bontweverij Garoet, tetapi kemudian lebih terkenal dengan nama Pabrik Tenun Garut. Pabrik yang berlokasi memanjang di Jalan Guntur dan berbatasan dengan Jalan Cimanuk (Leuwidaun) Garut tersebut, adalah penghasil kain katun sarung berkualitas terbaik yang memakai merek: “tjap Padi”. Selain itu juga, pabrik ini memproduksi kain katun handuk dan kain katun bahan seragam militer yang berwarna abu-abu hijau (grijs-groen katoenen). Pabrik tenun ini, kemudian berkembang dan menjelma menjadi Raksasa Tekstil Asia Tenggara. Dari pendapatan pabrik inilah, mengalirkan kesejahteraan hidup bagi ribuan karyawannya. Dan, dari lengkingan sirene pabriknya, membuat Kota Garut meraih predikat sebagai Kota Terbersih di Indonesia.
Tenun Sarung "tjap Padi" buatan PTG

Pabrik Tenun Garut
Kondisi di awal tahun 1930-an, dunia lagi dilanda krisis ekonomi –malaise. Namun justru di saat krisis itu, satu grup usaha terkemuka di Belanda –Internatio, yang merupakan salah satu dari Big Five Trading House (yakni: NV Rotterdam Internatio; NV Jacobson van den Berg atau Jacoberg & Co; NV Lindeteves Stokvis, NV Borsumij Maatschappij; serta NV J & Geo Wehry) dalam perdagangan retail di Hindia Belanda, mendirikan sebuah pabrik tenun: Naamloze Vennootschap Preanger Bontweverij (PBW) di Garut pada 8 Juni 1933, pimpinan G. Dalenoord. Pendirian NV Preanger Bontweverij di Garut itu, merupakan upaya grup Internatio dalam mengatasi krisis perusahaan. Salah satunya adalah dengan memperkuat sektor manufaktur di Hindia Belanda. Dengan begitu, jarak produksi dengan negara importir bahan baku menjadi tidak terlalu jauh, begitu pula dengan daerah pemasaran produk. Perusahaan Internatio sendiri, berdiri sejak 1863 yang dibentuk oleh paraprodusen kapas di Twente Belanda dan bergerak di bidang pembiayaan perdagangan. Dan ternyata, NV Preanger Bontweverij Garoet berkembang sangat pesat –meski sempat tersendat akibat terjadinya Perang Dunia Kedua. Sampai dengan era 1930-an akhir, terdapat dua perusahaan Eropa di sektor tenun yang berskala besar, yakni: Preanger Bontweverij di Garut dan Java Textielmaatschappij di Tegal. Di antara keduanya, yang terbesar adalah: Preanger Bontweverij.
Pabrik Tenun Garut - Preanger Bontweverij Garoet, 1930-1940-an.
NV Preanger Bontweverij Garoet, didirikan dengan modal sebesar 1.000.000 gulden. Luas pabrik, awalnya sekitar 3.500 m2, yang berada di lahan seluas 24.000 m2. Sebagian lokasinya terpisah oleh Sungai Cimanuk yang membelah Kota Garut –karenanya, di dalam kawasan pabrik itu terbentang jembatan tangguh. Pada tahun 1935, pabrik tenun ini memiliki 259 mesin tenun –alat tenun mesin dan 76 alat yang digerakkan tangan –alat tenun bukan mesin. Jumlah pekerjanya sekitar 600 orang, yang rata-rata upahnya 40-50 sen sehari, sehingga total 100.000 gulden per tahun upah yang dibayarkan. Pada akhir 1937, mesin tenunnya meningkat menjadi 484 mesin serta jumlah pekerja menjadi 1.200 orang, dengan upah yang dibayarkan sebesar 200.000 gulden per tahun.
Rambut Panjang Megawati Soekarnoputri, menghiasi kunjungannya di PTG-1964.
Rombongan Putri Presiden Soekarno (Megawati Soekarnoputri) saat melintasi jembatan PTG, 1964.
Pada tahun 1935, Preanger Bontweverij Garoet memproduksi hampir 2 juta meter kain sarung per tahun, sementara itu, pada tahun 1937 tercatat hampir 3 juta meter kain per tahun. Penyelesaian perluasan pabrik dan penambahan mesin, telah direncanakan agar dapat meningkatkan kapasitas produksi sampai dengan dua kali lipatnya. Kain sarung produksi Preanger Bontweverij ini, memakai merek sarung: “tjap Padi”. Selain kain sarung, Preanger Bontweverij juga memproduksi kain handuk. Pada tahun 1937 itu juga, Preanger Bontweverij Garoet mendapat kontrak untuk membuat 600.000 meter kain bahan seragam KNIL –Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger.
ATM (Alat Tenun Mesin) Pabrik Tenun Garut
Karyawan PTG dan Mesin Tenun
Kain Tenun Garut
Mesin-mesin Tenun di PTG
Mekanik Mesin
Kain Tenun Buatan Preanger Bontweverij Garoet (Pabrik Tenun Garut) dalam sebuah pameran, 1939.
