Jumat, 27 April 2012

Koin Raja Croesus




Revolusi Moneter

Perubahan revolusioner yang saat ini terjadi dalam tabiat dan kegunaan uang, merupakan mutasi besar ketiga pada uang.
Generasi Pertama Uang, pada tahap pertama ini dimulai dengan penemuan uang logam di Lydia kurang lebih 3000 tahun lampau serta membuahkan sistem pasar terbuka dan bebas yang pertama. Penemuan dan penyebaran koin berikut pasar yang menyertainya, menciptakan sebuah sistem kultural yang sama sekali baru (peradaban klasik Mediterania). Sistem moneter dan pasar baru tersebut selanjutnya menyebar ke seluruh dunia dan perlahan-lahan menghancurkan imperium-imperium besar pemungutan upeti dalam sejarah.
Generasi Kedua Uang, sedangkan tahap kedua sudah mendominasi sejak permulaan Renaisans melalui revolusi industri dan menghasilkan penciptaan sistem kapitalis dunia modern. Sistem ini berawal di bank-bank Italia, kemudian lama kelamaan menciptakan sistem perbankan nasional dan uang kertas yang mereka keluarkan untuk digunakan dalam perdagangan sehari-hari. Penciptaan perbankan dan sistem uang kertas, menghancurkan feodalisme; mengubah basis organisasi (dari pewarisan, ke uang); juga mengubah basis kekuatan ekonomi (dari kepemilikan tanah, ke kepemilikan : saham, obligasi, dan perusahaan).
Generasi Ketiga Uang, kini pada pembukaan abad ke-21, dunia sedang memasuki tahap ketiga sejarah moneternya (era uang elektronik dan ekonomi virtual). Kemunculan uang elektronik akan menghasilkan berbagai perubahan dalam masyarakat yang sama radikal dan luasnya dengan yang diciptakan oleh kedua revolusi moneter sebelumnya dalam zamannya masing-masing. Uang baru ini akan mendatangkan perubahan menyeluruh dalam : sistem politik; organisasi usaha dagang; dan dalam watak organisasi kelas. Uang virtual menjanjikan versi peradabannya sendiri yang berbeda.

Raja Croesus dari Lydia
Beberapa abad berlalu, silih berganti berbagai kerajaan muncul; berkembang; dan layu di sepanjang Pantai Ionia dan sekitarnya. Masing-masing meninggalkan sesuatu yang dikemudian hari diadopsi oleh kebudayaan para tetangga dan penerus mereka.
Dari sekian banyak peradaban besar yang berkembang dan surut di Anatolia kuno, kerajaan Lydia tidak termasuk dalam deretan bangsa yang mempunyai peradaban tersohor. Bangsa Lydia menggunakan sebuah bahasa Eropa dan hidup di Anatolia sesudah kira-kira tahun 2000 SM. Mereka membentuk sebuah kerajaan mungil di bawah pemerintahan dinasti Mermnadae yang bermula pada abad ke-7 SM, tetapi pada puncak kejayaannya sekalipun kerajaan Lydia tidak lebih dari sebuah negara-kota yang berkembang dari Sardis. Raja-raja Lydia tidak diagungkan dalam mitos atau lagu-lagu sebagai : prajurit; penakluk; dan pembangun besar (bahkan, sebagai pencinta pun tidak). Nama-nama dinasti dan para raja Lydia, hanya diketahui berkat tablet Hittite dan buku-buku sejarawan Yunani Herodotus (tetapi Cuma satu nama Lydia kuno yang banyak dikenal, yakni : Croesus).
“Se-kaya Croesus” adalah ungkapan dalam bahasa Inggris; Turki modern; dan bahasa-bahasa lain di seluruh dunia.
Croesus menduduki takhta Lydia pada 560 SM untuk memerintah kerajaan yang sudah kaya. Para pendahulunya sudah membangun fondasi kokoh bagi kemakmuran kerajaan dengan memproduksi sebagian parfum dan kosmetik terbaik di dunia kuno, tetapi barang-barang itu saja tidak bakalan sanggup melambungkan Croesus ke jenjang kekayaan yang dilekatkan mitos kepada dirinya. Untuk mencapai itu, ia mengandalkan penemuan lain para leluhurnya (yakni : koin, sebuah bentuk uang yang baru dan revolusioner).
Sesuatu yang mirip uang dan sesuatu yang menyerupai pasar dapat dijumpai di Mesopotamia; Cina; Mesir; dan banyak tempat di belahan lain dunia, tetapi tak satu pun yang benar-benar menggunakan koin sebelum munculnya Lydia dan pencetakan koin pertama antara 640 dan 630 SM. Kejeniusan raja-raja Lydia terlihat dalam kesadaran mereka akan perlunya batangan-batangan yang sangat kecil dan mudah diangkut yang nilainya tak lebih dari beberapa hari kerja atau sebagian kecil dari panenan petani. Dengan menciptakan batangan-batangan kecil dalam ukuran dan berat yang dibakukan tersebut, dan dengan membubuhkan sebuah emblem pada batangan yang mengukuhkan nilainya (bahkan bagi orang yang buta huruf pun), maka raja-raja Lydia dengan cepat mengembangkan peluang-peluang bagi usaha perdagangan.
Bangsa Lydia membuat koin pertama dari elektrum (campuran emas dan perak yang terjadi secara alamiah), mereka memotong-motong elektrum menjadi bulatan-bulatan oval yang beberapa kali lebih tebal daripada koin modern (atau kira-kira seukuran ruas akhir ibu jari orang dewasa). Guna menjamin keautentikannya, raja memerintahkan tiap koin dicap dengan emblem kepala singa. Pengecapan itu juga berfungsi meratakan bulatan, mengawali transisi dari koin bungkal oval menjadi sekeping koin datar melingkar.