Di masa kekuasan Jepang, Preanger Bontweverij Garoet berganti nama menjadi: Garoet Syokoho Kozyo, dibawah pimpinan: K. Abe J. Matsumoto. Tahun 1941, pabrik tenun itu kembali ke tangan Belanda. Pada tahun 1962, pabrik tenun ini menjelma menjadi Raksasa Tekstil Asia Tenggara. Tingginya kapasitas produksi unggulan PTG –berupa: kain sarung “Cap Padi,” dan handuk, mampu menembus pasar Saudi Arabia. Pabrik ini, mengalirkan kesejahteraan hidup bagi ribuan karyawannya di Garut –konon, 10% warga Garut terserap sebagai tenaga kerja pabrik tenun itu. Kondisi seperti itu berlangsung hingga tahun 1974, meski kapasitas produksi mingguan PTG menurun sampai 35.000 potong kain sarung, 10.000 kain handuk, dan 6.000 meter kain kerja. Pada tanggal 14 September 1964, PTG jadi milik pemerintah Republik Indonesia, dan berganti nama menjadi PTG “Ampera I” Garut yang ditangani oleh Provinsi Jawa Barat. Kemudian, pabrik tenun ini dikelola oleh Perusahaan Daerah Kerta Paditex Jawa Barat. Di era 1980-an, kapasitas PTG sebagai unit kerja PD Kerta Paditex Jawa Barat, tak mampu lagi memenuhi misinya untuk penambah sumber pendapatan Pemprov Jawa Barat. Terakhir, pabrik tenun yang dikelola oleh Perusahaan Daerah Kerta Paditex Jawa Barat ini, kemudian bersama PD. Kerta Pertambangan, PD. Kerta Sari Mamin, dan PD. Kerta Gemah Ripah, dilebur oleh pemerintah Provinsi Jawa Barat menjadi PD. Agribisnis dan Pertambangan.

Katoenen Garoet
Seragam KNIL, Made in Garut - 1942.
Selain kain sarung dan kain handuk, Preanger Bontweverij Garoet juga memproduksi kain katun bahan seragam militer yang berwarna abu-abu hijau –grijs-groen katoenen. Pada tahun 1936, pabrik tenun di Garut ini mulai memproduksi grijs-groen katoenen dengan kualitas yang lebih baik dari bahan sebelumnya yang diproduksi di Cirebon. Tapi kemudian, orang Belanda menamakan semua grijs-groen katoenen itu sebagai: Katoenen Garoet –katun Garut. Katun produksi Preanger Bontweverij Garoet ini, disebut sebagai: katoenen “Garoet-B”. Dan katoenen Garoet-B ini, dipandang berkualitas “paling baik”. Seluruh bahan seragam abu-abu hijau untuk KNIL yang dipasok dari dalam negeri, dibuat oleh Preanger Bontweverij Garoet. Pada tahun 1937, Preanger Bontweverij Garoet mendapat kontrak untuk membuat 600.000 meter kain bahan seragam KNIL.
Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL), merupakan organisasi militer Belanda yang bertugas di Hindia Belanda. Cikal bakalnya adalah Oost-Indische Leger –Tentara Hindia-Timur, yang dibentuk Gubernur Jenderal van Den Bosch pada 4 Desember 1830 –tepat setelah perang Diponegoro usai. Pada tahun 1933, namanya diubah menjadi KNIL. Personil KNIL, terdiri dari prajurit bayaran atau sewaan. Kebanyakan berasal dari: Perancis; Jerman; Belgia; dan Swiss. Undang-undang Belanda, memang tidak mengijinkan wajib militer dari warga negaranya untuk ditempatkan di daerah jajahan. Selain itu, ada pula yang direkrut KNIL dari bekas tentara Belanda yang di negaranya melakukan pelanggaran atau disersi. Karena pelanggaran atau disersi, mereka ini diberikan opsi, untuk: "dihukum" atau "masuk KNIL". Tidak hanya orang Eropa saja, ternyata banyak orang pribumi yang juga direkrut KNIL. Tercatat pada tahun 1936, jumlah pribumi yang menjadi prajurit KNIL mencapai 33 ribu orang atau sekitar 71% dari jumlah personil KNIL keseluruhan. Ketika berhadapan dengan rakyat, maka kebanyakan prajurit pribumi ini pula yang berada di garis depan.
Perekrutan Anggota KNIL
Berdasarkan pengalaman selama menghadapi berbagai peperangan, maka pada tahun 1908, atas inisiatif Komando Angkatan Darat KNIL, mulai diuji coba “seragam lapangan baru”. Batalyon Infantri ke-10 di Batavia, mulai mencoba pakaian lapangan dengan berbagai warna. Tapi, pada tahun 1910 dibuat keputusan untuk memperkenalkan seragam lapangan yang terbuat dari bahan katun tebal berwarna abu-abu hijau –grijs-groen katoenen, yang dikemudian hari disebut sebagai: katoenen Garoetkatun Garut. Bahan kain seragam itu, awalnya didatangkan dari Twente Belanda. Alasan perubahan menjadi warna abu-abu hijau itu, karena kebanyakan laskar pribumi yang melawan mereka selama ini, mengenakan pakaian gelap seperti yang dikenakan prajurit KNIL, yakni yang berwarna biru gelap –donkerblauw uniform. Pada tahun 1911, seragam lengkap yang disebut sebagai: “Grijs-Groen Katoenen Jas Model 1911”, secara resmi diperkenalkan. Seragam ini ditujukan sebagai seragam lapangan, sementara untuk keperluan upacara, masih digunakan donkerblauw uniform. Beberapa saat setelah pengenalan Grijs-Groen Katoenen Jas Model 1911 itu, Perang Dunia Pertama mulai berkecamuk, dan pengaruhnya terasa pada pengadaan bahan kain seragam. Katun abu-abu hijau, saat itu, diimpor dari Belanda dan transportasi laut sangat langka. Sebagai jalan keluar, KNIL mengimpor dalam jumlah besar kapas abu-abu hijau berkualitas buruk dari Jepang. Kapas ini ternyata setelah dicuci, jadi luntur. Ketika perang telah berakhir, katun abu-abu hijau bisa diimpor lagi dari Twente Belanda.
Seragam Sersan KNIL, Made in Garut.
Pada tahun 1926, produksi kapas abu-abu hijau juga dimulai di Hindia-Belanda, tepatnya di Cirebon. Tujuannya semata-mata untuk memenuhi kebutuhan kapas abu-abu hijau di Hindia-Belanda. Dengan produksi dalam negeri ini, maka dapat menghemat pengeluaran, seiring terjadinya penurunan ekonomi –malaise pada waktu itu. Industri tekstil Hindia-Belanda ini, dapat memenuhi total permintaan KNIL pada tahun 1934. Dengan ketersediaan bahan seragam yang melimpah dan cukup berkualitas, maka seragam KNIL didesain ulang. Grijs-Groen Katoenen Jas Model 1911, akhirnya, dapat digunakan juga sebagai seragam upacara –menghapuskan donkerblauw uniform. Pada tahun 1936, pabrik tenun di Garut mulai memproduksi grijs-groen katoenen dengan kualitas yang lebih baik. Katun ini disebut sebagai: Garoet-B. Satu-satunya pabrik tenun di Garut, saat itu, adalah Preanger Bontweverij atau yang dikenal kemudian sebagai: Pabrik Tenun Garut (PTG). Meskipun tidak semua diproduksi di Garut, ternyata semua katun abu-abu hijau yang diproduksi di Hindia-Belanda tahun 1926-1936 kemudian sering disebut sebagai: jenis Garoet-A. Dengan kata lain, orang Belanda menamakan grijs-groen katoenen itu sebagai jenis katoenen Garoet –Garoet-stof. Dengan demikian, ada dua jenis katun: Garoet A dan Garoet B. Sangat mungkin penamaan grijs-groen katoenen ini sebagai katoenen Garoet, disebabkan katun produksi Garut ini adalah jenis yang terbaik. Pada tanggal 20 Juli 1950, KNIL dibubarkan –menyusul ditandatanganinya Konperensi Meja Bundar pada tanggal 27 Desember 1949. Dengan pembubaran KNIL ini, maka jelas, pasar grijs-groen katoenen dari PTG menjadi berkurang.
SK Pembubaran KNIL oleh Ratu Juliana

Sirine
Sumber Suara Sirine, Pabrik Tenun Garut.
Lengkingan sirene dari mulut cerobong asap dapur pabrik PTG, setiap hari kerja, membangunkan warga Garut hingga radius 10 km. Sesungguhnya, bunyi sirene itu ditujukan untuk karyawan PTG dalam menjalani rutinitas di pabrik. Ada sirene persiapan kerja, sirine mulai jam kerja, sirine jam istirahat, dan sirine saat bubar kerja. Tapi karena berbunyi secara rutin itu, maka suara sirene PTG digunakan pula oleh masyarakat Kota Garut menjadi “penanda” waktu sehari-hari. Ketika sirene pertama berbunyi di pagi hari, itu pertanda anak-anak sekolah harus bergegas berangkat, karena jam telah menunjukkan tepat pukul 06.30. Dan, begitu seterusnya. Khusus pada bulan Ramadhan, sirene PTG punya tugas tambahan, yakni: tiap menjelang Shubuh dan saat berbuka puasa, maka sirene akan melengking nyaring.
Pada masa bupati Garut periode 1960-1966, R. Gahara Widjaja Soeria, sirene PTG digunakan sebagai tanda untuk masyarakat Kota Garut memulai kegiatan membersihkan lingkungan kota. Seminggu sekali sirene dibunyikan pada pukul 09.30. Konon, saat itu semua komponen masyarakat ikut terlibat, hingga dalam waktu setengah jam disetiap minggunya itu, aktivitas yang ada di kota hanyalah: beberesih (bersih-bersih). Tak heran, di tahun 1962 Kota Garut meraih predikat sebagai Kota Terbersih di Indonesia, dan Presiden Soekarno secara khusus memberi julukan sebagai: Kota Intan.
Sirine Bubar Kerja, Karyawan Pabrik Tenun Garut - 1939.


***