Dengan menjadikan bungkalan itu berbobot sama (berukuran kurang lebih sama), raja melenyapkan salah satu langkah yang paling memakan waktu dalam jual beli, yakni : keharusan menimbang emas setiap kali transaksi dilakukan. Kini, pedagang dapat menaksir nilainya dari keterangan yang diberikan atau cukup dengan menghitung jumlah koin. Standardisasi demikian sangat membatasi peluang terjadinya kecurangan menyangkut jumlah serta kualitas emas dan perak dalam jual beli. Orang tidak perlu menjadi ahli dalam menangani timbangan atau dalam menilai kemurnian logam untuk membeli sekeranjang gandum; sepasang sandal; atau satu amphora minyak zaitun, karena mereka percaya dengan koin yang sudah ditimbang dan dicap di bengkel kerajaan.
Semasa memerintah (560 – 546 SM), Croesus menciptakan koin-koin yang baru dari emas dan perak (bukannya elektrum). Menggunakan koin-koin yang baru diciptakan sebagai medium jual beli yang dibakukan, dengan cepat memunculkan inovasi lain, yakni : pasar eceran. Bangsa Lydia sudah menjadi bangsa pemilik toko, mereka mengubah dari sekadar jual beli dan barter menjadi perdagangan yang sesungguhnya.
Perdagangan menciptakan kekayaan Croesus yang mencengangkan, ia menggunakan limpahan kekayaannya untuk menaklukan hampir semua kota-kota Yunani di Asia Kecil (termasuk Efesus yang megah). Ambisi Croesus pun meluas, kali ini sasarannya adalah kerajaan besar, yakni : menggempur Persia. Dalam peperangan dahsyat pada 547 – 546 SM, raja Cyrus dari Persia dengan mudah menggilas Croesus dan lantas menuju ibukota Lydia, Sardis.
Dengan ditaklukannya Lydia oleh raja Cyrus, maka kekuasaan Croesus berakhir. Dinasti Mermnadea menemui ajalnya, sedangkan kerajaan Lydia menghilang dari lembaran sejarah. Sekalipun kerajaan Lydia tidak pernah bangkit lagi, namun pengaruhnya sangat luas bagi dunia. Banyak bangsa tetangga yang mengadopsi dengan cepat praktik pembuatan koin Lydia dan kemudian menyebarkan revolusi perdagangan di seluruh dunia Mediterania (utamanya, di tetangga terdekat Lydia, yakni : Yunani).









Mugia aya manfaatna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar